Sebenarnya saya agak ragu membahas topik ini. Karena memang bukan ahli. Namun, karena dorongan di hati, dan gedoran di jiwa, akhirnya saya memberanikan diri. Saya memang bukan ahli, hanya berusaha mengumpulkan potongan-potongan hikmah yang saya baca. Kemudian menyuguhkan keprihatinan itu melalui tulisan ini.

Jilbabnya kok gedhe banget, sih? Bisa dipake selimut tuh, Chan.” komentar seperti itu seringkali terdengar. Atau komentar-komentar lain yang bernada biasa, heran, bahkan sampai pada tahap mencibir.

Saya sempat menangis ketika ada nyeletuk begini; “Jilbabnya segede itu, warna item lagi. Hiy…kayak teroris!” Nah,lho. Semoga saja yang berkata seperti itu memang tidak tahu.

Kadang merasa heran. Banyak yang jengah melihat perempuan yang rapat menutup aurat, tapi cuek bila melihat [maaf] dada dan pinggul berseliweran di tengah-tengah kita. Apa sih yang sedang terjadi pada dunia?

YANG SAYA TAHU TENTANG ITU
Hijab menurut bahasa adalah segala sesuatu yang menutupi -bahasan selanjutnya silakan buka kitab fiqih-. Jilbab adalah salah satu yang bisa men-hijab-i. 150 cm! Atau 130 cm,minimal 115cm lah. Supaya bisa menutup apa yang harus ditutupi.

Pakaian wanita dilihat dari warnanya, sedangkan laki-laki dicium dari baunya. So, emang sah-sah aja memakai jilbab warna-warni. Merah,kuning,hijau,biru,putih,hitam,kelabu. Boleh juga memakai berbagai macam motif. Ada yang kotak-kotak, bunga-bunga, polkadot, garis-garis, atau motif macan tutul jika Anda tega disebut tukang jagal (^_^). Tapi semua kembali kepada kaidah awal, yaitu esensi jilbab itu tadi. Nyar’i. Mengenai warna, saya percaya bahwa hal itu kembali ke selera masing-masing. (P.S: saya suka warna ungu).

Yang menjadi masalah adalah ketika ada oknum-oknum bermulut jahat yang malah mengendurkan semangat untuk berjilbab. Yah, termasuk komentar-komentar pedes seperti di atas tadi. Jadi, bair tahu harga ya! Nggak ada larangan untuk pake jilbab sesuai warna selera. (!_!) kebetulan aja saya selalu beli yang warna item, jadi kesannya syerem.

PELANGI SIH PELANGI, TAPI…

Sekali lagi, semua kembali ke masalah selera. Tapi jangan mentang-mentang boleh pake jilbab warna apa aja, malah kebablasan bereksperimen. Hindari deh warna-warna yang berani mati, apalagi dengan motif ‘pasar kaget’. Yah, itu hanya untuk menghindari ada orang yang kecebur got atau nabrak tiang listrik gara-gara silau melihat jilbab Anda.

Seorang muslimah harus bisa matching-in apa yang dia pakai. Saya jadi ingat dengan komentar beberapa orang, “Bajunya ite, jilbabnya item, manset ma kaos kakinya juga item. Mukanya juga item, yang kelihatan gigi doang!” lalu mereka tertawa. Dikomentari seperti itu, tanduk dan taring saya sempat mau keluar. Untung nggak jadi, berhubung saya memang nggak punya tanduk dan taring. (^_^)

Kalau teman saya dikomentari seperti itu, mungkin dia bakalan ngeluarin perbendaharaan riyadus shalihin-nya. Bahkan teman saya yang lain lebih ngeri lagi, hujjah-hujjah nya tentang jilbab sampe cadar mantab (pake b biar medok) punya, bow! Saya? Nggak, saya nggak pake hadits. Karena kebetulan saya suka bercanda, jadi saya jawab aja begini; “Lha, kan jubahnya item, jadi semuanya juga harus item, atuh. Kalo saya pake jilbab merah, jubah ijo, trus kaos kaki kuning, ntar disangkain lampu merah, dong!”

Karena saya jarang marah bila dikomentari, kadang ada yang ngelunjak. Nyuruh pake warna lain biar nggak syerem, katanya. Sekali lagi saya cuma tertawa, “Nggak ah, takut banyak yang naksir!” Mmmhh…jadi narcist nih.

Well, semuanya kembali ke selera masing-masing, ok!

GARA-GARA TERORIS

Akhirnya… kalimat ini keluar juga; “JANGAN PANGGIL AKU TERORIS”

Saya nggak tahu darimana mereka dapat julukan seperti itu. Emangnya teroris harus pake baju item-item ya? Peraturan dari mana tuh? Ada SOP-nya nggak? Ada kok yang pakai dasi, jas, bahkan pakai Roles Royce kemana-mana.

Plizzz..deh! Saya harap komentar-komentar itu nggak beredar lagi. Ukhti, bagi Anda yang merasa terdzollimi dengan kata-kata seperti itu, silakan lapor ke saya. Nanti saya laporkan ke komnas HAM. Berat,man!

Sedih sih…Mungkin ini yang dinamakan degradasi moral. Orang-orang mencibir hanya karena gaya berpakaian yang berbeda. Padahal di depan mereka, aurat dipertontonkan dan dieksploitasi atas nama peradaban. Apakah mereka tahu? Bahwa pakaian seorang muslimah yang rapat menutup aurat lah yang disebut pakaian beradab.

Bagi yang tengah gemilang di dalam Hidayah-Nya. Jangan berkecil hati, ini hanya sebentuk lecutan dan ujian atas ke-istiqomahan. Siapa yang kuat menggenggam bara dan tetap berada di jalan lurus, maka janji Allah itu pasti.

Biarlah saya, Anda, kita dipanggil dengan sebutan tak mengenakkan hati dan telinga. Jangan sedih apalagi marah. Doakan saja semoga mereka mendapat Hidayah.

-sky-

artikel ini ditulis di Lobam, 20 April 2007

Leave a Reply