KERPAK KAPAL KERTAS

Mengingat kembali malam itu,malam ketika ia berkata padaku ‘aku telah melihat cinta dengan cara lain,dan dengan cara itu hatiku bergetar ketika terlintas wajah perempuan yang pernah kukenal dan ingin kumiliki.Tapi perempuan itu bukan kamu.’

Ternyata,dua kalimat yang diucapkan di sebuah percakapan santai,sambil merokok dan minum kopi itu adalah kiamat bagi hatiku.Saat itu juga,kurobek puluhan lembar surat cinta yang kutulis untuknya,kubuat pesawat kertas lalu berlari ke loteng dan menerbangkannya.

Cinta kami diikrarkan di sehelai daun kering,sama-sama pernah meranggas dan bertekad untuk tak busuk dimamah tanah.Tapi kemudian apa?Ternyata cinta itu tak membawa kami kemana-mana.

Jika boleh memilih,aku akan memilih dia pergi ke Papua atau tempat yang lebih jauh lagi,dan tak kembali.Aku lebih memilih ia jadi relawan di Palestina dan tertembak di Gaza.Atau pergi begitu saja daripada harus melemparkan prahara ke dalam hatiku terlebih dulu kemudian berlalu.
Malam itu,sekali lagi aku merasa menjadi perempuan di tepian.

Seorang perempuan yang hanya jadi salah satu opsi dalam soal pilihan berganda,namun tak pernah sekalipun memenangkan pertempuran.Selalu tersisihkan.

Aku tak kuasa memintanya untuk memilih.Tak berdaya untuk memaksanya ingin dimilikiku.Sebab dulu,sebelum kami bertemu dan saling menata rindu,ia bukanlah siapa-siapa kecuali lelaki yang tak pernah kukenali.Sebab sebelum pernikahan itu berlangsung,kami hanya sepasang manusia yang tak memiliki hubungan.Maka kini,ia pun kembali ke status itu;lelaki yang tak pernah kukenal dan tak memiliki hubungan denganku.

Sampai saat ini,aku tak pernah tahu apa perbedaan antara melepaskan dan merelakan.Tapi merasa lapang setelah melakukan keduanya.Sebab sesungguhnya tak ada cinta yang terlepas atau meranggas.Barangkali cintanya usai terhadapku.Namun cinta itu sendiri tak pernah pergi kemana-mana.Ia ada.Di sini.Di dalamku; cinta yang bukan untuk siapa-siapa dan tak merasa harus memiliki alasan.Ia hanya ADA.

(Bandung, 21 Mei 2010)

2 Comments

  1. November 29, 2010 at 2:37 am

    merasa kalau tulisan ini mewakiliku, dengan rasa yg (mungkin) juga sama… hiks…hiks….

  2. Skylashtar-Reply
    December 3, 2010 at 2:25 pm

    hmmm…rasa sakit yang saling merantai tiap individu sehingga kadang rasa itu sendiri seakan jadi bagian dari diri kita.

Leave a Reply