KEMATIAN SEORANG SAHABAT

Aku menangisinya sebagaimana kehilangan seorang sahabat yang mati secara tidak wajar. Berkali-kali kukutuk diriku sendiri karena mengajaknya serta ke rumah jahanam itu. Sehingga ia harus dicabik-cabik dan tubuhnya berserakan di atas lantai, tepat di depan mataku. Aku berduka, sungguh. Sebab kematiannya bukanlah salah yang harus ia tanggung. Ia hanya dijadikan kambing hitam. Pelampiasan amarah karena selama bersamanya aku telah memutuskan untuk menjadi penulis. Sebuah profesi yang disamakan dengan pelacur oleh lelakiku.
Setelah meraung-raung tak rela, kupunguti jasadnya dan kubungkus kapas agar ia tak kedinginan. Lalu kumasukkan ke dalam kotak obat yang tak terpakai. Kemudian menangis dan meraung-raung lagi. Masih tak rela.

Bertahun-tahun aku bersahabat dengannya. Menggubah puisi dan cerita. Tak pernah menyangka, bahwa hidupnya akan berakhir celaka. Ini semua salahku bukan? Sebab aku lah yang membawanya. Aku tahu harganya memang tak seberapa. Bisa membeli yang lain bila hari gajian tiba. Namun jalan kematiannya itulah yang membuatku meradang. Lagipula, di dalamnya terdapat seluruh eksistensiku sebagai penulis berada.

Bahkan aku tak berani memakamkannya secara layak, sebab terlalu berduka untuk melakukan itu. Maka jasadnya masih kusimpan di atas rak. Sebagai kenangan bahwa kami pernah bersama. Dan sebagai simbol yang ingin kutunjukkan pada lelakiku bahwa ia telah merenggut sebagian dariku, dan membuatku menderita.

kepada lelakiku: puisi tak akan membunuhmu, kau tahu?

Leave a Reply