JIKA SAJA TUHAN ADA

              
Ketika saya mengatakan bahwa saya sudah pernah memamah segala rasa sakit yang mungkin ada di dunia, hal itu mungkin saja benar.  Bukannya saya tidak pernah merasa bahagia, tetapi rasa bahagia itu tidak pernah bertahan lama, selalu saja tergerus arus luka demi luka.  Entah kenapa.
                Yang lebih membuat saya gila adalah bahwa orang-orang yang mendatangkan rasa sakit itu bukan orang lain, bukan orang-orang yang tidak atau belum saya kenal melainkan orang-orang yang paling dekat dengan saya; suami, kekasih, ibu, adik, sahabat.  Mereka manusia-manusia yang seharusnya menghantarkan rasa nyaman, rasa aman, melindungi sekaligus tempat berbagi kasih.  Tapi justru, orang-orang ini lah yang sudah menikamkan pisau paling tajam ke dada saya.

                Saya semakin percaya bahwa ketulusan tidak memiliki aliran darah.  Justru orang-orang yang hanya berstatus sebagai teman atau kenalan lah yang paling banyak membantu, menenangkan, memberi doa, dukungan moril bahkan financial bagi saya ketika saya terlantar. 
                Dengan begini, saya tidak tahu lagi harus mempercayai siapa.  Saya tidak tahu harus berlindung kepada siapa.  Tuhan?  Tapi Tuhan adalah konsep utopis bagi saya saat ini.  Sesuatu yang jauh dari jangkauan kecuali doa-doa yang saya rapal. 
                Tapi sekarang bahkan saya tidak tahu harus merapal doa kepada siapa.  Kepada Tuhan yang mana.  Ketika saya meminta pertolongan pun, saya tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa.  Maka saya diharapkan untuk menolong diri saya sendiri dengan tidak mengharapkan satu pun bantuan dari orang lain.  Karena memang tidak akan ada yang mau menolong.
               

Leave a Reply