:Untuk teman sekamarku Mia Indria
Ini bukan catatan perpisahan, sama sekali bukan

Sudahpernah kita rapal berbagai macam memar hingga tubuh kita menjadi semacam rahimtempat janin-janin luka terpapar. Lalu kitamulai berkaca pada suram sejarah masing-masing, bukan untuk saling mengasihani,melainkan untuk sama-sama menggapai apa yang pernah hilang.

Jikasaja detik bisa ditimbang, maka sudah berat apa yang kita larutkan dalambincang. Pada malam, pagi, jugasiang. Tidak ada kesimpulan yang haruskita tiriskan, kita hanya perlu menanamkan dalam dada masing-masing bahwaharapan-harapan akan selalu bertumbuh. Dengan,atau tanpa bantuan.

Padasaat berbagai pintu tertutup, ke dalam pintumulah aku berteduh dahulu. Sebuah rumah lain yang di dalamnya berisiberbagai macam warna hidup. Aku tak akanlupa, selamanya. Bahwa di bawah atapmulahkeinginan akan kematian perlahan luruh. Engkaumungkin tak tahu. Dan ya, aku pun takpernah memberi tahu.

Akujuga tidak pernah menyangka bahwa waktu dan takdir telah membawa kita kesetapak yang sama. Setelah malam itu,untuk pertama kalinya selama bertahun-tahun aku menemukan kata pulang. Keironisan yang menguar setelah tragedi pembebatankebebasan membawaku pada ruangmu, sebuah ruang yang kupanggil rumah.

Rasaterima kasih saja aku kira tak akan sanggup menghantar segala bahasa yang memadatdi dada dan kepala. Pun kata maaf sajatentu tak akan mampu juga menerjemahkan semua rasa.

Inibukan catatan perpisahan, ini hanya sebuah catatan perjalanan. Ya, aku yang terlebih dahulu pergi untukmengarungi samudera-samudera menuju dermaga di ujung pantai. Kelak kau akan pergi juga, menuju dermagayang lain. Maka bersabarlah, Timur. Sampai kelak layarmu pun terkembang. Lalu, dikelembagaanku yang hening bening nanti, aku akan selalu mengetuk pintumu,mungkin sesekali berbaring di kata pulangmu sambil merapal rindu.

Nanti,akan kita temukan bahwa hidup tidak hanya bisa menjejak hitam. Akan ada warna lain meraksuk ke dalamretina-retina kita, warna yang orang-orang namai sebagai bahagia. Bahagia.

(Markas Empayer Renjer Cabang Cibiru, 14 Mei 2012)

Leave a Reply