Kehidupan Seorang Freelancer: Mitos dan Fakta

Apakah saat ini Anda sedang dalam perjalanan meninggalkan pekerjaan tetap dan mulai mencari lowongan kerja freelance? Ataukah Anda adalah fresh graduate yang tergoda dengan kisah-kisah inspiratif tentang para pekerja lepas? Hold on, dude. Sudah punya bayangan bagaimana pekerjaan seorang freelance?

Bisa bekerja di mana saja, kapan saja, duduk di belakang meja dengan kostum kesayangan: celana pendek dan kaos gembel, atau duduk di kafe sambil menyesap secangkir cappucino dan mendengarkan musik, dan lain-lain, dan lain-lain. Mungkin itu yang Anda bayangkan tentang freelancer. Well, itu benar, meski tidak sepenuhnya benar.
Percaya sama saya, di balik kisah sukses seorang freelancer, ada ribuan jam kerja di sebuah atau beberapa perusahaan yang mengasah etos kerjanya. Ada ribuan jam yang dilewatkan untuk meneguhkan keahlian. Ada ratusan jam yang dihabiskan dengan kurang kasih sayang kurang tidur, kurang makan, dan mata berkantong hitam.

Di luar sana, ada jutaan pencari kerja dengan berbagai macam tingkat pendidikan yang rela membaktikan diri untuk menjadi karyawan nine to five, datang ke kantor setiap hari, berpakaian rapi, menerima gaji setiap bulan, dan tunduk terhadap semua peraturan yang ada. Di luar sana, ada jutaan freelancer militan yang memiliki jam terbang tinggi, keahlian segudang, dan menawarkan jasa dengan harga terjangkau.

Jadi, sebelum Anda terjun bebas menjadi freelancer, ada dua hal yang ingin saya tanyakan:

  1. Keahlian apa yang bisa Anda jual?
  2. Apa bargaining power Anda?

Sounds scary, huh? Memang, banyak sekali orang yang menganggap freelancer sebagai pekerjaan sepele. Tapi, faktanya tidak sesepele itu, kawan. Jujur, sejak jadi freelancer 5 tahun lalu hingga hari ini, saya selalu ingin menampar orang yang mengatakan, “Enak banget ya jadi freelancer. Kerjanya santai, dapet duit.”

Santai dari Hongkong?

MITOS & FAKTA SEPUTAR FREELANCER

Saya tidak tahu apakah informasi ini penting bagi Anda, tapi sebelum jadi freelancer, selama bertahun-tahun saya sudah pernah bekerja di beberapa perusahaan multinasional. Dari mulai jadi Production Coordinator, Shipping Officer, HRD, dan sebagainya. Hanya di middle level? Hanya berurusan dengan ekspaktriat? Nope. Sebelum itu saya juga pernah bekerja jadi operator di pabrik, jadi pramuniaga, cleaning service, jualan nasi kuning, jualan stiker di pinggir jalan, jadi pengamen, dan lain-lain. Yaaa… saya memang sudah setua itu.

Intinya, saya cuma mau pamer bilang kalau saya cukup berpengalaman untuk mengatakan bahwa mitos tentang freelancer yang selama ini Anda dengar hanyalah omong kosong.Well, ada banyak mitos sebetulnya, saya cuma ingin membahas beberapa.

1. Tempat Kursus

Banyak yang menganggap bahwa dunia freelancer adalah semacam tempat kursus sebelum terjun ke dunia kerja yang sebetulnya. Terbalik, kawan. Jika Anda pertama kali masuk ke sebuah perusahaan, Anda akan diberikan pelatihan, bukan? Di dunia freelancer, tidak ada perusahaan yang mau repot-repot melakukan coaching. Logikanya, ngapain meng-hire orang yang tidak punya basic skills jika ada freelancer lain yang lebih ready-to-use?

Jadi, jika ada perusahaan yang mengatakan, “Nggak apa-apa, kan bisa sambil belajar.” Jangan senang dulu, itu bukan berarti Anda bisa belajar dari nol, itu artinya Anda hanya perlu menyesuaikan dengan goal perusahaan.

Contoh kasus. Dulu, ada seorang teman yang ingin menjadi freelance content writer dan meminta saya mencarikan pekerjaan untuknya. Saya tanya apakah dia bisa menulis, ya minimal paham teknis penulisan dasar. Dia bilang tidak bisa. Saya tanya lagi, berapa kecepatan mengetiknya. Dia bilang dia tidak begitu lancar mengetik. Pertanyaan ketiga, saya tanya apakah dia bisa mengoperasikan komputer dengan baik, minimal paham Ms. Office. You know what? Dia bahkan tidak bisa membuat nomor halaman.

Ketika saya meminta dia belajar dulu basic skills yang bisa dijual baru mencari pekerjaan, dia bilang, “Kan bisa sambil belajar, Chan.”

Yeah, right. Memiliki semangat belajar itu bagus, sangat bagus. Tapi mungkin, semangat belajar itu akan lebih bermanfaat untuk digunakan belajar basic skills dulu sebelum coming out jadi freelancer.

Tip:

  • Ketika memutuskan untuk menjadi freelancer, sebaiknya Anda sudah siap dengan satu atau dua atau beberapa keahlian yang bisa dijual.
  • Cari jenis pekerjaan yang sesuai dengan keahlian Anda.

2. Jam Kerja

Iya, jam kerjanya fleksibel. Iya, Anda bisa bekerja kapanpun. But, mostly, yang dimaksud dengan fleksibel bukanlah dari rentang waktu pukul 9 pagi sampai 5 sore. Saking fleksibelnya, jam kerja freelancer di-mark up sampai 24 jam, persis seperti apotek atau kantor polisi.

Kenapa? Karena Anda tidak dibayar reguler seperti pekerja tetap. Anda hanya akan dibayar jika pekerjaan selesai. Ada juga yang dibayar per jam.Contoh:
Di Grasindo, honor saya dihitung per 1 buku (layout, kover, ilustrasi, dan infografik). Biasanya saya diberi waktu 1 minggu untuk menyelesaikannya. Syukur-syukur layoutan bisa selesai dengan jam kerja 8 jam di siang hari. Jika tidak, saya harus siap-siap begadang sampai jam 3 pagi. Editornya kejam? No. It is my responsibility. Tugas saya sebagai desainer grafis adalah menyelesaikan pekerjaan dalam jangka waktu yang ditentukan. That’s the deal, nothing else.Tip:
  • Jaga kesehatan. We never know kapan akan mendapat pekerjaan yang menuntut diselesaikan hingga bermalam-malam atau yang bisa diselesaikan hanya dalam beberapa jam.
  • Tentukan jam biologis Anda sendiri.

3. Santai

Bekerja dari rumah atau bekerja di belakang meja sambil dasteran tidak segaris lurus dengan kata santai. Since pekerjaan tidak selesai = tidak dibayar, artinya kita baru bisa santai kalau pekerjaan sudah selesai. Berbeda dengan pekerja tetap yang selangkah keluar dari kantor maka bisa menolak semua urusan pekerjaan, cara kerja freelance tidak seperti itu.

Kita, para freelancer dituntut untuk profesional, tak peduli dengan urusan-urusan personal. Di beberapa bidang, para freelancer justru lebih sibuk daripada pekerja tetap.

Kerja sambil main? Kerja di bidang yang dicintai? Apa pun labelnya, bekerja tetaplah bekerja, ada garis batas yang tidak bisa kita langgar begitu saja. Karena seperti yang sudah saya singgung sebelumnya, di balik santainya seorang freelancer, ada kantung mata yang menghitam dan tidak tidur beberapa malam.

Entahlah, mungkin kisah indah yang Anda dengar hanya datang dari mereka yang masih tinggal dengan orang tua atau yang memiliki pasangan yang juga bekerja. Bukan dari seseorang yang hidup di atas kakinya sendiri.

Tip:

  • Pandai-pandailah manajamen waktu kalau memang ingin santai.

4. Bebas

Yang dimaksud dengan bebas adalah bisa menanggalkan blazer dan high heels? Iya, saya setuju kalau soal itu. Tapi kalau yang dimaksud dengan bebas adalah tidak tunduk terhadap peraturan perusahaan, mungkin Anda harus kembali membuka kamus dan mencari arti kata profesional.

Banyak yang menganggap bahwa seorang freelancer boleh memiliki beberapa pekerjaan sekaligus. Iya, itu memang benar. Tapi, ada satu hal yang ingin saya ingatkan kepada Anda: tetaplah menjunjung tinggi kode etik.

Misalnya, saat ini Anda menjadi content writer dari sebuah marketplace. Di saat bersamaan, Anda diminta untuk menulis sponsored post untuk marketplace kompetitor. Kira-kira, akan Anda terima?

Tidak ada kontrak tertulis yang mengatakan Anda tidak boleh menerima sponsored post dari brand lain. Tapi saya akan menyarankan agar Anda tidak menerimanya karena alasan kode etik.

Tip:

  • Pekerjaan freelancer bukan hanya tentang uang, ini juga tentang dedikasi dan loyalitas.

5. Attitude

Jangan pernah berpikir bahwa hanya karena Anda freelancer maka Anda bebas bersikap, bebas memposting apa saja di media sosial, bebas mengeluh tentang beban dan perusahaan tempat Anda bekerja. Attitude adalah poin penting yang sering ditekankan oleh mentor-mentor saya karena menurut mereka (dan saya setuju dengan itu) attitude yang jelek bisa menghancurkan karier seorang freelancer paling berbakat sekalipun.

I am the most gampar-able peoople at social media, tapi pernahkah Anda melihat saya mengeluh soal pekerjaan? Pernahkah Anda melihat saya ngoceh soal honor yang belum dibayar? Pernahkah Anda melihat saya membuat status yang memberikan impresi buruk tentang atasan, brand, atau perusahaan tempat saya bekerja?

Tidak semua brand yang pernah bekerja sama dengan saya berteman di media sosial. Saya bebas ngoceh kalau saya mau. Tapi saya tidak mau karena seperti nasihat Kak Haya, attitude itu penting. At least, saya terus berusaha menjaganya.

Apakah attitude berpengaruh terhadap performa seorang freelancer? Definitely, yes. Kalaupun perusahaan tempat Anda bekerja tidak melihat, akan ada PIC perusahaan lain yang melihat.

Tip:

  • Kalau punya masalah dengan honor yang belum dibayar, tanyakan lewat jalur pribadi.

6. Murah

“Ah da aku mah apa atuh, ada yang sayang ngasih kerjaan aja udah syukur. Seridonya aja bayarannya mah.”
Tarif seridonya tidak menjadi masalah jika Anda baru memulai di field baru (dengan catatan sudah punya basic skills), tapi akan menjadi masalah jika sikap seperti ini terus-menerus dilakukan karena kata seridonya kerap kali diartikan sebagai Anda bersedia dibayar murah. Ini juga akan menjadi masalah jika Anda bersedia dibayar di bawah tarif rata-rata.
Misalnya, tarif minimal layout adalah Rp3.500/halaman jadi. Saya tidak akan mau dibayar kurang dari itu karena jika saya melakukannya, itu artinya saya mencederai harga diri para desainer di seluruh Indonesia. *halah
Berbeda halnya dengan di bidang yang baru saya geluti. Misalnya, sponsored post. Saya tahu tarif minimal yang berlaku di kalangan blogger, tapi terus terang saya tidak tahu berapa value blog saya. Maka, biasanya saya meminta penawaran terlebih dahulu kepada brand. Jika sama atau lebih besar dari tarif minimal dan temanya sesuai dengan blog, maka akan saya terima. Jika fee-nya di bawah tarif minimal, tidak akan saya terima. Wuidih, katanya pemula, tapi banyak gaya. Well, iya saya memang pemula di sponsored post, tapi bukan pemula di bidang kepenulisan. Songong? Tidak ada yang bisa menghargai tenaga kita jika kita sendiri tidak melakukannya.
So, bahwa freelancer adalah mereka yang bisa dibayar murah itu mitos. Faktanya adalah bahwa setiap freelancer memiliki tarif yang disesuaikan dengan jenis pekerjaan dan keahlian.

Tip:

  • Hargai setiap tenaga yang Anda keluarkan.

7. Serba Bisa

Pernah mengenal seseorang yang bisa melakukan segala macam? Pernah mengenal seseorang yang nulis bagus, desain bagus, bisa mendesain web, paham koding, bisa dandan, bisa fotografi, dan sejuta keahlian lain? Mungkin ada, tapi kalau Anda berpikir orang itu bisa menjadi freelancer di segala bidang, sepertinya itu agak berlebihan.
Yang seru jadi manusia adalah karena kita punya kelebihan juga kekurangan, bukan? Ini bukan masalah karena Anda jago di segala bidang lalu Anda bisa meng-handle semua pekerjaan yang ditawarkan.
Oke saya kasih contoh lagi. Wait, why I always talk about myself? Ini menyalahi teknik marketing sebetulnya, tapi kalau ngomongin orang lain takutnya gibah, dosa (ditabok). Karena tahu saya bisa ngotak-ngatik template blog, ada seseorang yang meminta jasa saya. Masalahnya, blog orang itu WP sedangkan saya hanya paham Blogspot. Saya paham tentang WP, tapi hanya untuk sendiri, tidak memiliki keahlian yang bisa dijual. Karena saya lebih mementingkan kepuasan pelanggan, maka pekerjaan itu saya lemparkan ke freelancer lain yang lebih paham WP.
Menolak rezeki? Bukan, itu namanya tahu diri.

Tip:

  • Saran saya, miliki beberapa basic skills tapi pilihlah jenis main skills karena menjadi ahli di satu bidang lebih baik daripada bisa semua bidang tapi setengah-setengah.

Saya tahu, postingan ini mungkin terkesan menakut-nakuti. But believe me, saya sedih sekaligus sudah lelah mengahadapi para pemimpi yang hanya mau kerja enak tapi tidak punya bekal dan tidak mau bekerja keras. Sebuah mimpi dibangun di atas pondasi, kawan. Bukan hanya di atas mitos. Kisah sukses para freelancer yang Anda dengar saat ini hanyalah permukaan gunung es, you never know seberapa keras mereka berusaha sebelum itu.

Lima tahun lalu, ketika saya resign dari kantor, manajer saya berpesan, “Susan, saya tahu kamu memiliki bakat dan kegigihan. Tapi dunia kerja, tetap maupun lepas, sama-sama hutan rimba. Dia yang cukup kuatlah yang akan bertahan. Mereka yang lemah hanya akan berakhir dengan titel pengangguran. It’s hard to let you go, kamu adalah salah satu staf terbaik yang kami miliki, tapi toh kamu sudah memilih jalan kamu sendiri. Kalau segala sesuatunya tidak berlangsung baik, jangan segan-segan untuk kembali.”
Well, saya tidak tahu apakah saya sudah sukses menjadi freelancer atau belum. Tapi, semoga ini memotivasi Anda. Setelah bertahun-tahun mengasah keahlian, setelah bertahun-tahun mengenyam asam garam kehidupan pekerja lepas, I’ll be proud to say that saat ini saya tidak pernah lagi mencari lowongan kerja freelance, pekerjaanlah yang mencari saya. (Ecieee …)
Salam,
~eL

20 Comments

  1. August 8, 2016 at 9:14 am

    Mau dong jadi freelance 😀 biar bisa bebas #kemudianditabok

  2. August 8, 2016 at 9:38 am

    Bebas pacalan maksudnya? -_-“

  3. August 8, 2016 at 4:06 pm

    Mau freelance atau pun pekerja kantoran, keduanya ada resikonya. Itu menurut yang saya amati dan kalau soal freelance, saya sendiri sedang menjalaninya sesuai jurusan yang saya geluti. Memang, keliatan seperti biasa saja namun pada kenyataannya lumayan berat juga nggak taunya.

  4. August 8, 2016 at 4:16 pm

    Pengen juga dicari-cari sama pekerjaan, kakak :p
    Tergoda untuk nyari kerjaan freelance, di samping jadi karyawan, tapi belum siap kantong mata menghitam *lah

  5. August 9, 2016 at 4:06 am

    Keren! tulisannya menginspirasi lagi Teh. Saya jadi ingat untuk terus jaga attitude sebagai freelancer 🙂

  6. August 9, 2016 at 4:07 am

    Cocok dibawakan di acara sebelum wisudaan nih. Padat berisi

  7. August 9, 2016 at 12:18 pm

    Thank you Teh udah nulis ini, nuhun pisaaan. *pengen meyuk*

  8. August 9, 2016 at 3:09 pm

    Selalu salut sama freelancer, apalagi freelancer serba bisa kayak teh langit.
    Pengen banget jadi freelancer tapi bingung mau 'ngejual' apa. Wkwk..
    Makasih udah share ya teh.. 😉

  9. August 10, 2016 at 3:49 am

    mau jadi freelancer atuh ) Uchan kumaha damang?

  10. August 12, 2016 at 1:50 pm

    Dua-duanya sama berat, but I prefer kerja freelance karena nggak harus ngantor jam 8 pagi sih. Hahaha.

Leave a Reply