KEPADA PARA PENGHUNI TAMAN


Malam ini kita duduk berdua, begitu mesra

Badai yang dulu lama berlalu, sedang gigil masih berlagu

“Kali ini tsunami!” katamu

aku terpaku, engkau tergugu

“Kenapa matahari bisu?” rengekmu

“Apa kau buta? Ini malam, yang ada hanya bulan.”

Rumpunmu mendongak pada kelam.

“Tak ada bulan…”

kelopakmu mengkerut

rantingku pun kelu

“Pagi tak lama lagi,” bisikku menenangkanmu

malam ini kita duduk berdua, begitu mesra

esok hari aku pamit pergi,

“Pagi tak lama lagi,” bisik daunmu.

Aku tahu engkau menangis di balik rimbun dan batang kokohmu

“Melati tak ada lagi,” kau, akasia menggigil di sudut taman

aku sedih, sungguh!

Bertahun-tahun berada di taman ini bersamamu

Beribu detik kulalui dalam majelis yang sama dengamu

KEPADA PARA PENGHUNI TAMAN

Barangkali ini mimpi, mungkin ilusi

Kemarin kita masih sempat berlarian, menjaja payung tadahkan hujan

Terkikik dalam tenda yang sama di sudut kota,

Candai tempias, saling melempar senyum pada rinai

Namun, saat itu tangan kita bergenggaman

Hujamkan akar di sepetak taman, bersama-sama

Namun ini bukan mimpi

Tali kekang waktu bukan kita yang punya

Pun gemerisik detiknya

“Apakah ini gerimis?” tanya kami pada kalian.

Heran, kalian menangis seolah-olah kami nak lantak dibawa bah

“Ini hanya gerimis!”

Teriak kami dari balik pagar

Sepah-sepah kenangan jangan dimuntahkan

saat kita berbincang di bangku taman

di pelataran iman, dalam ruang hati yang tak jua sepi

Besok kita rihlah lagi ke sakera

Atau sama-sama jadi guru TPA

Mungkin mandi hujan di tanah lapang, gaungkan doa untuk Palestina

Inilah kami dalam esensi

Penghuni taman, dalam bumi jihad

Bukan hanya penghuni gedung dengan seragam

Yang kemarin kami tanggalkan

Seperti kata kalian kemarin,

Bahwa bumi jihad ini adalah sebuah taman

Yang menyatukan kita dalam sebuah tatanan indah,

Berjanjilah tak akan ada yang meranggas

Taman tak akan sepi hanya karena satu melati pergi

Toh wanginya tetap di sini

Maka tetaplah di taman ini

Bernaung dalam syahadat yang sama

Bersujud kepada Illah yang sama

Mencintai karena-Nya

Esok hari kami pamit pergi

Kunci taman ini, tetap kami pinjam

Bila suatu hari kami kembali

Tak jadi tamu di rumah sendiri

===

Puisi ini adalah permintaan Mas Afis untuk acara perpisahan PT National Garment di Nurul Iman dulu.
Tak sempat kubacakan karena aku keburu koma. Semoga ini bisa sedikit mengurangi rasa bersalahku atas janji yang tak sempat ditepati.

Leave a Reply