LAKI-LAKI (1)

Karena laki-laki hanya bisa bicara bahasa laki-laki
anggun…
lemah lembut…
bak awan atau harum manis
menciut
seperti kerupuk tersiram air panas
Tak peduli kapan atau bagaimana bermain di ranjang
pada gelap atau remang cahaya lampu ruang sebelah
karena laki-laki tak peduli
Rindu hanya hiasan dinding
di ujung, sudut ruang
jaring laba-laba
atau taik kecoak
barangkali cecak
Apresiasi tinggi hanya bualan bagi laki-laki
seperti menyumbat telinga yang sudah ‘congek’
menambah sakit dan perih
karena laki-laki hanya tahu bermain cara laki-laki
tak menyebar
pupus…
lamban
lam…ban…
l a m b a n
l…a…m…b…a…n…
24 Juli 2002
***
Puisi ini kubuat sewaktu berumur 19 tahun. Ketika aku membacanya sekarang, ada aroma kengerian yang tertunda. Puisi ini terlalu kasar, terlalu tabu, dan terlalu pahit untuk ukuran gadis seusia itu. Sepahit itukah aku dahulu?

Aku bahkan lupa peristiwa apa yang melatar belakangi lahirnya puisi ini. Siapa gerangan orang yang berhasil membuatku semarah dan sesinis ini? Luppppaaa.

Tapi walau bagaimanapun, sebuah karya adalah representasi penulisnya. Mengapresisasi puisi sendiri terlanjur sulit karena ada keterlibatan pribadi. Jadi, silakan berpikir dan merasa sesuka hati Anda ketika membaca puisiku.

Leave a Reply