KETIKA SEBUAH SITU MERASA MARAH

Marah adalah salah satu ekspresi emosi yang dimiliki seluruh mahluk, baik itu mahluk hidup maupun yang tidak. Jangan membantah! Ini blogku, dan aku berhak mengemukakan pendapat seenak udelku. Hwuahaa hahahaa. Peace ah!

Oke, kita semua udah tahu bagaimana mahluk hidup mengekspresikan kemarahannya. Manusia. Bisa dengan mencaci, memaki, menendang, memukul, diam, menangis, dan lain-lain. Aku pribadi cenderung merusakkan barang-barang jika sedang marah. Rasanya belum puas bila belum ada sesuatu yang pecah atau terbelah. Jadi jangan coba-coba deketin aku kalo lagi marah yah.

Hewan mempunyai ekspresi yang lebih ekstrem lagi. Mencakar, menggigit, mengaum, bahkan istilah ‘menelan bulat-bulat’ bisa diartikan dan dipraktekan secara kata per kata.



Tanaman, dengan caranya yang paling halus juga bisa marah.Bisa dengan berhenti menghasilkan buah, atau ‘memelihara’ seribu ulat pohon di setiap batang dan daunnya.

Mahluk tidak hidup yang aku kategorikan sebagai alam ternyata kalo marah lebih berbahaya. Masih ingat peristiwa tsunami di Aceh beberapa tahun silam? Coba ingat-ingat apa yang telah kita (manusia) lakukan sehingga laut dan Siempunya laut marah dan menghabisi nyawa puluhan ribu orang.

Peritiwa terbaru adalah robohnya tanggul Situ Gintung, Cireundeu, Tangerang – Banten (Jumat ,27/3) kemarin. Terakhir aku nonton TV, korban meninggal sebanyak 100 orang, ratusan orang masih hilang, dan ratusan lainnya kehilangan harta benda.

Ini bukan pure bencana alam seperti tsunami atau gempa yang memang tidak bisa kita cegah. Menurutku ini total human error, kesalahan dan kelalaian manusia. Jangan bilang kalo ini takdir ya, takdir nggak masuk hitungan dalam analisisku kali ini. (Jangan cap aku sebagai orang musyrik karena mengatakan ini)

Memang membutuhkan biaya besar untuk memperbaiki dan memelihara sebuah tanggul. Konon sampai milyaran rupiah setiap tahunnya. Entah apakah perbaikan tanggul Situ Gintung dianggarkan di APBD/APBN 2009 atau tidak, yang jelas itu sudah terlambat sekarang.

Aku heran aja, kenapa kita terbiasa mengobati daripada mencegah sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Masyarakat sekitar tanggul sudah melaporkan perihal kondisi tanggul yang mengkhawatirkan kepada pemerintah setempat. Bukan hanya sekali, melainkan berkali-kali. Hasilnya adalah nihil sampai robohnya tanggul itu terjadi.

Kalau sudah ribut-ribut begini, barulah semua pihak sibuk turun tangan. Memperlihatkan rasa simpati dengan berbagai cara. Presiden dan wakil presiden sendiri terjun langsung ke lapangan. Beserta Gubernur Banten dan semua dinas terkait, mereka menjanjikan untuk merelokasi korban selamat. Sayangnya hal itu tidak disambut antusias oleh para korban.

Pertanyaanku adalah: kemana mereka semua (pemerintah; red) pada saat masyarakat sekitar Situ Gintung meneriakkan suara mereka tentang kondisi tanggul yang sudah tidak layak?

Oke, aku ngerti akan sulit sekali mengalokasikan dana milyaran rupiah ‘hanya’ untuk memperbaiki dan memelihara infrastruktur sebuah tanggul. Kalau di lihat dari sisi tukang dagang mah, negara teh banyak dirugikan, alias nggak balik modal sehingga dana yang mengalir ke kas negara tersendat-sendat. Ya gimana nggak rugi, lah kebanyakan duit masuk ke kantong pribadi alias dikorupsi. Tuh kaaaan, ujung-ujungnya ke situ juga.

Jadi, menurut analisis otakku yang simpang siur, robohnya tanggul Situ Gintung diakibatkan oleh para koruptor yang ‘menyunat’ uang negara sehingga dana yang tadinya untuk perbaikan dipindahkan ke pos lain yang dianggap lebih penting oleh pemerintah, misalnya gaji anggota dewan. Duh, ke situ lagi, ke situ lagi. Hayo, bapak-bapak dan ibu-ibu di KPK, berminat merekrut aku jadi pegawai kalian? 😀 Eniwei, enak banget yah punya pihak yang bisa dijadikan kambing hitam?

Kembali ke masalah marah tadi, semoga peristiwa ini bisa memberikan efek jera dan pelajaran berharga. Bagi pemerintah (baik pusat maupun daerah), ya sekali-kali ditinjau kembali masalah-masalah yang seharusnya dijadikan prioritas. Juga jangan pura-pura tuli terhadap keluhan masyarakat. Ingat, kami-kami inilah yang mendudukkan kalian di kursi yang kalian nikmati sekarang.

Bagi masyarakat, ini pelajaran juga. Jangan membeli tanah atau membangun rumah di sekitar bantaran sungai yang rawan banjir, apalagi di dekat-dekat tanggul atau waduk yang sewaktu-waktu bisa roboh. Selain itu, dobrak semua birokrasi yang njelimet. Kalau dirasa masalah kita urgent dan penting untuk hajat hidup orang banyak (cieeee) , maka suarakanlah terus. Kalau sekali nggak mempan, suarakan lagi sebanyak mungkin. Lain kali kalau mau lapor, nggak usah ke kelurahan atau kantor Gubernur. Ke istana negara ajah kayak korban lumpur Lapindo. Aku tahu sebelum bencana ini terjadi, masyarakat sekitar tanggul sudah melapor ke pemerintah. Tapi itulah, terlambat ditanggapi. Bahkan mungkin nggak didengar sama sekali. Setelah bencana terjadi, barulah ribut-ribut membantu. Apa karena sebentar lagi pemilu ya?

sumber gambar: http://tatanggustawan.blogspot.com

Leave a Reply