Kaki dan Tangan Kiri untuk Ibu


Setiap kali melihatnya berjalan terpincang-pincang dengan tangan kiri tergantung kaku, dada saya terasa nyeri. Ketika ada suara barang pecah di dapur yang diikuti suara “plak”, biasanya saya akan menengadah, mencegah air mata yang mungkin saja buncah. Saya tahu, suara “plak” itu berasal dari tangan kanan yang menampar tangan kirinya sendiri. 

Perempuan ini bukan perempuan yang saya kenal dulu. Perempuan yang dengan cekatan membuat gorengan dan es teh manis untuk saya jajakan ke warung-warung. Perempuan dengan rambut berwarna burgundy yang lincah, cantik, memiliki selera fesyen tinggi. Perempuan yang tahan bergerilya dari pasar ke pasar untuk berbelanja baju-baju pesanan, salah satu wirausahawan paling ulet yang pernah saya kenal.   

Stroke ringan merenggut tangan dan kaki kirinya sejak sembilan tahun lalu. Mengubahnya menjadi perempuan yang nyaris tak berdaya. Perempuan yang tampak jauh lebih tua dari usia aslinya. 

Dalam beberapa hal, saya tidak pernah “berdamai” dengan Ibu. Selalu saja ada hal yang menjadi pertentangan di antara kami. Mulai dari selera berpakaian sampai tahlilan. Mulai dari pilihan pekerjaan sampai pasangan. Tapi melihatnya sakit dan menua mau tak mau membuat saya dirajam-rajam rasa sedih.

Sejak saya pulang dari perantauan lima tahun lalu, Ibu selalu mengatakan hal yang sama, “Teh, antar Ibu berobat.” Bagi orang lain mungkin itu permintaan sederhana. Tapi bagi saya dan kedua anaknya yang lain, permintaan itu berarti biaya: sesuatu yang tidak bisa kami tanggung sepenuhnya. 

Bapak hanya buruh bangunan, gaji yang Bapak dapatkan hanya cukup untuk biaya makan sehari-hari. Biaya pengobatan Ibu adalah tanggung jawab kami. Saya orang tua tunggal yang tidak memiliki gaji bulanan, adik perempuan saya sudah berkeluarga dan tidak lagi bekerja, sedangkan adik bungsu saya juga pekerja bangunan. Biaya pengobatan Ibu adalah hal kesekian yang sempat kami pikirkan.

Dua tahun lalu saya ngekos di Cimahi, dua minggu sekali Ibu dan putri sulung saya datang. Setiap kali itu pula Ibu bercerita tentang tempat berobat yang ia dengar dari orang-orang. Saya dan adik selalu melarang jika Ibu ingin berobat ke pengobatan alternatif karena stroke membutuhkan perawatan yang intensif. Lagi pula, sudah berkali-kali Ibu berobat tapi tidak pernah menuai hasil. Mungkin karena Ibu hanya melakukannya sekali dua kali. Mungkin karena kurang biaya. Mungkin karena hal-hal lainnya. 

Kabar gembira datang dalam bentuk asuransi kesehatan dari pemerintah. Adik perempuan sayalah yang bertugas mengurusi proses pengajuan dan administrasi. Sebagai anak sulung, tugas saya adalah menembus birokrasi puskesmas dan rumah sakit serta menemani Ibu berobat. 

Kami sudah mencoba beberapa bulan lalu, tapi birokrasi rumah sakit terlalu pelik. Paman dan bibi saya sudah menganjurkan untuk mengambil jalur umum, sayangnya biaya yang harus dikeluarkan tidak akan sanggup kami tanggung. 


“Teh, antar Ibu berobat.”


Kalimat itu terus terngiang, menjadi pisau yang mendedah air mata setiap kali mengingatnya. Bulan ini saya gila-gilaan menyelesaikan pekerjaan agar bulan depan bisa “cuti” dan menemani Ibu berobat. Kalau masih tidak bisa memakai asuransi, mungkin sudah waktunya saya menulis sepucuk surat untuk walikota, kalau perlu presiden.

Upaya apa pun akan saya lakukan untuk mengembalikan kesehatan Ibu. Untuk mengembalikan kaki dan tangan kirinya. Menjadikannya perempuan cantik dan gesit seperti sediakala.

~eL

 
 

32 Comments

  1. December 23, 2015 at 12:02 am

    Semoga dikasih yang terbaik ya Mba. Tetap semangat 😊. Dan semoga menang 🙏🙏

  2. December 23, 2015 at 12:11 am

    dan aq pun trenyuuhh , semoga lkas sembuh buat ibunya ya mba

  3. December 23, 2015 at 1:15 am

    Seperti biasa, tulisanmu menggetarkan hati Mbak. Saya jadi punya perspektif lain. Saya pun tak selalu seiya sekata. Tapi setelah menjadi ibu, saya paham perasaan dan posisi ibu.

  4. December 23, 2015 at 2:16 am

    Amin. Terima kasih doanya. ^-^

  5. December 23, 2015 at 2:16 am

    Amin, mohon doa semoga dimudahkan proses pengobatannya. 🙂

  6. December 23, 2015 at 2:19 am

    Kami memang sering kali berbeda prinsip. Tapi yaaa … saya tidak pernah benar-benar bisa marah atau pundung. *curhat tambahan

  7. December 23, 2015 at 2:48 am

    aaa berkaca2 bacanya… semoga segera membaik ya mba…amiiinnn…

  8. December 23, 2015 at 2:56 am

    Semoga sang ibunda semakin lekas sembuh ya, mba. Tulisan yang keren:)

  9. December 23, 2015 at 3:19 am

    ibu adalah kekuatan kita. ketika ibu lemah, kita pun menjadi lemah. Semoga ibunya bisa terus berobat dgn lancar, dan berangsur2 pulih

  10. December 23, 2015 at 4:23 am

    Wow luar biasa semangat dan perjuanganmu mb. Semoga ibu sembuh dan sehat kembali ya

Leave a Reply