Malam ini, aku ingin menjelma kunang-kunang. Agar lesap ia menjadi cahaya dan berpendar merah juga jingga. Tidakkah kau tahu bahwa kita semakin berjarak seakan-akan ada bentangan jerjak yang menghalang, senantiasa merentang? Tidakkah kau lihat bahwa sayapku sendiri tercabik duri-duri? Seperih apakah rasa sunyi ketika cahaya dan suara kerap berkhianat terhadap dada sendiri?
Kau dan aku sudah terpisah sekian tahun perjalanan, kau dan telah pernah memamah setiap getir air mata, tangisan, bermacam kehilangan dan rasa ditinggalkan. Kita berdua adalah orang-0rang kesepian, sayang. Bergenggaman tangan tidak akan membuat kita mati kepanasan, maka apa salahnya jika sekali saja kau genggam tanganku?
Tidak ada yang salah dengan kita akhir-akhir ini, tidak aku, tidak juga kau, tidak pula keinginan-keinginan yang bertumpukan di kedua sisi lengan. Kita hanya lupa bagaimana caranya mengepak, sebab kita terlampau sering sendirian sehingga kita ketika berdua, sayap kita kerap kali berbenturan.
Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin dipeluk, hanya ingin dicium, hanya ingin diperlakukan sebagaimana seorang perempuan diperlakukan. Tidakkah itu membosankan? Tidakkah itu sedemikian sulit direalisasikan? Bumi ini fana, sayang. Usia kita mengenal batas kadaluarsa, dan aku tak ingin mati ditikam harapan semu tentang sebuah kebersamaan.
Seperti tangisku yang dahulu, aku kerap kali merasa kesepian dan sendirian. Sendirian….

Leave a Reply