Kabar-Kabar Kematian

Aku tak berani mengatakan ‘Jangan bersedih, dunia akan baik-baik saja’. Sebab barangkali dalam kehilanganmu kali ini, segala macam penghiburan hanyalah omong kosong yang tak akan menghasilkan apa-apa selain ucapan yang dilontarkan kemudian dilupakan. Tak ada satupun orang yang bisa merasakan dengan tepat bagaimana sakitmu, tidak juga aku.

Di dunia kita yang terjal, segala macam kehilangan pernah mampir di beranda dada kita masing-masing. Kita berdua adalah dua batang pohon yang tumbuh di atas tanah timpang. Kita harus bersiap kehilangan akar, kehilangan ranting, kehilangan daun, kehilangan buah, bahkan kehilangan tubuh kita sendiri. Pada akhirnya, semua proses bernama kematian hanya akan jadi ritual dan membuat kita kebal. 



Seperti yang kita pahami bersama, semua yang bernyawa akan merasakan tiada. Hari ini orang-orang yang kita cintai pergi, esok mungkin giliran kita yang pergi. Bukankah mati adalah kata yang tidak bisa kita tawar-tawar lagi? 


Barangkali aku tahu bagaimana sakitmu kali ini, barangkali juga tidak. Entahlah, karena kesedihan yang satu tidak pernah memiliki warna yang persis sama dengan kesedihan lainnya. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau pernah mengalami berjuta hal dan tetap berdiri bagai pohon ketapang yang nakal; tetap tumbuh dari musim ke musim meski meranggas sedemikian buas. Seperti itulah kau sekarang, berdiri dan tetap tak tertumbangkan. 


Andai satu pelukan bisa meredakan satu kesakitan akibat ditinggalkan, maka akan kukirimkan pelukan dalam jumlah tak terbatas. Sebutkan saja jumlahnya, maka akan kusediakan dengan senang hati. 


Menangislah jika kau ingin. Bersedihlah sebanyak dan selama kauperlukan. Tapi yang paling penting dari semua itu, kemudian berdirilah gegap dan tegap. 


Leave a Reply