Kepada Perempuan Lain

:Entah



Aku tak mengenal engkau, engkau tak mengenal aku.

Tapi saat ini engkau sedang bersama seseorang yang kepadanya aku ingin pulang. 


Satu-satunya kesalahan yang kulakukan adalah jatuh cinta kepadanya dan membiarkan dia juga jatuh kepadaku. Meski aku insyaf bahwa hidup adalah perputaran ritual. Kemarin orang lain mengambil milikku, hari ini aku nyaris mengambil milikmu. Tapi engkau boleh bertenang hati, karma ini hanya akan sampai di sini. 


Puan, sebetulnya aku ingin sekali menyalahkan makhluk bernama cinta yang tiba-tiba mengerangkeng kami berdua; aku dan dia. Sayangnya di dalam kisah seperti ini, akulah ular yang memaksa Adam memakan buah neraka. Di dalam kisah seperti ini, akulah yang harus dirajam; perempuan lain yang tiba-tiba hadir dalam sebuah kapal.


Jika kata maaf bisa ditakar, maka permintaan maafku padamu akan meruntuhkan segala timbangan. Aku tahu bagaimana menjadi engkau, rasa nyeri seakan ada ribuan pisau menari-nari di dalam hati itu pernah aku alami. Maka terkutuklah aku si pelacur yang menjebak kita dalam perputaran ini. Terkutuklah aku!


Puan, demi Tuhan yang namaNya masih tetap kurapal, aku tak pernah ingin mencuri. Bahkan aku tak pernah memintamu untuk berbagi. Kami hanya dua orang yang tersesat, tak tahu jalan untuk kembali. Engkaulah peta petunjuk jalannya, cinta dan kesungguhanmu akan membawa dia kepadamu. Sedangkan aku hanyalah rambu timpang yang ia temukan di tepi jalan, tak akan bisa membuatnya sampai ke manapun.   


Di dalam setiap pertempuran, akulah perempuan yang senantiasa menanggung beban kekalahan. Maka demi hatimu yang kujaga agar tak berserak, kukembalikan ia meski hatiku sendiri lantak.


Engkau sudah lebih lama bersamanya sementara aku hanya persimpangan yang membuat langkahnya kadang tegap kadang lindap. Di dalam rengkuh pelukmu, tentu ia akan menyala lebih terang sedangkan di lingkup dadaku, ia hanya akan menjadi kunang-kunang yang cahayanya semakin remang. 


Kau tak akan lagi melihat, mendengar, atau tahu apa pun tentang aku. Milikmu sudah kukembalikan dengan utuh. Berbahagialah. 


Berbahagialah. 

2 Comments

  1. March 27, 2014 at 1:16 pm

    Hatiku ngilu baca tulisanmu yang ini Mba..

  2. Langit Amaravati-Reply
    March 28, 2014 at 4:41 am

    Rasa yang sama juga ada di hati saya ketika menuliskannya.

Leave a Reply