Jangan Urusi Mantan!

“Chan, ajarin gue nulis, dong,” teman saya memohon-mohon.

“Kenapa? Lu kan pegawai kantoran yang lebih melek angka daripada huruf?” tanya saya heran.
“Karena istri mantan gue itu penulis, gue pengen juga jadi penulis,” ia masih memohon-mohon.
“Mantan yang mana? Mantan lu kan banyak,” tanya saya lagi. 
“Mantan selingkuhan gue,” dia berkata dengan ringan seolah-olah sudah memiliki suami lalu berselingkuh sama halnya dengan ganti tempat laundry karena wangi softenernya tidak cocok; seringan dan semudah itu.

====

Oke, postingan di atas hanya intermezo. Saya hanya ingin menunjukkan motivasi menulis paling BEGO. Pada  akhirnya teman saya itu memang gagal jadi penulis karena istri mantannya itu memang hebat, butuh beratus-ratus tahun baginya untuk menyaingi pasangan mantannya. 


Kembali ke motivasi. Seperti yang pernah saya katakan di postingan sebelumnya, motivasi menulis eksternal itu palsu. Yang ada adalah motivasi menulis internal. Itu yang akan menentukan apakah Anda sudah berada di jalan yang benar ataukah justru tersesat terlalu jauh. Sebelum Anda memutuskan untuk menjadi penulis, coba raba apa yang ada di dalam kepala. Benarkah ini jalan yang Anda pilih? Benarkah ini profesi yang ingin Anda jalani? Kalau hanya ingin keren-kerenan, kalau hanya ikut-ikutan kawan, lebih baik berhenti mencoba menulis sekarang juga. Tidak, saya tidak sedang berlaku kejam, saya hanya sedang mencoba menghemat waktu, tenaga, dan pikiran Anda. 

Kalau Anda sudah mencoba tapi tetap tidak menemukan chemistry dengan kata-kata, lalu untuk apa diteruskan? Memilih profesi sebagai penulis sama halnya dengan Anda memilih pacar, jika memang tidak cocok, kenapa harus dipertahankan? Yang akan terjadi jika Anda terlalu memaksakan diri adalah tulisan Anda tidak akan beranjak ke mana-mana, kemajuan pada akhirnya hanya ilusi dan mimpi-mimpi. Anda frustasi, pembaca Anda pun akan lebih frustasi lagi. 

Ada banyak motivasi ketika seseorang memutuskan untuk memilih ‘jalan suci’ sebagai penulis. Ini yang disebut passion. Menyaingi pasangan mantan adalah motivasi paling dangkal, bahkan tolol menurut saya. Karena menjadi penulis bukan seperti membeli makanan di restoran siap saji; Anda pesan, bayar, lalu makanan siap disantap. Menjadi penulis dibutuhkan kemauan dan kemampuan, sama halnya ketika Anda memilih profesi lain. 

Boleh-boleh saja jika Anda memiliki motivasi ‘negatif’ tapi kemudian menemukan pencerahan dan memutuskan serius di dunia kepenulisan. Tapi bagaimana jika motivasi negatif itu justru hanya akan membebani diri Anda sendiri atau tutor kejam seperti saya? Bukankah yang akan Anda dapatkan hanya kesia-siaan dan penghabisan waktu percuma? 

Jadi, sebelum meneruskan langkah Anda di dunia menulis ini, jauhi mantan Anda dan coba tanyakan kepada diri Anda sendiri, apakah ini benar-benar langkah yang ingin Anda jalani?

Salam
~eS

( Writers Provocateur
^^)

Leave a Reply