Langit Amaravati

5
Dec

Satu Lagi dari Bandung, Amanda Bolu Pandan

Ketika mendengar kata “Bandung”, apa yang pertama kali tebersit di benak Anda? Cuacanya yang dingin? Mojang-jajakanya yang geulis dan kasep? Pusat factory outlet? Atau … makanannya? Well, sebagai orang yang lahir dan besar di Bandung, meski penampakan saya kerap kali diragukan, mau tidak mau saya ikut juga menjawab pertanyaan di atas. Walaupun bukan penggemar wisata kuliner garis keras, tapi saya akui bahwa hal yang paling dirindukan dari kota ini tak lain dan tak bukan adalah makanannya. Selama 5 tahun merantau di Lobam dan Batam, hal-hal yang memanggil-manggil saya agar cepat-cepat pulang justru batagor, cilok, tahu cibuntu, dan cireng Mang Entis.  Read more

30
Nov

Menolak Tua di Meja Kerja dengan Acer Switch Alpha 12

 

 

Menolak Tua di Meja Kerja

dengan Acer Switch Alpha 12

Waktu itu, tiga tahun lalu, saya tengah mengandung 12 minggu ketika pindah kos ke Cimahi. Sendirian dan tak punya pekerjaan tetap. Tak banyak barang yang saya bawa. Hanya satu tas baju, dua kardus buku, ponsel GSM biasa, modem, dan satu unit PC yang saya pinjam dari Meitha karena laptop saya rusak. Saya bahkan tak punya kasur. Selama berbulan-bulan tidur beralaskan tikar dan sleeping bag yang juga pinjaman.

Tanpa pekerjaan tetap, jangan tanya bagaimana saya bertahan. Bisa mengisi perut dua hari sekali saja sudah cukup bagus, yang penting uang kos tetap terbayar agar saya tak harus tidur di jalanan. Satu-satunya yang saya pegang saat itu adalah harapan, sedangkan harapan adalah sesuatu yang cepat tumbuh, lekas pula luruh. Pada masa-masa kehamilan yang begitu berat, dengan lapar yang melilit perut, saya kira hidup saya selesai, tapi Tuhan punya skenario lain. Read more

27
Nov

Nak, Kita Memang Butuh Liburan

Andai waktu bisa diputar ke belakang, ada banyak hal yang ingin saya perbaiki. Salah satunya adalah hubungan saya dengan Aksa, putra bungsu saya yang baru berusia 26 bulan itu. Beberapa bulan terakhir saya kerap sibuk dengan urusan saya sendiri dengan alasan yang semakin dibuat-buat: bekerjalah, mengawal konflik agrarialah, minta suaka WIFI-lah, liputan di luar kotalah, dan sebagainya, dan sebagainya. Padahal, jauh di dalam hati, saya tahu betul alasan saya apa: saya terlalu keras pada diri sendiri hingga lupa bahwa fungsi utama saya adalah seorang ibu, bukan pekerja, bukan pula relawan.

Akhir-akhir ini Aksa jadi lebih sering kolokan, lebih sering melemparkan barang, sering menangis ketika dijemput pengasuhnya, dan setiap kali saya bersiap-siap, dia selalu menatap saya dengan mata bulatnya, “Ana, Nda? Dedek ikut, Nda.”

Rengekan yang mau tidak mau membuat saya berpikir ulang, memangnya selama ini saya bekerja untuk siapa? Apalah arti kerja keras saya jika ujung-ujungnya justru menghancurkan hubungan kami? Mengapa saya lebih bersemangat menjadi bapak yang mencari nafkah alih-alih menjadi ibu baginya? Read more