Jangan Bersedih, Hujan Sebentar Lagi Datang

Masih ingatkah Sa, ketika hujan berderai di penghujung senja dan kita berdua berdansa di bawahnya? Tepat di bawah lengkungan langit aku menengadahkan tangan, seperti talang yang mengantar tempias ke pelimbahan.
“Jangan begitu, ini hujan pertama sepanjang musim. Air dan debu akan menikam tubuhmu,” katamu sambil melepas jaket dan menudungkannya ke atas kepalaku.
Aku mengerling, pura-pura tak setuju dengan ceramah ekologi (atau biologi?)-mu, padahal saat itu diam-diam aku melirik restoran Padang dengan perut keroncongan. Tapi kita terus berderap, berjinjit-jinjit menghindari air membasuh sepatu kita, walau setelahnya sepatu kita tetap bercampur debu dan lumpur.
“Aku suka hujan,” ucapku dengan senyum masih tertanam. “Sebab hujan selalu mengingatkanku pada Tuhan,” tambahku di dalam hati.
Engkau diam, tak balas berkomentar. Mungkin engkau sedang bertualang ke hujan yang lain, pada masa yang lain. Aku melirik wajahmu yang masih menerawang, dadaku seketika gamang.
Aku tak dapat mengingat, berapa kali kita bermandi hujan di langit yang sama, pada saat yang sama. Ah mungkin waktu itu, ketika gerimis tanpa malu bertandang padahal aku baru saja datang, kamarmu seketika berbau tempias. Kapankah itu? Setahun, dua tahun, sebulan, dua bulan? Waktu menyusut dan memuai di dalam botol pasirku, Sa.
Yang jelas, aku dapat melihat kesedihan sekaligus kegetiran ketika musim kemarau begitu lama menjerang. Ada hujan yang kau rindukan, semoga itu hujan ketika bersamaku. Sebab aku, belum siap mengarungi dingin tanpamu.


Leave a Reply