Kau Pun Hilang

Tadi malam aku bermimpi, tentang kita yang tengah berpegangan erat di sebuah trotoar, entah di jalan apa. Yang aku ingat, jalan itu begitu sepi, meski seharusnya banyak orang berlalu-lalang, beramai-ramai mendatangi pusat perbelanjaan, atau berpadat-padat di jalanan. Tapi tak ada seorang pun, kecuali kita, dan jemari kita yang saling bertaut. Kemudian entah di detik yang keberapa, tiba-tiba kau hilang, selaku kabut yang dijerang matahari. Aku gelagapan, tentu saja aku gelagapan. Di detik yang lain engkau masih berada di sampingku tapi di detik kemudian engkau entah berada di mana. 
Jalanan yang lengang, suara-suara yang mati, robek oleh teriak, kemudian hujan mulai merangkak. Aku sendirian, di tengah kota besar. Sedangkan kau hilang, tak berbekas, tak meninggalkan pesan. Aku berlari, menyusuri jalan, menyusuri gang, mengetuk pintu gedung-gedung pemerintahan, mengetuk pintu pusat-pusat perbelanjaan, mengetuk pintu rumah-rumah. Tak ada sesiapa, pun tidak ada engkau.
Lalu entah bagaiamana, aku sudah terhempas di tengah hingar pasar dengan berbagai masam mahluk berdesakan, saling menawar harga, atau sekadar tertawa. Banyak manusia, burung kenari di kandang-kandang yang tergantung, domba dan sapi di lapangan, kelinci, bahkan kunang-kunang dalam toples berjajar di beberapa etalase. Betul-betul pasar yang pikuk. Tahukah kau bahwa keramaian bagiku saat itu adalah harapan? Mungkin aku akan menemukanmu di belantara orang-orang, atau sekadar bertanya kepada mereka tentang kau. 
Betapa sakitnya aku ketika tak seorang pun menggubris pertanyaanku, mereka tetap saja berjalan, tetap saja berteriak, tetap saja terbahak. Mata-mata mereka bahkan tidak mau menatap wajahku atau sekadar menoleh dan menyadari keberadaanku. Aku dianggap tidak ada, aku meniada. Dan hal itu lebih menyakitkan karena itu berarti aku tak bisa menemukanmu. 
Aku naik ke meja berisi tumpukan daging-daging, berkacak pinggang, melemparkan teriak dengan harapan ada seseorang yang mendengar. Tidak, tidak ada. Yang ada adalah kebisingan selayaknya di pasar. Suaraku ditelan udara, tenggelam dengan geleguk paling menyedihkan. Aku turun dengan perasaan getir, kakiku bau anyir. 
Apakah aku harus bertanya kepada kunang-kunang dalam toples atau kepada domba-domba di lapangan sana? Maka aku mendatangi mereka, ingin bertanya apakah mereka pernah melihatmu atau tidak. Domba-domba itu menatap mataku, kemudian berkata bahwa mereka melihat seorang lelaki yang berjalan terburu-buru, menerobos keramaian, kemudian menuju ketiadaan. Ah, domba-domba itu bisa menjawab dan melihatku ternyata. Domba-domba yang beruntung, sekaligus malang. 
Tapi kemanakah kau? Mengapa harus terburu-buru ketika meninggalkanku? Aku menangis, ada sakit yang perlahan turun. Pertama, karena kau telah pergi dengan cara paling menikam, kedua karena ternyata aku hanya bisa berbicara dengan para binatang. 
“Ia yang pergi mungkin akan kembali, tapi ia yang hilang tak akan tahu jalan pulang,” seekor kunang-kunang berbisik-bisik di dalam toples kaca. Aku terhenyak, segera menghampirinya. Ingin menampar mulutnya sekali saja atas perih yang keluar dari kata-katanya. 
Namun mungkin ia ada benarnya, kau telah hilang, dan tak akan pernah pulang. Ataukah aku yang hilang, dan tak tahu jalan pulang? 

Leave a Reply