KEPADA PUISI

aku tak bisa berhenti
melesak hingga jauh ke tepi
pegangi pena dan secarik kertas buram
kucekoki kau dengan serapah serupa hitam
aku tak kuasa beranjak
jilati remahan-remahan yang ditinggalkan jejak
tulisi malam dan rembulan
di atas kanvas hasil curian
sungguh, aku tak mampu lagi terlepas
kurantai diriku sendiri di atas kertas
meski seringkali kau jambaki aku
saat kupaksa kau puaskan puncak berahiku
kemudian aku beku dalam belenggu
pada larikmu sewindu lalu
kepada baitmu kutumpahkan hidup
di sebuah kandang lila berlampu redup
terkadang aku terengah-engah
teriakkan segumpal lelah
berpunguk-punguk derai cahaya
dalam kubangan darah dan air mata
lalu kapan kita jadi sepasang kekasih?
bercinta tak henti-henti, hingga terkapar di lantai rasai letih
kemudian kembali bergumul di malam lain
berkali-kali, terus-menerus, bakari berbatang lilin
kopiku tandas tiga gelas
rokokku habis sebelas
namun belum jua bajumu utuh
kau rela, aku tahu, temani aku berpeluh-peluh
sebab engkau puisi

===

Nagoya, 17 Pebruari 2009

Leave a Reply