Jadilah Penulis Arogan

Di tengah kemajuan teknologi dan perkembangan dunia kepenulisan yang semakin pesat, siapa saja bisa menjadi penulis. Catat ini baik-baik; SIAPA SAJA! Ini artinya persaingan semakin ketat dan orang-orang yang terlibat di dalamnya pun semakin banyak. Menjamurnya komunitas-komunitas berbasis penulisan, berserakannya pelatihan-pelatihan menulis baik yang gratis maupun berbayar, dan semakin mudahnya akses ke media (online dan cetak), menjadikan profesi seorang penulis tidak lagi esklusif. Hukum yang berlaku di sini sama halnya dengan yang berlaku di bidang lain, yaitu hukum rimba; siapa yang kuat maka dia yang akan bertahan. Tapi jangan salah sangka, itu bukan berarti Anda harus ‘menghajar musuh-musuh’ Anda dengan cara apa pun, melainkan Anda harus siap bertarung dan bertahan di medan paling terjal sekalipun. 

Setiap penulis boleh mengaku sebagai penulis pemula, setiap penulis berhak untuk bersikap seperti penulis pemula. Namun ketika menghasilkan karya, Anda tetap harus berlaku profesional. Profesionalitas tidak diukur dari jam terbang, profesionalitas tidak diukur dari seberapa banyak penulis senior yang Anda kenal. Profesionalitas diukur dari PRODUKTIVITAS dan KUALITAS karya Anda.


Salah satu yang membedakan seorang profesional dengan pemula juga bisa dilihat dari cara dia memperlakukan karya-karyanya. Seorang pemula akan mengambil target serendah-rendahnya sedangkan seorang profesional sebaliknya, dia akan mengambil memasang target setinggi-tingginya. Target itu pun setiap saat beranjak naik, bukan stagnan apalagi menurun. Sebuah karya bukan hanya deretan huruf dan angka di atas kertas atau di dalam berkas, karya adalah hasil pemikiran Anda. Anak-anak yang dihasilkan dari begitu banyak waktu, tenaga, ingatan, dan pemikiran yang terbuang. Maka ketika Anda memperlakukan karya Anda secara sembarang, anak-anak itu akan tumbuh menjadi kurang makan, kumal, bahkan mati mengenaskan. 

Saya berikan ilustrasi. Dulu, di awal-awal tahun 2011 ketika saya mulai efektif menulis cerpen, nyaris semua cerpen saya diposting di sebuah web keroyokan yang notabene tidak dibayar. Waktu itu saya berpikir bahwa karya saya  dibaca saja sudah syukur. Memang, cerpen saya banyak dibaca orang, beberapa mengagumi dan sampai sekarang menjadi semacam ‘stalker’ karya-karya saya. Memang, cerpen saya dikomentari, tapi apakah saya lantas mendapatkan timbal balik yang cukup? Pemikiran saya itu kemudian dimentahkan oleh perkataan seorang teman. Dia bilang bahwa cerpen-cerpen saya lebih pantas nampang di koran atau majalah daripada hanya dimuat di web keroyokan dengan para komentator yang hanya bisa bilang; ‘keren’, atau ‘aku suka cerpenmu’, atau ‘bagus’. 

Saya pun melakukan sarannya, berhenti menulis hanya untuk kepuasan semu. Dari situ saya sadar bahwa cara saya memperlakukan karya saya sendiri menentukan timbal balik seperti apa yang akan saya dapatkan kelak. Jadi ketika Anda menghasilkan karya, maka pasanglah standar akan ke mana karya Anda dilarungkan. Jika Anda masih berpikiran ada yang baca saja sudah syukur, berhentilah terobsesi menjadi penulis. 

One Comment

  1. November 27, 2013 at 6:50 pm

    Terimakasih atas saranya.

Leave a Reply