Komedi Sepahit Kopi; Potret Suram Indonesia di Era Reformasi

Judul: Komedi Sepahit Kopi (Kumpulan Reportase Satu Dekade)
Penulis: Zaky Yamani
Penerbit: SvaTantra (Oktober, 2013)
ISBN: 978-602-14321-2-9
Halaman: 318 halaman

Komedi Sepahit Kopi (KSK), sesuai dengan judulnya, berisi 10 reportase penulis yang bisa diibaratkan seperti secangkir espresso double shoot; nendang, pahit, getir. No sugar allowed. No sugar at all. 

Bab pertama masih bisa membuat saya tertawa ketika membayangkan dua orang jurnalis muda (Zaky dan Bangkit) mengencingi laut seperti dua bocah laki-laki bertemu dengan permainan baru. Saya masih bisa tersenyum membayangkan mereka nyaris mabuk laut meski setelah itu dipaksa merenung tentang betapa para nelayan di Santolo mempertaruhkan nyawa demi ‘bayaran’ tak seberapa untuk menyediakan ikan-ikan laut yang saya makan, yang Anda makan, yang kita makan.



Bab kedua, saya masih bisa tertawa, menertawakan kekonyolan penulis dan kawannya Bangkit. Tapi bersamaan dengan halaman demi halaman yang saya mamah kemudian, tawa itu kian hilang. Berganti dengan raut suram dan dada yang berdebur geram. Tidak pernah saya merasa sesedih itu ketika membaca sebuah buku nonfiksi. Mungkin karena tokoh-tokoh yang ada di KSK adalah nyata, karena orang-orang yang dibelit kemiskinan itu benar-benar ada, karena keanjingan pemerintah Indonesia juga sama-sama saya rasa.

Bab ketiga dan seterusnya, saya sama sekali tidak sanggup tertawa. Yang ada adalah rasa sedih dan marah. Bagaimana tidak, kemiskinan, kelaparan, ketidakadilan, ketimpangan sosial itu bukan terjadi jauh di belahan lain Indonesia sana melainkan di provinsi yang sekarang saya tinggali, bahkan di kota yang sekarang saya diami.

***


KSK, meski bertajuk kumpulan reportase, namun seperti yang ditulis oleh penulis dalam pengantarnya, adalah tulisan yang memangkas jarak antara objektivitas jurnalistik dengan pembacanya. Melalui KSK pula, kita akan diajak menelusuri jalan yang ditempuh oleh para jurnalis agar ada berita yang dapat kita santap di koran setiap pagi. Bukan jalan yang mudah memang ketika membayangkan mereka harus menyebrangi sungai dengan sepeda motor, atau berkutat dengan konflik psikologis di daerah-daerah bencana.

Melalui KSK, kita tidak hanya diajak untuk mencermati proses sebuah karya (dalam hal ini berita), tapi juga segala sesuatu di balik itu. Kita (terutama saya) jadi tahu bagaimana potret sebetulnya masyarakat Garut pedalaman; para petani yang kelaparan, para nelayan yang menggunakan ban untuk menangkap ikan, para peternak transmigrasi lokal (translok) yang dikebiri janji demi janji tanpa ditepati.

Potret suram masyarakat marjinal inilah yang menjadi garis merah KSK. Potret yang mengerucut ke sumber yang sama; kelalaian pemerintah.

KSK membawa kesadaran tak terbantahkan; bahwa Indonesia masih menjadi negeri terbelakang.

***

Dengan sampul buku bergaya vintage yang sedang inn karya Domus, buku ini tentu dapat menarik pembeli jika dipajang di rak toko buku manapun. Sayangnya masih ada beberapa (lebih dari 3) typo yang menjadikan kenyamanan membaca berkurang. Di cetakan berikutnya, saya harap proof reader-nya bekerja lebih keras lagi.



Kebun Seni, 25 Oktober 2013

One Comment

  1. March 17, 2016 at 1:02 pm

    Wah pengen baca..

Leave a Reply