Kakombea : ulat kaki seribu [bahasa Bima]

Bila disentuh, ia akan diam, bergelung membentuk lingkaran. Sebentar saja dibiarkan, ia akan kembali merayap-rayap, berjalan cepat dengan kakinya yang banyak. Disentuh lagi, diam lagi. Dibiarkan sebentar, merayap-rayap lagi. Begitu seterusnya sampai kita bosan.

Manusia, ketika diberi teguran oleh Yang Empunya-nya, ia akan berhenti melakukan kesalahan. Berenung dan intronspeksi diri, namun hanya sebentar, sampai efek teguran itu reda. Agak lama, kita kadang pura-pura lupa, kembali melakukan kesalahan yang sama.

Kemudian teguran tadi berubah jadi peringatan . ‘Jeweran’ atau kadang ‘tendangan’. Setelah merasakan sakit akibat ‘tendangan’ tadi, baru deh tobat. Bersujud-sujud meminta maaf, berjanji dalam hati dan koar-koar tak akan melakukan kesalahan lagi. Jera? Entahlah, yang jelas kebanyakan dari kita manusia kembali terjerembab ke dalam dosa yang sama. Atau bahkan dosa lain dengan tingkatan lebih parah.

Malaikat saja sampai pusing dibuatnya. ‘Nih orang, udah babak belur begitu, masih… saja kagak kapok-kapok. Buku gue dan penuh nih,’ begitu kira-kira gerutuan malaikat pencabut amal buruk. [^_^]

Lantas, azab, SP III yang kadang berakhir dengan PHK [Pemutusan Hubungan Kehidupan] mengintai di depan mata. Yang kena kadang bukan hanya siempunya dosa, melainkan seluruh manusia yang berada di sekitarnya. Misalnya zina, yang kena kan radius 40 rumah di sekitar TKP [Tempak Kejadian Perzinahan]. Nah, berabe kan! Ngerinya lagi, azab yang diberikan ini seringkali cuma persekot atau DP. Pelunasannya, silakan tuai nanti di neraka.

Nggak, nggak berusaha nakut-nakutin, kok. Tulisan ini merupakan pengingat untuk aku pribadi, yang seringkali kayak kakombea ini. Nggak ada kapoknya berbuat maksiat, nggak ada ngerinya ditegur, bahkan kena tendangan. Untungnya belum sampai di SP III.

Kita, manusia memang cenderung berbuat khilaf dan dosa. Karena kita memang manusia, bukan malaikat yang tak pernah punya dosa. Ah, manusia…

Leave a Reply