Kematian Paling Pantas Untukmu, Skylashtar Maryam

Engkaukah pisau ini, Maryam? Yang bersiap menyayat nadiku tadi malam. Katamu rasa sakit harus diakhiri, aku boleh mati berkali-kali untuk kemudian hidup kembali. Bibirmu bergeletar ketika sisi tajammu menyentuh kulit tanganku. Engkau tak mencegah, tak marah, engkau hanya pasrah, menyambut darah yang akan tertumpah.

“Matilah!” bisikmu.

Ya, aku akan mati. Meninggalkan apa-apa yang di belakang, melupakan semua hal silam, mengubur semua luka dan rasa sakit ke dalam lapisan tanah paling dalam. Aku tak tahu, Maryam. Apakah kematian ini diperuntukkan kepada diriku sendiri atau laki-laki yang suaranya menari-nari di dalam kepala kita? Laki-laki yang sepuluh bulan lalu menikahiku. Laki-laki yang tak memberikan apa-apa kecuali membuatku jatuh cinta mati-matian untuk kemudian menyakitiku lebih dalam.

“Ia tak pernah mencintaimu, ia hanya mencintai dirinya sendiri, ibunya, dan semua orang yang memiliki pertalian darah dengannya. Tentu kau masih ingat, bertahun lalu lelaki itu membuat seorang perempuan hamil, keguguran kemudian membiarkannya menyongsong kematian sendirian. Lelaki seperti itukah yang harus kau cintai hingga ke tulang belakang? Apa yang kau dapatkan dari sebuah pernikahan yang tak seimbang? Ia, menikahimu, kemudian menyiksamu sedemikian rupa, tak memberikan hak-hakmu sebagai istri, tak melakukan kewajiban-kewajibannya sebagai suami. Bukan hidup seperti itu yang kau inginkan, bukan hidup seperti itu yang pantas kau dapatkan.”

Jadi, engkaukah pisau ini, Maryam? Yang bersiap menyayat nadiku tadi malam. Aku akan mati di tanganmu dengan senang hati, untuk kemudian hidup kembali.

Leave a Reply