Kota ini menjanjikan berbagai harapan serupa Jakarta. Bahkan bagiku, Batam lebih ramah dibandingkan Jakarta yang ‘kejam’ dan ‘beringas’. Kota ini akan menyandang gelar sebagai kota metropolitan tak lama lagi, mengingat tahun ini saja, penduduknya sudah mencapai 915 ribu jiwa. Ini akibat arus urbanisasi yang tinggi.


Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun menganggur di Bandung membuatku memutuskan untuk merantau. Tahun 2005 aku direkrut ke Lobam, Pulau Bintan. Tahun 2008 memutuskan untuk mengasah gigi di kota Batam. Berbekal ijasah SMK, Bahasa Inggris yang terbata-bata, kemampuan mengetik 200 epm, komputer, kearsipan, stenografi, manajemen (paan seeh, kok semua mata pelajaran disebutin?).


Mencari pekerjaan di Batam gampang-gampang susah. Buktinya, aku sendiri hanya sempat nganggur selama dua minggu. Ya iyalah, secara punya pengalaman sebagai production coordinator selama tiga tahun di PT….. (nggak mau nyebutin namanya, karena aku nggak dibayar untuk ngiklan :D).



Kata Bang Ahmad Dahlan (walikota Batam), lowongan kerja di Batam tuh buanyak banget. Buktinya, setiap hari Sabtu Batam Pos kebanjiran iklan lowongan kerjaan. Tapi nggak semua tenaga kerja bisa diserap oleh perusahaan dikarenakan keahlian yang tidak sesuai dengan kriteria perusahaan.


Tapi jika dibandingkan dengan kota-kota besar lainnya, masih lebih baik di sini. Asalkan kita punya kemauan dan kemampuan, serta kemauan untuk meningkatkan kemampuan, maka kita bisa sukses. Itu sebabnya kenapa aku tetap bertahan di Batam. Karena kota ini menjanjikan kehidupan yang lebih baik ketimbang di Bandung sana.


Selain lapangan pekerjaan yang isinya sales melulu, di Bandung juga banyak penipu yang mengatasnamakan pencari kerja. Sebel kan? Di Bandung juga, tidak semua pemberi kerja mau membayar sesuai dengan standar UMK. Kalau di sini, bayaran di bawah UMK sikit aja, pegawai ribut protes ke disnaker. En disnaker nggak tinggal diam. Di Bandung? Kalau mau dibayar segitu ya silakan, kalau nggak ya emang gue pikirin, masih banyak para pegawai yang rela dibayar kecil karena yang penting kerja.


Entah kenapa, di kota ini, aku selalu merasa ada masa depan yang lebih baik menanti. Bukan karena tak rindu kampung halaman. Melainkan karena itulah pengertian hijrah yang sebenarnya; menuju ke tempat yang lebih baik. Jadi selama ada kehidupan yang lebih baik di sini, maka selama itu pula aku akan bertahan. Bertahan dan mengembangkan sayap. Memupuk harapan dengan kompos paling baik dan menanam pohon asa di dalam tanah paling gembur. Mungkin esok lusa jika hujan tak batal turun, aku bisa memetik buahnya. Segera.




3 Comments

  1. April 15, 2009 at 6:06 am

    hiks…jadi ngiler ma Batam neh

  2. Skylashtar-Reply
    April 17, 2009 at 2:19 am

    Thank you, Brother! 😀
    Tapi… apa ntar walkot nggak marah ya sama kita, karena promosiin Batam sebagai kota tujuan urbanisasi. Hehe, padahal sekarang ketat banget mau masuk Batam.

  3. April 17, 2009 at 12:15 am

    Keep your spirit alive, Sister.
    I agree with you. For me, Batam is better than Java for job vacancy matter.

Leave a Reply