KAOS KAKI YANG MELARIKAN DIRI


Malam tadi, kuputuskan untuk mencuci kedua pasang kaos kaki yang kupunya
Yang satu berwarna biru, hadiah ulang tahun dari Ibu
Yang lain abu-abu, kucuri entah di mana empat tahun lalu

Semalam hujan, kemarin hujan, dua hari yang lalu juga hujan
Sepanjang minggu hujan
Besok pagi mungkin hujan, besoknya lagi juga pasti hujan
Barangkali setahun lagi masih hujan

Aku tahu,
Kedua pasang kaos kakiku tak akan kering hingga tahun depan
Terpaksa pergi kerja telanjang kaki
Aku tak punya kaos kaki lagi

Pagi ini aku terbangun karena mimpi buruk
Tentang dua pasang kaos kaki,
Berwarna jingga dan hijau
Mereka menari-nari di sisi kasur minta dipakai
Aku tak mau, aku tak suka
Aku benci warna jingga dan hijau
Tapi mereka menyodok-nyodok dadaku, minta dipakai

Ah, untunglah cuma mimpi
Seketika aku berlari ke luar mencari kaos kakiku yang dijemur tadi malam
Hhh… masih ada
Tapi cuma sepasang, yang berwarna biru hadiah dari Ibu
Kemana yang abu-abu?
Kucari-cari di pelataran, ia tak ada, hanya secarik kertas yang kutemukan
“Puan, sudah bertahun-tahun saya menahankan derita ini. Mengabdi pada Puan, seseorang yang jelas-jelas tak berhak memiliki saya. Sekarang, setelah saya bersih kembali, ijinkanlah saya pergi. Kalau Puan benar-benar mengharapkan saya menemani Puan lagi, belilah saya, jangan dicuri. Selamat tinggal!”

Nagoya, 3 Maret 2009

Leave a Reply