Kepada Carikan Wajah di Dinding Hening


(SURAT-SURAT MARIA)

Tadi malam aku mabuk.  Mabuk nama-nama, mabuk peristiwa-peristiwa, mabuk wajah-wajah kota.  Tak ada obat apapun yang bisa menyembuhkan segala tukak yang telah kita berdua tenggak.  Segala macam jenis vaksinasi hanya membuatku semakin nyeri.  Padahal tubuhku sudah imun terhadap serangan berjenis-jenis agitasi.  Tapi aku mabuk, semakin mabuk.

Di sini, di dinding kamarku yang hening, masih tersemat rapi carikan tiket perjalanan kita.  Entah kapan itu karena di benakku masa menjelma menjadi berabad-abad; memuai dalam gengaman sehingga aku tak bisa menghitung dengan tepat arti kata ‘waktu’.

Aku larut dalam terka, kembali mencoba membaca pertanda-pertanda.  Padahal sudah kuketahui pasti, semesta telah terlipat dan kita berdua tidak akan pernah lagi sedemikian lekat.  Tapi engkau selalu mengintai, dalam uar asap sisa pembakaran, dalam buih-buih peradaban, dalam setiap jengkal tanah yang kupijak; kini, dan mungkin juga nanti.

Aku masih mabuk, mungkin akan semakin mabuk.  Mabuk suara-suara, mabuk tawa-tawa, mabuk apa saja yang keluar dari ingatan tentang persanggamaan kita.  Aku telah mencari, mengais setiap inci jejalan dan lipatan angin, bahkan di setiap celah tetes-tetes gerimis senja. 

Wajah orang-orang menjelma wajahmu.  Suara orang-orang bertransformasi gelak tawamu.  Tapi apa yang disisakan waktu kecuali candu?  Sedangkan aku adalah manusia paling dungu.    

Aku mabuk, akan selalu mabuk.  Mabuk apapun yang disisakan waktu di genangan mata dan tanganku. 
(Cibiru, 29 April 2012)

Leave a Reply