MELIHAT BATAM MELAUI BLOG; Bagiku itu artinya menelaah seluk beluk kota Batam melalui berbagai sisi. Testimoni pribadi ataupun pandangan masyarakat umum di luar Batam terhadap kota ini. Lupakan dulu tentang yang manis-manisnya, mari kita masuk ke dalam labirin pahit; kehidupan yang sebenarnya.


Di kota manapun, selalu ada yang namanya orang miskin dan orang kaya. Juga ada istilah yang kaya makin kaya dan yang miskin makin miskin. Batam punya puluhan komplek pemukiman mewah. Sebut saja San Dona, Baloi View, Puri Mas, Duta Mas, Costarina. Dan sempat dijuluki kota sejuta ruko pula.


Urbanisasi menjadikan bisnis kost-kost an dan rumah kontrakan sukses besar. Karena sebagian besar para pendatang tidak mampu membeli atau kredit rumah sendiri. Meskipun banyak pemukiman yang katanya punya harga terjangkau, tapi tetap saja tidak terjangkau bagi kebanyakan orang. Jadilah mereka yang nggak sanggup membeli/kredit/kontrak rumah karena tidak punya penghasilan tetap mendirikan rumah-rumah di tanah-tanah kosong. Ada yang nekat pasang permanen, ada juga yang membangunnya semi permanen. Menggunakan papan dan tripleks. Dalam istilah di sini, yang seperti itu biasa dinamakan RULI alias rumah liar. Ya karena memang tanah yang ditempati bukan hak milik, dan juga tidak mengantongi izin membangun dari pemilik tanah. Jadi, resmi lah Batam mendapat julukan baru: Kota sejuta ruli (busyet, makin nyama-nyamain Jakarta nih)



Nggak maksud mengatakan bahwa yang tinggal di ruli itu miskin, yah (berhubung aku sendiri masih ngontrak di rumah semi permanen, meski bukan di ruli). Tapi keadaan seperti ini kontras dengan banyaknya perumahan baru yang dibangun oleh para developer, tapi setengahnya kosong karena nggak ada masyarakat yang sanggup beli. Waktu pameran perumahan di Nagoya Hill beberapa bulan lalu, ada konglomerat Jakarta yang langsung beli rumah lima cluster. Katanya untuk investasi.


Di situlah letak kesenjangan sosialnya, orang kaya beli rumah untuk investasi, nambah kekayaannya, bukan untuk ditinggali. Sedangkan ribuan orang lainnya terpaksa tinggal di rumah papan berukuran 2×3 meter. Dengan MCK seadanya, ventilasi udara seadanya, dan sanitasi yang juga seadanya.


So, gimana solusinya? Jujur, aku nggak tahu. Karena nggak mungkin kan aku minta para developer itu kasih rumah gratisan. Minta kenaikan gaji supaya semua orang bisa membeli dan kredit rumah sendiri? Ini mah tambah nggak mungkin lagi. Januari kemarin aja sampe mencret-mencret minta UMK disesuaikan dengan KHL (Kebutuhan Hidup Layak), itu pun nggak dikabulkan. Karena keberadaan dan keberlangsungan investor asing juga dipertimbangkan oleh pemerintah.


Barangkali dengan menurunkan (lagi) suku bunga KPR dan mempermudah syarat pengajuan kredit. Yah, daripada rumah-rumah yang udah kadung dibangun itu nggak laku coba. Mendingan diobral, iya nggak? 😀 Setidaknya kan balik modal.


Satu lagi nih PR buat pemerintah kota Batam. Pak Ahmad, Pak Ria. Peace! (^_^)


Ilustrasi dipinjam dari : www.flickr.com/photos/straga
Lokasi : Batu Ampar

Leave a Reply