Jangan Mau Jadi Blogger Karbitan

Bukan sekali dua kali ada blogger baru yang curhat ke Mamah Dedeh, eh, ke saya soal monetisasi blog. Konon, banyak blogger senior yang memberikan saran agar para blogger baru jangan dulu fokus ke monetisasi, melainkan fokus dulu ke kualitas konten. Beberapa blogger baru menerima saran ini dengan lapang dada, beberapa justru sebaliknya. Sebagai blogger setengah senior (saya mulai ngeblog tahun 2009, tapi baru monetisasi akhir tahun 2015) saya kira ada baiknya kalau menengahi polemik ini agar tidak berkepanjangan hingga berakhir “I’ll call your dad” cakar-cakaran.

Apa yang dikatakan oleh para blogger senior itu memang benar, monetisasi blog memang terlihat menggiurkan, terlihat mudah di permukaan, tapi sesungguhnya tidak semudah itu. Ada proses panjang yang harus kita lalui. Ini bukan tentang “rezeki itu di tangan Tuhan”, juga bukan tentang persaingan, sama sekali bukan. Percaya sama saya, apa yang dikatakan blogger senior itu adalah untuk kebaikan Anda sendiri agar Anda tidak jadi blogger karbitan. Tahu, kan, buah karbitan? Buah yang dipaksa matang dengan proses yang tidak alami tentu berbeda rasanya dengan buah yang matang di pohon. Begitu juga dengan blogger. Blogger yang berproses tentu berbeda dengan blogger yang baru kemarin bisa nulis tapi buru-buru ingin jadi duit.

Ada beberapa nasihat yang ingin saya berikan untuk Anda para blogger baru terkait monetisasi blog:

1. KUALITAS TULISAN

For your information, blogger adalah penulis sekaligus jurnalis. Dan di dalam dunia kepenulisan, ada kaidah-kaidah yang tidak bisa begitu saja kita langgar. Tata bahasa, misalnya. Anda tidak paham ejaan lalu memutuskan jadi blogger dan curhat-curhat asyik, silakan. Tapi berbeda masalahnya kalau cara menulis yang baik dan benar saja Anda belum paham lalu sok-sokan menerima sponsored post.

“Aduh, Teh, saya memang sengaja tidak memakai ejaan baku biar tidak kaku.”
“Nggg … gimana, ya, ejaan itu, kan, disesuaikan dengan kepribadian penulisnya.”
“Ah, blogger tidak harus paham ejaan, kok. Ini kan blog, bukan portal berita.”

Familiar dengan tiga kalimat di atas? Tiga kalimat inilah yang kerap kali dikatakan oleh para blogger ketika disinggung soal tata bahasa. Kalimat yang sering diamini oleh blogger lain, yang seakan-akan menjadi pembenaran padahal barangkali orang-orang ini memang tidak paham.

Merasa tersinggung? Tidak apa-apa, saya memang sengaja, kok. Sini, Dek, Teteh pukpukin. *ealah

Karena saya berangkat dari sastra konvensional yang notabene ketat soal tata bahasa, saya justru lebih tersinggung ketika ada blogger yang mengatakan bahwa untuk menulis di blog seorang blogger tidak perlu paham soal ejaan. Blogger itu penulis, Sayang. Dan seorang penulis tentu harus paham mengenai teknis penulisan, bukan? Jadi, mari Teteh puk puk … eh, mari kita ngobrol sebentar soal ejaan.

APA ITU EJAAN?

Yang dimaksud ejaan di sini adalah kaidah penggunaan bahasa Indonesia, tanda baca, dan tata bahasa lainnya. Ejaan merujuk kepada dua “kitab suci”, yaitu Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Karena bahasa bersifat dinamis, kedua kitab suci ini sesekali mengalami revisi. Yang terbaru adalah KBBI dan PUEBI 2016. Jadi, kalau Anda masih menggunakan ejaan yang salah karena merujuk kepada kamus entah tahun berapa dan MASIH NGOTOT, gelut weh yu.

KBBI DARING

UNDUH PUEBI TERBARU

GAYA BERTUTUR

Nah, yang dimaksud oleh para blogger seperti 3 contoh kalimat di atas adalah gaya bertutur, bukan ejaan. Ini dua hal yang berbeda. Untuk lebih jelasnya, saya akan memplagiat mengutip pengertian gaya bertutur menurut Uni Novia Syahidah.

Jadi apa sih gaya bertutur itu? Sederhananya, gaya bertutur adalah gaya kita menyampaikan sebuah topik baik itu cerita, opini, berita dan sebagainya. Seni menyampaikannya itulah yang disebut gaya bertutur. Santai, serius, humoris, adalah label yang biasa disematkan pada gaya bertutur tersebut.

Masih bingung? Mari saya berikan contoh:

  • Blogger A menyebut dirinya dengan “saya” dan pembacanya dengan panggilan “Anda”, sedangkan blogger B menyebut dirinya “aku” dan memanggil pembacanya dengan “kamu” ==> ini namanya gaya bertutur.
  • Atau coba bedakan tulisan Larasanti Neisia dengan Nahla a.k.a Halo Terong. Keduanya sama-sama beauty blogger, membahas make up dan printilannya. Tapi, cara mereka menyampaikan ulasan tentu berbeda. Nah, itu namanya gaya bertutur.

2. JAM TERBANG

Pengalaman akan mematangkan pemahaman. Semakin lama Anda bergelut di suatu bidang, akan semakin banyak pula hal-hal yang Anda pahami di bidang tersebut. Banyak tip dan trik yang akan sangat berguna ketika Anda memutuskan untuk monetisasi, sayangnya tidak semua didapatkan dari buku atau web, melainkan dari pengalaman. Ini yang membedakan antara blogger lama dengan blogger baru.

Lah, masang Google Analytics di blog aja masih gagap, kenapa begitu tinggi hati mau monetisasi? FYI, GA adalah parameter statistik blog standar internasional. Blogger yang memang serius mau monetisasi harus sudah paham tentang ini.

Kenapa? Pundung? Tersinggung? Makanya, belajar, bukannya baper. *anjir galak euy si Teteh

3. SKILL

Untuk bisa menghasilkan uang dari blog, apakah hanya perlu bisa menulis? ENGGAK. Anda juga harus punya keahlian lain. Fotografi, misalnya. Desain? Koding? Whatever suits you, yang jelas monetisasi itu adalah jualan, dan mereka yang memiliki “barang dagangan” berkualitas tentu akan lebih disukai pembeli atau brand.

Saya kasih contoh lagi ya. Misalnya, ada penawaran content placement. Sebelum dipublikasikan, Anda tentu harus membaca isi artikel terlebih dahulu, memeriksa dan mengoreksi apabila ada tata bahasa yang tidak tepat, juga menyesuaikan dengan gaya bertutur Anda. Kalau Anda tidak punya keahlian tata bahasa atau ejaan, bagaimana Anda melakukan itu?

Atau troubleshooting sederhana yang berkaitan dengan blog aja dulu, deh, enggak usah jauh-jauh ngedit kode CSS atau HTML. Sudah tahu cara membuat dan memasang menu navigasi di blog? Belum? Enggak usah dulu lah sok-sokan pengen monetisasi. Sudah paham bahwa “kategori” di WordPress dan “label” di Blogspot itu adalah makhluk yang sama? Sudah tahu bahwa di Blogspot “label” SAMA DENGAN “tag”, sedangkan di WP “kategori” dan “tag” adalah dua fitur yang berbeda? Belum?

Referensi: Kategori dan Label Blog: What & How

4. RATECARD & BARGAINING POWER

Banyak kasus brand yang membayar hanya 5-25 ribu rupiah untuk satu artikel. Anda pikir kenapa itu masih terjadi hingga hari ini? Karena masih ada yang mau. Karena banyak blogger dan content writer baru yang mau dibayar murah. Karena blogger-blogger karbitan ini tidak punya hak tawar atau bargaining power. Ya siapa sih yang mau bayar mahal penulis yang menulis kata “Anda” saja masih huruf kecil semua? Iya, “Anda” itu harusnya ditulis dengan “A” kapital baik itu diletakkan di awal maupun di tengah kalimat.

Jadi, balik lagi kepada 3 poin di atas. Kalau misalnya Anda merasa belum punya keahlian yang memadai, tahan aja dulu. Jangan sampai malah menurunkan UMK blogger.

“Tapi kan sambil jalan, Teh. Sambil belajar sambil nyari uang.”

Ya, silakan. Itu hak Anda. Tapi enggak usah tersinggung atau ngotot kalau ada senior yang menegur.

Referensi: Cara Menentukan Ratecard

5. ATTITUDE

Ini poin yang akan terus ada apa pun yang sedang saya bahas. Attitude memang tidak tergantung kepada berapa lama Anda bergerak di bidang ini, melainkan tergantung kepada karakter Anda sendiri. Tapi, attitude bisa, kok, diukur dengan parameter yang lebih konkret.

Contoh:

  • Jangan datang ke event blogger kalau tidak diundang.
  • Kalau mau bawa anak atau keluarga lain, konfirmasi dulu ke panitia, tanya boleh atau tidak.
  • Kalau blogger lain membagikan postingan advertorial, ndak usah komen, “Ini iklan, ya?”

Attitude juga berhubungan dengan etika dan profesionalitas. Misalnya, seharusnya Anda post content placement pada hari A, tapi pas hari A Anda minta pengunduran jadwal karena anak enggak ada yang nitip lah, enggak ada akses internet lah, apalah. Ya, brand mana mau tahu yang kayak gitu-gitu?

Referensi: Etika Buzzer

Oh, ada satu tip lagi, kalau ada blogger yang bilang, “Ah, saya juga baru belajar nulis enam bulan lalu, belum paham ejaan, enggak bisa ganti template, tapi banyak kok yang ngasih sponsored post.” Tolong diabaikan saja. Itu bukan motivasi, itu mencelakakan.

Yang paling betul adalah, berproseslah. Nikmati masa-masa belajarnya. Hargai diri Anda sendiri dan bekali dengan kemampuan agar ketika Anda memutuskan untuk monetisasi, Anda memang betul-betul sudah siap. Jangan khawatir, meskipun putus-nyambung, kalau jodoh mah pasti dilamar, kok. *eh

Cheers,
~eL

 

36 thoughts on “Jangan Mau Jadi Blogger Karbitan

  1. Menyegarkan.. Terimakasih sharingnya teh..

Leave a Reply

%d bloggers like this: