Judul      : Jam Malam Kota Merah
Penulis   : Toni Lesmana
Penerbit : Amper Media, Februari 2012
Sampul  : Mardi Luhung
Tebal     : xii + 112
ISBN    : 978-602-9415-33-9
Harga    : Rp 45,000,-

Membaca cerpen-cerpen Toni Lesmana seperti diceburkan ke negeri antah-berantah pada dini hari sunyi dalam keadaan telanjang, ‘dipaksa’ dirajam dingin dan menggigil bersama tokoh aku. Tema-tema yang diangkat Toni memang general, tentang reformasi (yang disamarkan dengan revolusi), serbuan berita televisi, pencarian Tuhan, keyakinan, kematian, dan tentu saja cinta. Namun di tangan seorang Toni, tema-tema tersebut dikisahkan dengan amat lancar tanpa terbata-bata seolah-olah semua cerita memiliki tangan sendiri dan peran penulis hanyalah sebagai figuran atau sutradara tempelan. 


Surealis sadis. Itu kesan pertama yang saya dapat ketika membaca cerpen pertama dalam kumcer ini; Aku dan Revolusi. Ketiga belas cerpen di kumcer ini juga memiliki warna yang sama, sehingga saya sempat berpikir bahwa semua tokoh aku memang betul-betul sakit jiwa karena tokoh aku begitu ‘racau’ dalam bercerita dan membiarkan pembaca terbengong-bengong dengan petualangan yang ia bawa. 

Dini hari. Orang-orang barangkali sedang memasuki mimpi yang paling ranum. Atau mungkin sedang merasuk jauh dalam khusyuk. Aku masih saja berjalan-jalan sendiri dalam rumah. Seperti cicak di dinding yang tak bisa diam. Aku telah memasuki seluruh ruang dalam rumahku. Bahkan sepertinya aku juga telah masuk ke dalam jam dinding yang sesekali dipakai tempat bersembunyi oleh cicak.
(Perjalanan Dini Hari-Hal 68)

Sungguh, sukar membayangkan secara harafiah ada manusia yang masuk ke dalam jam dinding dan berlaku seperti cicak. Di sinilah letak kepiawaian imaji seorang Toni. Setahu saya, Toni berangkat menulis dari puisi, barangkali itulah yang menyebabkan diksi-diksi yang ia pilih berkesan matang, kadang sedikit menantang. Bagi para cerpenis, sukar memadukan tema, konflik, dan alur dengan pemilihan kata yang tepat. Sering kali cerpenis dikerangkeng cerita yang mereka buat sendiri, dan saya tidak menemukan itu dalam cerpen-cerpen Toni. 

Membaca kumcer ini seperti membaca bundel cerpen-cerpen terbaik yang dimuat di surat kabar karena sungguh, saya jarang sekali menemukan perpaduan tema dan gaya penuturan yang begitu memukau selain cerpen-cerpennya Teguh Winarsho dalam kumcer Tato Naga dan Insial S. Salah kalau ada yang pernah mengatakan bahwa cerpen-cerpen yang ditulis Toni hanya cocok bagi para penggemar dan yang mengerti sastra. Toh, sebuah karya ada untuk dinikmati, bukan hanya untuk dijadikan beban dengan kening berkerut dan bibir mengerucut. 
Dari segi perwajahan, kumcer ini tidak begitu wah. Tapi sampul karya Mardi Luhung ini betul-betul menggenapkan keseluruhan isi cerita. Pun tata letak dibuat tanpa spasi yang begitu rapat sehingga tidak membuat mata pembaca cepat lelah. 

Jam Malam Kota Merah memang tidak membawa warna pembaharuan dalam kesusastraan Indonesia, namun kehadiran kumcer-kumcer dengan kualitas seperti ini tentu membawa angin segar di tengah gempuran buku-buku antologi keroyokan yang hanya mengandalkan kuantitas daripada kualitas. 




Leave a Reply