Kembali ke Kotamu

Inilah yang kusebut dejavu; debar-debar liar ketika untuk pertama kalinya bibir kita bertemu. Ketika rasa kopi menyatu dengan degup di jantungmu, di jantungku.

“Bajumu basah,” katamu gugup.

Bukan itu yang sebenarnya harus kau khawatirkan, melainkan gigil yang bertahun berusaha kutahan. Tanganmu bahkan bergetar-getar ketika malam dan hujan semakin menandak-nandak dengan liar, suaramu berbisik samar. “Aku mencintaimu,” ucapan itu seakan berasal dari dunia yang begitu jauh, begitu jauh.

Tapi aku harus kembali. Kembali kepada dunia yang selama ini aku kenali. Dunia yang tidak ada kamu di dalamnya karena kita sama-sama tahu bahwa cinta tak pernah pulang ke muara yang sama.

Mungkin esok, aku akan kembali untuk menikmati hujan dan menyesap kopi, bersamamu, dari bibirmu.

Leave a Reply