JOKER, ADA RANJAU DI SETIAP KATA


Judul : JOKER, Ada Lelucon di Setiap Duka
Penulis : Valiant Budi
Editor : Windy Ariestanty
Penerbit : Gagas Media, 2007
Tebal : viii + 216 halaman
Harga : Rp. 10,000.- (Harga diskon di pameran)


“An$%#g! Gue ditipu!”
Itu komentar aku pas selesai baca novel ini. Ga nyangka. Kayak lagi jalan-jalan di mall sambil ngeliatin baju-baju keren terus ada yang menyeret aku ke toilet dan menginjeksikan cairan hypnosis. Aku pernah baca novel karya Valiant Budi yang satu lagi: BINTANG BUNTING, terus pas baca JOKER sempet mikir gini: akh, yang ini mah biasa, gak spektakuler kayak BINTANG BUNTING. Dan, sekali lagi aku salah menilai penulis satu ini.
Secara, kebiasaan pembaca adalah selalu membaca bagian belakang buku yang berisi sinopsis dan endorsement dulu sebelum mulai membaca ‘buku yang sebenarnya’. Alhasil, otak kita udah kena doktrin duluan, udah punya ekspektasi duluan. Padahal dalam JOKER, sinopsis dan endorsement-endorsement itu sama sekali gak nyambung ama isi novel.
Valiant itu penulis cerdas yang pandai menebar ranjau dalam jalinan aksaranya. Lupakan deh tentang novel thriller, buang deh cerita-cerita detektif atau konspirasi dan taik-taiknya. JOKER penuh kejutan, dan percaya sama aku, kalian juga akan merasa ditipu.
Review ini memang sepenuhnya berisi pujian, meski aku lebih senang menyampaikan ini pada penulisnya: sialan, lu. Lu bikin gue terlena di bab-bab pertama terus lu lempar granat ke muka gue.
Hahaha…

Valiant juga penulis yang karyanya masuk nominasi KLA, dengan kata lain karyanya berkualitas. Meski ni ya, ga ada tuh yang namanya muatan lokal yang klise di dua novel Valiant yang aku baca. You know lah, kadang-kadang para petinggi sastra selalu men-judge bahwa tulisan yang berkualitas itu adalah yang berbau lokalitas. Apa itu lokalitas? Apa bedanya dengan mulok alias muatan lokal? Kagak ngerti akh. Nah, JOKER malah mengusung setting kota besar seperti Bandung. Tokohnya sendiri bukan tukang becak atau pemulung, meski tetap kelas pekerja. Mereka pake mobil, tinggal di tempat kost berharga 1,5 juta per bulan (busyet!), nongkrong di kafe, keluar masuk klub malam, memilih ciwalk sebagai tempat jalan-jalan (di ciwalk harga barangnya mahal-mahal), dan mereka berprofesi sebagai penyiar. For your information, penyiar radio anak muda di Bandung tuh termasuk selebriti dan ikon gaul gitu.

ISU MINORITAS!
Akhirnya aku menemukan frase ini di kepalaku ketika selesai membaca. Atau bisa dibilang bahwa Valiant mengawinkan isu minoritas itu dengan penyakit kronis yang ibarat wabah sering menikam kita dari belakang.
Kelemahannya? Banyak pertanyaan retoris di akhir bab. Atau bukan? (Nah kan, jadi ketularan deh). Pertama-tama sih asyik-asyik aja karena kita serasa diajak untuk mempertanyakan dan menertawakan ketidaktahuan, ketidakjelasan, dan kebodohan kita sendiri. Tapi kalau kebanyakan, over dosis itu lebih parah rasanya daripada hang over sehabis menengak Jack D lima gentong, cuy! So, jangan sampai aku kena mabok retorisasi ya, Be. J
Terus cara Valiant mendeskripsikan Bandung juga bagi aku mah agak lebay. Abisnya, yang disoroti tuh cuaca Bandung yang sejuk, pohon-pohon yang teduh dan rindang, senyum para penghuninya yang tulus. Padahal nih, Bandung macet gila dan panas gila. Terus senyum tulus para penghuninya juga udah kena abrasi industrialisasi. Ya, namanya juga novel. Novel ya fiksi. Fiksi itu ya nggak harus sesuai dengan kenyataan kan? (Oke, Valiant… kalau lu sakit hati dengan kritik GJ gue, lu tahu dimana harus cari gue dan melampiaskan dendam kesumat lu. Hahaha…)
INI BUKAN ENDORSEMENT!
So, bagi kalian yang suka baca novel yang unusual, baca deh JOKER. Ceritanya beneran terasa dekat sekaligus jauh (GJ banget nih, gue).
Dan untuk mempersingkat acara review ini, ijinkan aku memilihkan satu kata untuk mewakili novel ini: AWESOME.
Happy hunting this book, reading, and enjoy your brain travelling, guys J
Bandung, 13 Pebruari 2010

One Comment

  1. Anonymous-Reply
    April 15, 2011 at 12:42 pm

    emang bagus kok.. gw juga punya bukunya

Leave a Reply