Ujian Akhir Nasional kembali menuai kontroversi. Waktu pelaksanaan yang dimajukan karena heboh pemilu. Standar kelulusan yang semakin tinggi setiap tahun. Pelaksanaan ujian dipenuhi kecurangan dan sms berisi jawaban. Sampai hasil ujian yang terlambat sampai ke daerah.


Aku teringat waktu Ebtanas SMK dulu (dulu masih disebut Ebtanas). Sepertinya tidak seheboh sekarang-sekarang ini.


Tahun lalu ada bermacam-macam ritual menjelang UAN. Isthigashah akbar lah, muhasabah masal lah, misa besar-besaran lah, dan persiapan-persiapan lain yang justru tidak mencerminkan kesiapan, melainkan kepanikan. Tahun ini aku tidak mendengar persiapan ‘aneh’ karena teredam isu pemilu, kecuali permintaan doa dari para pelajar yang akan UAN. Beredar di milis-milis, di face book, di blog, bahkan di rumpi-rumpi ibu rumah tangga, “Doain ya, anak saya mau ujian. Semoga lancar dan lulus!” Halah, kenapa nggak pake selebaran aja kayak kampanye caleg.



Aku sempat berpikir, negatif dan positif. Positifnya, semoga ujian ini menjadi tempaan bagi para pelajar supaya kelak menjadi generasi penerus bangsa yang tahan banting. Negatifnya, prihatin terhadap sistem pendidikan Indonesia, bukannya mendidik para kader penerus bangsa, malah membuat mereka stress. Boro-boro mau bersaing di pasar global, dihadapkan pada ujian negara saja sudah KO.


Mmmhh… apanya yang salah ya? Nggak, aku nggak lagi nyari kambing hitam, kok. Aku lagi nyari benang putusnya di mana.


STANDAR KELULUSAN. Angka 5,5 sebagai rata-rata kayaknya nggak terlalu besar deh (jangan sampai ngomong seperti ini di hadapan anak SMA, karena kita bisa ditimpukin). Kalau matematika dapet 2, tapi PPKN dapet 9. Terus pelajaran lain dapet 7. Kan lulus juga. Kalo semuanya di bawah 5? Standarnya atau peserta ujiannya yang salah?


SOAL-SOAL YANG TERLALU SULIT. Sesulit apapun jika pernah dipelajari dan terbiasa memecahkannya, para peserta ujian punya persentase besar untuk menjawab benar. Walaupun ngitung kancing, setidaknya nggak sembarangan ngitung.


BANYAK SOAL-SOAL ‘ALIEN’. Ini nih yang jadi masalah sebenarnya. Banyak soal-soal super rumit, bahkan sama sekali belum dipelajari. Sehingga para peserta ujian cuma bisa memandangi lembarang soalnya dengan rasa bingung dan frustasi luar biasa.



Waktu SMP dulu aku pernah punya guru yang doyan ‘menyiksa’ siswanya dengan cara memberikan pelajaran sehari-hari dari satu sumber buku dan memberikan soal-soal ulangan umum dari sumber buku yang lain (otonomi sekolah, soal-soal ulangan umum dipersiapkan oleh guru bidang studi yang bersangkutan). Ketika aku bertanya kenapa hal itu ia lakukan, ia hanya menjawab bahwa siswa seharusnya juga mempelajari buku yang ia jadikan sumber soal ujian. Berkata begitu seakan-akan kami dan beliau bisa telepati. Benar-benar phsycho!


Barangkali emang di sini letak permasalahannya. Meskipun kurikulum pelajaran disamakan. Tapi setiap sekolah dan guru bidang studi kadang memakai buku paket yang berbeda. Disesuaikan dengan keadaan ekonomi orang tua siswa (percaya atau tidak)


Sumber mata pelajaran sehari-hari diambil dari satu buku pegangan, sedangakan para pembuat soal ujian nasional mengambil sumber dari buku yang lain. Di mana tittik temunya coba?


Pengalaman seperti ini aku rasakan setiap ulangan umum di SD. Bahkan soal-soal Ebtanas dulu sama sekali asing. Pembuat soal Ebatanas itu yang terlalu baik sangka bahwa kami bisa mengerjakannya ataukah para pengajar yang salah langkah. Yang aku tahu bahwa setelah Ebtanas aku marah-marah sama guruku (murid kurang ajar kan aku?)



Jadi ketika mau menghadapi Ebtanas SMP, aku merangkum satu mata pelajaran dari berbagai sumber buku yang berbeda. Meminjam dari teman-teman yang sekolah di SMP negeri dan dari perpustakaan sekolah. Untuk satu mata pelajaran, setidaknya ada sembilan buku pegangan. Kaliakan dengan lima mata pelajaran yang diujikan. Ditambah mata pelajaran IPA yang terdiri dari fisika dan biologi. IPS yang terdiri dari ekonomi, geografi, dan sejarah. 8 x 9 = 72 buku bahan ulangan. Kupelajarai selama enam bulan menjelang ujian. Eits, masih ada buku soal-soal Ebtanas lima tahun terakhir. Untung saja aku masih waras sampai sekarang. Yah, emang nggak sia-sia sih. Aku pun sukses jadi juara umum dengan rata-rata NEM 8. Dapat piagam penghargaan dan orang tuaku diundang ke acara perpisahan yang diadakan di hotel bintang empat.



Pelajar jaman sekarang kan belum tentu mau repot. Mau sekolah tanpa bolos aja udah syukur Alhamdulillah.



So, kesimpulannya adalah sistem pendidikan Indonesia (halah, bahasaku nggak kuku!) yang diwarnai dan diperkeruh oleh ketidaksinambungan antara mata pelajaran yang diajarkan sehari-hari dengan soal-soal yang diujikan. Pihak pembuat soal ngeles dengan mengatakan bahwa kenaikan standar kelulusan itu sudah disimulasikan terlebih dahulu. Lha, kalau udah ada simulasi kok hasilnya kayak gini?



Bila salah satu ada yanga mau mengalah, aku yakin insiden-insiden memalukan menjelang dan selama UAN tidak akan terjadi lagi tahun depan. Mungkin dengan cara para pembuat soal UAN turun gunung dulu ke lapangan untuk memantau sampai di mana mata pelajaran yang diajarkan sebelum kembali bertapa membuat soal. Ataukah para pendidik dan pelajar mau pro-aktif menyesuaikan kurikulum ‘standar’ nya para pembuat soal.



Semoga saja adik-adik pelajar yang telah mengikuti UAN tahun ini lulus dengan nilai memuaskan. Dan bagi mereka yang belum lulus, jangan menyerah. Ijazah bisa dibeli, kok. Huahaha… jangan didengar ya, ini ajaran sesat. Semoga saja kalian siap tempur tahun depan. Ikuti saran Teteh, jangan terlalu banyak nonton sinetron dan nongkrong di mall yah. Percaya deh, kalian bisa menikmati semua itu setelah lulus nanti dan akan bosan sendiri. Ingat pepatah ini: ‘Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, nongkrong di mall kemudian.’



2 Comments

  1. Skylashtar-Reply
    April 30, 2009 at 7:46 am

    Sebenarnya para ‘relawan’ itu tidak melulu melakukannya karena uang kok. Oknum guru misalnya, mereka melakukan itu karena takut siswanya tidak lulus. Jumlah siswa yang lulus mempengaruhi prestise sekolah.

  2. April 30, 2009 at 6:07 am

    Selamat termehek2 buat yang UAN. Saya selalu prihatin dengan bocornya soal2 UN. Sebegitu besarnyakah kesulitan hidup sekarang ini sehingga harus mencari duit dari menjual soal UN.

Leave a Reply