Kepergian-Kepergian

:Gi

Merapal namamu adalah mendedah kesedihan demi kesedihan. 
Melolosi rasa sakit satu demi satu yang sebagian kusimpan, 
sebagian besar kumamah pelan-pelan, lalu kutelan. 
Andai ingatan memiliki masa kedaluwarsa, 
aku ingin cepat sampai ke sana; sampai kepada lupa agar nama 
dan wajahmu tak melulu mencabik-cabik isi dada.
 
Tapi ingatan adalah pengkhianat yang pura-pura hengkang 
namun diam-diam bercokol di balik pagar 
untuk kembali suatu hari nanti. 
Begitulah aku hari ini; berziarah hingga ke nyeri paling tepi.

Gi …

Putra kita sudah berusia dua puluh bulan. Sudah bisa berjalan dan pandai berceloteh. Di hadapannya, aku senantiasa tertawa, berpura-pura menjadi manusia paling berbahagia. Namun diam-diam benakku mengarang cerita, bersiap-siap menghadapi pertanyaan yang mungkin tak akan bermuara kepada satu pun jawaban: “Ayah di mana?”

Setiap kali aku membeli baju baru untuknya. Aku selalu membungkusnya dengan kertas kado, membuka bungkusan itu di hadapannya lalu kembali mengarang cerita, “Ayah belum bisa pulang, dia menitipkan hadiah ini buat kamu.”

Setiap sore, jika aku tak pulang kemalaman, kami akan duduk di beranda. Berpura-pura sedang menunggu kamu pulang kerja. Dia akan melonjak-lonjak kegirangan. Bahkan aku sudah mengajarkan kebohongan; menunggu seseorang yang tak akan pernah datang.

Setiap kali kami pergi berdua, mataku mencari-cari sosokmu di tengah keramaian. Berharap Tuhan sedang berbaik hati lalu kita dipertemukan. Tapi kisah manis seperti itu hanya ada di televisi. Nyatanya kamu tak pernah kembali.

Setiap kali Aksa menangis, aku sering kali berkata “Jangan rewel, sebentar lagi Ayah pulang.” Biasanya dia akan berhenti lalu berseru-seru gembira. Matanya mengikuti telunjukku yang mengarah ke pintu.

Aku tak tahu sampai kapan akan menipunya. Sampai kapan akan memberi harapan-harapan semu kepadanya. Tapi kalimat itu, kalimat yang mula-mula hanya sebagai penghiburan lama-lama berubah menjadi ritual; doa yang dirapal samar-samar.

“Jangan rewel, sebentar lagi Ayah pulang.”

3 thoughts on “Kepergian-Kepergian

  1. Membaca ini aku cuma bisa menghela nafas dalam dalam..
    Semangat mbak! Walau kata kataku tak berguna tapi saya harap ada gunanya…
    Semoga Tuhan masih berbaik hati mempertemukan mbak dengan ayah Aksa..

  2. Saya speechless teh 🙁

  3. Dear all,
    Terima kasih sudah berkenan membaca. Saya akan dengan senang hati mengaminkan doa kalian.

Leave a Reply to Langit Amaravati Cancel reply

%d bloggers like this: