Kita Tak Akan Pernah Tahu, Kemana Arah Angin Menuju

 

Kita tak akan pernah tahu, kemana arah angin menuju. 

 

* 
Jendela di belakang kamarku selalu bercerita bahwa angin tidak pernah beranjak tua. Mereka, angin-angin itu, juga tak pernah berhenti mencari ruang hangat di kedalaman dada setiap batang dan daun dan pohon dan bunga dan gunung dan tanah dan ranting dan apapun. 
 
Aku sendiri kerap dirasuki jutaan titik, dadaku busung, perutku kembung, punggungku penuh garis-garis lurik. “Masuk angin,”, seringai jendela itu padaku. 
 
Entah, mungkin si jendela berkhianat lalu menyelundupkan angin-angin ke dalam dadaku ketika aku jatuh tertidur. Padahal bertahun-tahun aku melepaskan satu persatu angin yang kerap menggerogoti di kedalaman dada. 
 
Aku kini tahu bahwa masing-masing dari mereka tak pernah memiliki alamat tetap untuk mereka sebut rumah. Mereka datang, kadang menetap lama, kadang kita mengusir mereka pergi meski kita sendiri tahu bahwa rumah tempat mereka memang di sini. 
 
(BUKAN SALAHKU KARENA MENCINTAIMU, BUKAN SALAHMU KRN DICINTAIKU) 

 

 

 

banguntidurdanhanyaingatkamu

Leave a Reply