Langit Amaravati

16
Jun

DIY Education Flashcard + Free Printable Flashcard

DIY Flashcard for Toddler &
Free Printable Flashcard

Children are the anchors of a mother's life.
-Sophocles

Usia Aksa 19 bulan ketika saya didiagnosis menderita Post Partum Depression (PPD). Depresi yang bukan hanya merenggut kewarasan saya, tapi juga membahayakan nyawanya. Dengan masa lalu yang sekelam malam (KDRT, pelecehan seksual, suami yang pergi dengan perempuan lain, tekanan hidup, dan masih banyak lagi), depresi pasca melahirkan hanyalah letupan kecil. Jauh di dalam sini, ada magma dan lava yang siap meledak kapan saja. Magma dan lava yang berasal dari rasa marah dan trauma-trauma yang tidak selesai. 

Saya single parent yang bekerja sebagai freelancer. Karena hanya tinggal berdua dan jauh dari keluarga, untuk menjaga keberlangsungan hidup kami, Aksa dititipkan kepada pengasuh sejak usianya 4 bulan. Karena saat "kumat" saya cenderung destruktif, saya mulai menarik diri dari Aksa. Tak jarang, berhari-hari Aksa menginap di rumah pengasuhnya. Saya selalu memiliki alasan untuk tidak bertemu dengannya. Kami, ibu dan anak yang diikat oleh darah, perlahan-lahan berubah menjadi dua orang asing. 

Mbak Nina, psikolog yang menangani saya, mengatakan bahwa terus-terusan menghindar bukanlah solusi karena semakin kami dibebat jarak, semakin sulit bagi saya untuk menyembuhkan depresi. Salah satu langkah untuk menyembuhkan justru dengan membangun kembali attachment atau kelekatan antara saya dan Aksa. Dan ini bukan hanya untuk kesembuhan saya, tapi juga untuk menjaga kondisi psikologis Aksa. 

Mula-mula saya menganggap bahwa saran Mbak Nina hanyalah penghiburan semata. Saya dan Aksa memang jarang sekali memiliki waktu yang berkualitas, bermain dengan anak bagi saya hanyalah formalitas. Akibatnya, perkembangan Aksa memang terhambat. Di usianya yang waktu itu sudah 19 bulan, Aksa hanya mengenal 4 kosakata: mama, dada, tata, nyenye. 

Demi masa depan Aksa dan demi kesehatan mental saya, saya mulai berubah. Mulai kembali membangun kelekatan, merumuskan berbagai metode permainan yang aman dan nyaman bagi kami berdua sekaligus merangsang kemampuan berbicaranya. 

AKSA

  • Usia: 2 tahun 9 bulan
  • Hobi: menonton film kartun bahasa Rusia dan Jerman
  • Mainan Favorit: kereta api dan mobil-mobilan
  • Falsafah Hidup: "Mang escim, unggu! Dedek mo beyi!"

Membangun Attachment dengan Anak
Melalui Flashcard

Tiga bulan setelah diagnosis itu, dengan alasan untuk lebih membangun kelekatan juga untuk menekan pengeluaran, saya memutuskan untuk mengasuh Aksa sendirian, tidak lagi menitipkannya kepada pengasuh. Dengan begini, kami punya lebih banyak waktu untuk bersama.

Membangun attachment bisa dilakukan dengan banyak cara, salah satunya dengan bermain bersama. Dan dari sekian banyak permainan yang kami lakukan, ada satu yang paling efektif: flashcard.

Metode yang saya gunakan sebetulnya sederhana, untuk menstimulasi, pertama saya menunjukkan gambar sebuah benda dan pelan-pelan menyebutkan namanya. Mula-mula ia memang tidak meniru, tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Tapi saya terus mengulanginya. Lama-kelamaan ia mulai mengenali objek dan mulai meniru apa yang saya ucapkan.

Tidak disangka, dalam beberapa bulan perkembangan verbal Aksa meningkat pesat. Seperti ingin mengejar ketertinggalan, ia menyerap banyak sekali kosakata dan mencerna maknanya. Pun, ia mulai lancar berkomunikasi, tidak lagi hanya menunjuk sambil berteriak.

Bukan hanya kemampuan verbal dan visual Aksa yang berkembang pesat, karena sering menghabiskan waktu bersama, "hubungan" kami pun berangsur-angsur membaik. Ia yang tadinya selalu menangis dan ingin bermalam di rumah pengasuhnya, mulai kembali lekat dengan saya, ibunya.

Lalu, bagaimana dengan kesehatan mental saya sendiri? Bagi saya, ini juga terapi. Jujur, sebagai desainer lepas yang setiap hari berkutat dengan desain grafis, sempat tebersit semacam rasa bersalah. Masa mendesain buku untuk orang lain sempat, tapi mendesain alat edukasi untuk anak tidak? Karena tidak menemukan flashcard yang cocok untuk Aksa, maka saya membuat flashcard sendiri sekaligus menebus rasa bersalah itu tadi.

Seiring perkembangan waktu, emosi saya mulai stabil. Memang, sih, sesekali saya masih "kumat", tapi tidak ada lagi percobaan bunuh diri. Efek positif lainnya, saya mulai percaya diri, tidak lagi menganggap diri sendiri sebagai ibu yang gagal. Dari satu seri flashcard, berkembang ke seri lainnya. 

Manfaat & Poin Plus Flashcard

Flashcard bukanlah metode pendidikan berbasis permainan yang baru ada sore kemarin.
Sudah ada sejak abad ke 19, bahkan lebih tua lagi. Sejak tahun 1923, flashcard sudah digunakan sebagai metode pengajaran dan terbukti efektif. Flashcard sebagai media dan metode edukasi sudah digunakan di seluruh dunia, bukan hanya bisa diterapkan kepada balita, tapi juga kepada semua jenjang usia.

Adaptif

Flashcard bisa digunakan untuk anak usia berapa saja. Kita hanya perlu menyesuaikan gambar atau informasi dalam flashcard dengan jenjang usia anak kita. Misalnya, untuk anak di bawah 1 tahun, kita bisa memperkenalkan anggota keluarga, warna, atau anggota tubuh.

Stimulatif

Untuk anak seusia Aksa yang sedang belajar berbicara, flashcard dapat membantu menstimulasi kemampuan verbal, visual, dan kemampuan mereka dalam mengenali objek. Selain itu, flashcard juga bisa dijadikan sarana untuk menambah kosakata anak.

Edukatif

Tergantung tipe anaknya, tapi pada umumnya, manusia lebih mudah belajar dengan stimulasi visual. Mengajarkan warna, nama-nama binatang, atau benda sehari-hari menjadi lebih mudah karena rangsangan yang diberikan adalah berupa gambar atau media visual itu tadi. 

Efektif

Ketika kita menunjukkan satu gambar, otak anak akan merekonstruksi jawaban. Proses ini dikenal sebagai active recall. Uniknya, yang dibangun bukanlah ingatan, tetapi konsep dari objek tersebut. Contoh, jika anak sudah mengenali sebuah objek sebagai meja, misalnya. Ketika kita menunjukkan gambar meja lain dengan warna atau variasi bentuk yang berbeda, anak akan tetap mengenali itu sebagai meja. 

Repetitif

Stimulasi paling bagus adalah stimulasi yang diberikan secara berulang (repetitif). Tapi, karena anak-anak memang cenderung pembosan, sulit untuk bermain atau belajar secara konstan dalam jangka waktu lama. Nah, karena flashcard berbentuk kartu, bukan buku, kita bisa mulai bermain dari kartu mana saja. Juga bisa menghentikan permainan ketika si kecil sudah terlihat mulai bosan. 

Metakognitif

Tak jarang, saya mencampur beberapa seri secara acak. Misalnya, seri hewan dengan seri buah-buahan. Atau, stimulasi verbal dengan stimulasi eksplorasi lingkungan. Karena acak inilah, anak akan mulai bertanya apakah jawabannya benar atau tidak. Proses self evaluation ini disebut metakognisi. CMIIW.

Di sisi lain, ini juga memicu anak untuk lebih percaya diri.

Proaktif

In my opinion, flashcard bukanlah perlombaan mengingat, bukan seperti pelajaran hafalan di sekolah. Salah satu yang saya "kejar" justru bagaimana Aksa bisa aktif terlibat. Misalnya, ketika saya menunjukkan gambar seekor jerapah dan dia belum tahu itu hewan apa, dia akan bertanya, "Ini apa, Unda?" Atau ketika saya menunjukkan gambar ayam tapi mengatakan bahwa itu gajah. Aksa, dengan suaranya masih cadel-cadel, akan mengoreksi, "Ukaaannn ... itu am."

Dengan begini, akan memicu keberanian anak untuk bertanya sekaligus menstimulasinya untuk mengemukakan pendapat.

Variatif

Flashcard memiliki banyak jenis dan bentuk. Kita bisa dengan mudah memilih atau membuat flashcard sesuai dengan kebutuhan dan periode tumbuh kembang. Selain itu, kita bisa menggunakan variasi metode permainan. Misalnya, ketika menunjukan gambar sebuah kursi dan si anak menjawab, kita bisa mengajukan pertanyaan kedua seperti, "Kursi ini warnanya apa?" Atau, "Kalau kursi dengan lemari besar mana?" Atau, "Pinterrr ... coba, kalau di kamar ini, yang mana kursi?"

Kreatif

Selain menstimulasi anak, menurut saya flashcard juga bisa menstimulasi orang tua, terutama orang tua yang picky seperti saya. Karena pada dasarnya senang mendesain, saya terlecut untuk membuat flashcard seri dan konten lainnya. Saya juga jadi banyak membaca artikel-artikel dan buku edukasi anak. 

Kreativitas tidak berhenti sampai di sana, flashcard juga bisa digabungkan dengan mobil-mobilan atau kereta api favorit Aksa. Semacam permainan mencocokkan gambar dengan mainan atau benda di sekitarnya.

Tip Memilih atau Membuat Flashcard

Saya yakin, Anda pasti sudah hafal di luar kepala tentang kaidah memilih mainan dan media pendidikan untuk batita, tapi tidak ada salahnya kalau saya kembali mengingatkan. 

Material

Karena ini untuk anak di bawah usia 3 tahun yang notabene belum mengerti bahwa stapless itu bukan sejenis camilan, pilihlah material yang tidak beracun dan tidak mudah lepas. Flashcard bisa dibuat dengan kertas apa saja, bahkan kertas HVS atau dari kardus bekas. Tapiii ... tapi, nih. Anak seusia Aksa masih suka memasukkan apa pun ke mulut dan menganggap kertas sebagai benda untuk latihan menyobek. Jadi, Moms, pilihlah flashcard dari bahan yang tidak mudah robek seperti cardboard paper, art paper, atau concorde dengan gramasi minimal 260 gram. Agar lebih awet, bisa dilaminasi. 

Agar flashcard  tidak mudah tercerai-berai seperti hati, sebaiknya disatukan dalam satu boks atau menggunakan klip. Pilih ring clip karena bentuknya bundar dan tidak bersudut sehingga tidak berbahaya bagi anak, juga karena ring clip tidak mudah dilepas. 

Ukuran

Agar mudah digunakan, disimpan, dan dibawa ke mana-mana, sebaiknya pilih ukuran yang tidak terlalu kecil atau terlalu besar. Untuk balita, ukuran 12 x 8 cm saya kira cukup. 

Desain

Nah, ini yang sering menjadi kendala saya ketika membeli flashcard di pasaran: desainnya itu, lho. Sebagai desainer *eheum, yang sedikit banyak mengerti tentang media komunikasi visual, saya kerap menemukan flashcard untuk batita yang sebetulnya isinya edukatif tapi desainnya justru kontraproduktif. Misalnya, memakai latar dengan warna-warna mencolok atau neon color atau latar dengan banyak ornamen. Kelihatannya mungkin "indah" atau "lucu" tapi ini justru akan mendistraksi perhatian anak.

Untuk anak yang sedang belajar membaca atau flashcard berisi materi abjad atau nomor, pemilihan jenis huruf sangatlah berpengaruh. Hindari menggunakan huruf jenis script (tegak bersambung) karena sulit dibaca kecuali kalau Anda memang sedang mengajarkan huruf tegak bersambung. Sebaiknya gunakan huruf serif atau sans serif yang sederhana atau jika ingin menggunakan variasi huruf, pilihlah huruf-huruf yang yaaa ... mudah dibaca.

Konten

Kitalah yang paling tahu perkembangan dan kebutuhan anak kita. Kita tidak bisa memaksa anak kita yang masih batita untuk bisa membaca seperti anak tetangga, sedangkan berbicara saja masih belum lancar, misalnya. Pun, kita tidak bisa memaksakan agar anak kita mampu menyerap setiap hal yang ada di flashcard hanya karena si penjual mengatakan bahwa flashcard itu untuk anak 1-3 tahun. Itu sebabnya saya lebih suka membuat flashcard sendiri karena sayalah yang paling tahu kebutuhan Aksa. 

Target & Klasfikasi

Karena ini untuk pendidikan dan stimulasi, tentu kita mesti menetapkan semacam target. Misalnya, agar anak lebih mudah mengenali warna atau agar anak terstimulasi untuk berbicara. Setelah itu baru tetapkan klasifikasi flashcard yang akan digunakan. 

Saya sendiri menggunakan flashcard bergambar hewan untuk menstimulasi kemampuan verbal dan visual Aksa. Untuk menstimulasi kemampuan dia mengenali objek sekaligus mengajak dia mengeksplorasi lingkungan sekitar, saya menggunakan gambar benda yang sehari-hari ia temui. Flashcard benda sehari-hari juga bisa dipakai untuk menanamkan nilai-nilai dan mengajarkan standar keamanan. Misalnya, ketika menunjukkan gambar kompor, kita bisa menambahkan informasi seperti, "Kompor ini panas dan ini bukan mainan, Aksa tidak boleh jutrak-jetrek kompor, ya."

Berdasarkan pengalaman, Aksa sudah tidak berani lagi mainan kompor meski ya, setiap kali saya memasak dia akan berdiri di ambang pintu dapur dan menuding-nudingkan telunjuk, "Eh eh eh, Unda, itu ukan ainan. Panas, ih, panas." 

Nah, ngomong-ngomong soal flashcard, jika tidak menemukan jenis atau desain yang sesuai di pasaran, kita bisa, kok, membuat flashcard sendiri. Tidak, tidak usah jago menggambar atau mendesain. Kita bisa menggunakan aplikasi desain online seperti Canva dan menggunakan materi dari penyedia gambar atau vektor gratis. 

DIY EDUCATION FLASHCARD

PERALATAN & BAHAN

PERKIRAAN BUJET

CARA MEMBUAT

Pra-Desain

Sebelum mendesain, siapkan materinya terlebih dahulu. Anda bisa menggunakan foto, clip art, atau ilustrasi. Untuk membuat flashcard seri benda sehari-hari, saya menggunakan beberapa foto dari penyedia PNG image gratis. Untuk seri hewan, saya menggunakan vektor dari Freepik.

Peralatan dan Bahan

Peralatan:

  • Laptop/PC untuk mendesain
  • Printer (jika punya)
  • Gunting
  • Perforator (pembolong kertas)

Bahan:

Untuk membuat 50 pcs flashcard ukuran 12 x 8 cm, dibutuhkan 7 lembar art paper ukuran A3. Sebagai alternatif, Anda juga bisa menggunakan kertas concorde dengan gramasi sama.

  • 7 lembar art paper 260 gram
  • 1 buah ring clip ukuran 40 mm 

Bujet

Anda bisa membeli art paper dan ring clip di toko alat tulis. Tempat foto kopi? Tergantung tempat fotokopinya, sih, tapi biasanya tidak ada. Yang di Bandung coba deh ke Baltos. Di sana banyak jenis kertas dan segala macam kebutuhan craft. Harga art paper kira-kira 65 ribu/50 lembar. Jika membeli satuan jatuhnya sekitar 1.500 sampai 2.000 rupiah.

Mencetak sendiri:

  • Art paper: 7 x 1.500 = 10.500
  • Ring clip: 4.500
  • TOTAL = 15.000

Di percetakan digital:

  • Art paper: 7 x 7.500 = 52.500
  • Ring clip: 4.500
  • TOTAL = 57.000

Desain

Anda yang bisa menggunakan software desain seperti Indesign atau Corel saya sarankan lebih baik menggunakan kedua software tersebut. Tapi, bagi Anda yang kurang familiar dengan software desain dan lebih ahli menggunakan aplikasi online, bisa menggunakan Canva. Caranya bisa Anda lihat di video yang saya sertakan.

Cara Membuat

Setelah selesai mendesain, unduh ke dalam file PDF for print agar resolusinya cukup tinggi untuk dicetak.

  • Cetak flashcard.
  • Gunting sesuai ukuran.
  • Lubangi bagian pinggir atau tengah atas dengan perforator.
  • Satukan flashcard dengan ring clip.
  • Flashcard siap digunakan.

Agar lebih awet, flashcard bisa dilaminasi terlebih dahulu sebelum dilubangi atau sebelum digunting.

Cara Membuat Flashcard Digital

Selain flashcard konvensional, Anda juga bisa membuat flashcard digital. Cara mendesainnya sama dengan flashcard konvensional.

  • Download desain yang sudah dibuat di Canva ke dalam file PNG.
  • Satukan dalam satu folder di smartphone atau tab.
  • Flashcard siap digunakan.

Tidak, Anda tidak perlu melaminasi tab atau smartphone, kok. (Euh, garing kieu euy heureuy teh)

Demam
dan Masalah-Masalah
Lainnya

Ngomong-ngomong soal anak, membesarkan dan menjaganya jelas bukan perkara mudah, setidaknya bagi saya. Selalu saja ada hambatan baik yang disebabkan faktor internal maupun eksternal. Misalnya, ketika anak sedang sakit. Anak seusia Aksa memang masih rentan terkena entah itu demam, flu, batuk, atau ketiganya sekaligus.

Pengalaman paling "seru" adalah ketika satu tahun lalu Aksa dirawat di rumah sakit karena DBD. Ini murni keteledoran saya sebetulnya, waktu itu saya tidak notice bahwa demam yang disertai gejala klinis tertentu bisa saja berbahaya. 

Beberapa Fakta Tentang Demam

Demam bukanlah penyakit. Demam merupakan mekanisme perlawanan tubuh anak terhadap virus atau bakteri. 

Ada dua penyebab demam pada anak: virus dan bakteri. Penyakit yang disebabkan virus seperti flu dan batuk pilek tidak memerlukan antibiotik.

Secara umum anak yang demam harus dibawa ke dokter jika:

  1. Usia anak kurang dari 3 bulan tanpa memandang keadaan anak secara umum.
  2. Anak usia 3-36 bulan yang demam lebih dari 3 hari atau terdapat tanda bahaya.
  3. Anak usia 3-36 bulan dengan demam yang tinggi (≥39°c).
  4. Anak semua usia yang suhunya >40°c
  5. Anak semua usia dengan kejang demam.
  6. Anak semua usia yang demam berulang lebih dari 7 hari walaupun demam hanya berlangsung beberapa jam.
  7. Anak semua usia dengan penyakit kronik seperti penyakit jantung, kanker, lupus, penyakit ginjal.
  8. Anak yang demam disertai ruam.

Sumber: Ikatan Dokter Anak Indonesia

Menangani Demam
DEMAM_6

Ukur Suhu Tubuh

Ukur suhu tubuhnya. Untuk hasil yang lebih akurat, ukur suhu tubuh anak melalui anus. Gunakan termometer digital dan hindari termometer manual karena kandungan air raksa di dalamnya berbahaya bagi anak. Jika suhu tubuh anak di atas 40°c, segera bawa ke dokter. 

DEMAM_11

Perhatikan Gejala

Perhatikan gejala dan kondisi klinis anak. Berdasarkan pengalaman, informasi gejala yang tepat akan sangat berguna jika kita memeriksakan anak ke dokter. Ini untuk mencegah kesalahan diagnosis.

DEMAM_9

Kompres

Kompres menggunakan air hangat atau air dengan temperatur suhu tubuh. Hindari menggunakan air dingin apalagi air es karena itu justru membahayakan kesehatan anak.

DEMAM_5

Hati-Hati Dehidrasi

Anak yang sedang demam biasanya tidak berselera makan atau minum. Ini bisa menyebabkan dehidrasi. Dehidrasi pada anak-anak justru lebih berbahaya daripada demam itu sendiri.

DEMAM_7

Minum Obat Penurun Demam

Berikan obat penurun demam untuk menurunkan panas sekaligus meredakan nyeri.

DEMAM_4

Waspada DBD

Berkaca dari pengalaman saya setahun silam, DB tidak selalu disertai bintik-bintik merah di kulit. Jadi, jika demam anak sudah turun lalu demam lagi sehari kemudian, lebih baik periksakan ke dokter atau minta dicek darah.

DEMAM_8

Bawa ke Dokter

Segera bawa ke dokter jika demam lebih dari 40°c, jika anak menunjukkan gejala DBD, jika anak kejang, atau jika anak menunjukkan tanda-tanda dehidrasi.

DEMAM_10

Tetap Tenang

Nah, ini yang paling penting: jangan panik, sebab orang yang sedang panik tidak bisa berpikir jernih. Jika perlu, minta bantuan pasangan, keluarga, atau tetangga untuk menemani Anda.

Memilih Obat Demam

Memilih obat penurun panas untuk anak telah memberikan pengalaman berharga bagi saya. Satu setengah tahun yang lalu, Aksa pernah demam tinggi. Saya membawanya ke puskesmas dan pulang kembali dengan membawa beberapa jenis obat, salah satunya obat penurun panas. Bukannya sembuh, Aksa justru (maaf) muntah-muntah. Rupanya dia tidak cocok dengan kandungan ibuprofen yang ada di obat penurun panas tersebut. Karena khawatir, saya membawa Aksa ke dokter lain. Kali ini ke RSIA Hermina Pasteur. 

Saat itu Aksa demam karena radang tenggorokan, jadi diberi obat penurun panas dan antibiotik. Saya membaca dengan saksama setiap kandungan yang ada dalam Tempra Drops, obat penurun panas yang diresepkan oleh dokternya Aksa. Sebelum pulang, tak lupa saya bertanya dengan detail tentang takaran, jangka waktu pemberian, dan lain-lain kepada apoteker di Hermina. Hanya dalam jangka waktu kurang dari 3 jam, suhu tubuh Aksa perlahan menurun.

Obat yang sama juga diresepkan ketika setahun lalu Aksa sakit DBD dan harus dirawat di rumah sakit. Jadi, sejak saat itu, saya selalu menyediakan Tempra Syrup di rumah. 

Kenapa saya memercayakan obat penurun demam kepada Tempra? Alasannya sih sederhana saja. 

  1. Karena Tempra direkomendasikan oleh dokter anak saya. 
  2. Karena sudah terbukti efektif menurunkan demam.
  3. Ini alasan yang sangat personal: karena Tempra telah membantu menyelamatkan Aksa ketika ia terkena DBD.
  4. Rasanya yang disertai variasi buah-buahan membuat Aksa lebih bersemangat minum obat.
  5. Mudah didapat. Harganya pun terjangkau oleh saya. 

Tip

  • Sesuaikan jenis obat dengan usia anak. Misalnya, Tempra Drops untuk anak di bawah 1 tahun, Tempra Syrup untuk 1-3 tahun, dan Tempra Forte untuk anak usia 6 tahun ke atas.
  • Gunakan dosis dengan tepat sesuai petunjuk yang ada di kemasan atau sesuai dengan petunjuk dokter. Hindari mengurangi atau melebihi dosis menurut inisiatif sendiri.
  • Perhatikan jangka waktu pemberian obat. Biasanya, selang waktu pemberian obat adalah 8 jam, tapi bila perlu, berikan satu dosis Tempra Syrup setiap 4 jam sekali atau sesuai petunjuk dokter.
  • Jika dalam waktu 2 hari demam anak tidak juga sembuh, segera bawa ke dokter.
  • Jangan menyimpan obat berbentuk sirup di lemari es karena akan menurunkan kualitas obat tersebut. Sebaiknya simpan di tempat dengan suhu ruangan dan tidak terkena sinar matahari langsung.
  • Cuci dan keringkan kembali sendok takar setelah digunakan lalu simpan di dalam kotak.

TEMPRA DROPS
Untuk anak di bawah usia 1 tahun

TEMPRA SYRUP
Untuk anak usia 1-3 tahun

TEMPRA FORTE
Untuk anak usia 6 tahun ke atas

FREE PRINTABLE FLASHCARD

Gimana, gimana? Sudah mendapatkan ide DIY education toys untuk si kecil? Atau ingin membuat flashcard yang sama seperti saya? Well, karena Anda sudah tabah sampai akhir bertualang di blog post ini, Anda boleh mengunduh free printable flashcard untuk anak batita. Ada dua seri flashcard: seri hewan dan seri benda sehari-hari. Saya juga sengaja menyertakan file untuk digital juga untuk cetak. 

Berguru pada Aksa

Sebagai orang tua tunggal saya memang memikul tanggung jawab ganda: ibu sekaligus bapak dan saya akui, itu tidak mudah. Di satu sisi, saya harus bisa menjadi perempuan, seorang ibu yang menyediakan pelukan dan rasa nyaman. Di sisi lain, saya harus menjadi seorang ayah, "laki-laki" yang menyediakan bahu untuk bersandar dan rasa aman.

Memang, dalam prosesnya saya kerap tersaruk-saruk. Ada masa-masa ketika kewarasan saya dan keselamatan Aksa dipertaruhkan. Ada masa-masa sulit yang tak perlu saya ceritakan. Namun, menjadi seorang ibu tetap saja sebuah hadiah, sebuah berkah. 

Saat ini usia Aksa menginjak 2 tahun 9 bulan, 14 bulan sejak saya didiagnosis PPD, 11 bulan sejak saya mulai membangun attachment melalui permainan edukasi yang aman dan nyaman bagi kami. Dibarengi dengan stimulasi dan permainan lain, bisa dibilang, perkembangannya pesat sekali. Saya kehilangan kata-kata untuk menggambarkannya. Anda yang berteman dengan saya di Facebook pasti sudah hafal betul dengan tingkah-tingkah konyolnya, kepolosannya, dan -tak jarang- sikapnya yang "menyebalkan". 😀 

Kisah yang saya ceritakan di awal telah memberi makna baru untuk kata "anak". Bagi saya, Aksa adalah sebenar-benar penyembuh. Pun, guru yang belum menyadari bahwa justru ibunyalah yang lebih banyak belajar dari dia. Iya, saya banyak belajar dari ketabahannya, yang selalu rela bermain sendiri jika saya sedang sibuk sekali. Yang ketika terjaga di malam hari dan melihat saya masih terpancang di depan meja, dia akan bangun dan menarik tangan saya sambil berkata, "Unda tiduy, Unda."

Aksa, yang ketika saya menangis diam-diam, dia akan menepuk-nepuk pipi saya dan berkata, "Unda enapa? Yang cabay, ya. Unda kan uat."

Aksa ... 

 

DISCLAIMER:

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog Tempra yang diselenggarakan oleh Blogger Perempuan Network dan Taisho. Artikel ditulis berdasarkan pengalaman dan opini pribadi. Artikel ini tidak dapat menggantikan hasil konsultasi dengan tenaga kesehatan profesional.

TEMPRA BISA DIBELI DI:

  1. Apotek 
  2. Minimarket & supermaket
  3. Toko obat
Sumber Referensi
  1. www.taisho.co.id
  2. bloggerperempuan.co.id
  3. www.idai.or.id
  4. id.wikipedia.org
Desain dan Ilustrasi

Semua ilustrasi di dalam blog post ini dibuat oleh saya sendiri. Diolah dari berbagai sumber, antara lain:

  1. Taisho/Tempra
  2. Blogger Perempuan Network
  3. Freepik
  4. Free PNG image
  5. PNG image
  6. Free icon
Please feel free to share
17
Jun

Menjadi Mata Air dengan Asus E202

Menjadi Mata Air
dengan Asus E202

Ilmu adalah mata air yang hanya akan bermanfaat jika dibiarkan mengalir.
-Langit Amaravati

Anak perempuan itu duduk terpancang di depan meja, memandangi layar yang berpendar-pendar dengan dada penuh debar. Dengan ragu-ragu sekaligus ingin tahu, jemarinya menyentuh keyboard, mencoba mengetikkan beberapa kata yang diinstruksikan gurunya. Itu kali pertama ia berkenalan dengan benda bernama komputer dan jatuh cinta saat itu juga. Selain buku, teknologi pengolahan data adalah semestanya, tempat ia "melarikan diri" dari masa remaja yang penuh duri.

Ia anak yang cukup cerdas, pembelajar yang tekun. Juara kelas yang menjadi kesayangan guru karena meskipun sering berkelahi dengan anak lelaki, nilainya selalu bagus. Sayangnya, hidup tak terlalu ramah padanya. Ia memiliki cita-cita yang begitu tinggi, tapi mencecap bangku kuliah adalah mimpi yang tak sanggup ia beli. Pendidikannya harus terhenti di bangku SMK karena orang tuanya tak memiliki biaya.

Meskipun ia tumbuh dewasa dengan kisah hidup yang sedemikian getir, tapi seperti yang dikatakan ibunya, ilmu bisa direguk di mana saja, tak hanya berasal dari bangku sekolah atau diktat kuliah. Maka itulah yang ia lakukan, menjadi manusia yang senantiasa belajar. Semesta pertamanya dulu, buku dan komputer, menghantarkannya menjadi ia yang sekarang. Buku menjadikannya seorang cerpenis, komputer menjadikannya seorang desainer dan blogger. Tiga profesi yang ia pelajari secara autodidak, yang berkali-kali "menyelamatkan nyawanya". Tiga profesi yang membuatnya bertahan dari amuk badai perceraian demi perceraian yang begitu menyakitkan. Profesi yang hingga hari ini menjadi penyambung hidup ia dan kedua anaknya.

Anak perempuan itu ... saya.

notebook pertama dan kenangan tentangnya

Mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa saya justru menceritakan kisah yang teramat suram ketika seharusnya saya membahas soal notebook? Saya hanya ingin menyampaikan bahwa teknologi, di tangan orang yang tepat dan digunakan dengan tepat, bisa menjadi anak tangga yang membuat seseorang meraih mimpinya.

Karena latar belakang itulah, juga karena saya menganggap bahwa ilmu adalah mata air yang akan habis jika tak mengalir, saya tak pernah keberatan jika diminta untuk mengisi kelas pelatihan. Beberapa berbayar, lebih sering gratis.

Seminggu yang lalu, secara spontan, saya membuka dua kelas pelatihan blogging online gratis di Google Classroom. Satu kelas pemula, satu lagi kelas lanjutan. Kenapa gratis? Ini saya anggap sebagai Personal Social Responsibility (PSR) karena, toh, tak selamanya segala hal di dunia ini bisa dinilai dengan uang.

Tapi ... tapi, bukan hidup seorang Langit Amaravati namanya kalau segala sesuatunya berjalan lancar. Ketika deadline pekerjaan sedang seru-serunya, ketika kelas baru saja menjejak di ranah perkenalan, seorang teman tiba-tiba datang dengan raut wajah memelas. Di sinilah kisah suram yang lain dimulai.

Konon, ia sedang merevisi tesis dan bermaksud meminjam notebook selama paling lama dua hari. Sebagai jaminan, ia menyimpan kamera DSLR. Entah karena dia pandai memasang tampang tak berdosa, atau karena saya perempuan yang lemah iman, notebook pun berpindah tangan dan tidak kembali sampai hari ini. Sialnya lagi, DSLR yang dia berikan sebagai jaminan ternyata adalah kamera sewaan yang tentu saja harus segera dikembalikan.

Oh, tentu saja masalah ini sedang ditangani "secara kekeluargaan", tak lupa saya mengirimkan surel berisi surat cinta yang kalimatnya kira-kira begini, "Kau boleh ambil notebook-nya, tapi kembalikan data-datanya. Kalau sampai ada satu file-pun yang hilang atau rusak, aku akan memburumu sampai ke ujung dunia." 

Untungnya ada seorang lelaki tampan baik hati yang rela laptopnya saya pinjam untuk sementara sampai saya bisa membeli yang baru. 

Ngomong-ngomong soal notebook baru, karena saya sudah terbiasa memakai notebook besutan ASUS dan merasa nyaman, kali ini saya akan membahas tentang satu lagi produk ASUS yaitu EeeBook E202.

Hasil belajar desain

Desain Produk
Desain Buku
Ilustrasi
Desain Web

TIP MEMILIH NOTEBOOK

Sebelum memutuskan untuk membeli tipe notebook, ada beberapa poin selalu saya pertimbangkan.

TIP MEMILIH NOTEBOOK_1

Kebutuhan

Hal yang pertama kali harus dilakukan sebelum memilih notebook adalah menetapkan poin-poin kebutuhan. Dengan kata lain, notebook-nya akan dipakai apa? Buat semacam daftar, contoh:

  • Ngeblog
  • Desain
  • Edit video
  • TIP MEMILIH NOTEBOOK_2

    Spesifikasi

    Tentukan spesifikasi yang Anda butuhkan. Misalnya, besaran RAM, jenis prosesor, ukuran notebook, dan pertimbangan lainnya.

    TIP MEMILIH NOTEBOOK_3

    Harga

    Setelah Anda tahu jenis atau tipe notebook yang Anda butuhkan beserta spesifikasinya, tentukan kisaran harga. Misalnya, dari 3-5 juta atau di bawah 3,5 juta. Tapi, mohon diingat, tetapkanlah kisaran harga yang masuk akal. Jangan sampai Anda datang ke toko, ingin notebook dengan RAM 4 GB prosesor i7, tapi bujet hanya 3 juta, misalnya.

    TIP MEMILIH NOTEBOOK_4

    Fitur

    Selain spesifikasi, tentukan juga fitur apa saja yang sekiranya dapat membantu produktivitas sekaligus kreativitas.

    TIP MEMILIH NOTEBOOK_5

    Garansi

    Perlindungan purna jual atau ketersediaan official service center adalah poin yang sering kali kita lupakan. Padahal, ini sangat penting. Sebelum membeli, cari tahu atau tanyakan tentang garansi. Apakah hanya garansi toko ataukah lengkap dengan garansi dari merek? Berapa lama garansinya? Apakah ada service center resmi di kota Anda?

    Saran saya, pilih merek notebook yang memiliki service centre di kota Anda. Atau jika Anda tinggal nan jauh di pelosok, pilih yang memiliki service centre di kota terdekat.

    TIP MEMILIH NOTEBOOK_6

    Referensi

    Referensi akan sangat membantu Anda dalam membuat keputusan. Cari referensi di Internet atau minta kepada teman yang sekiranya mengerti masalah seperti ini. Sebelum meminta referensi kepada teman, sebaiknya Anda berikan poin-poin notebook yang dibutuhkan secara detail.

    ASUS E202

    Notebook yang pertama kali saya miliki adalah Mrs. Butterfly, yang secara tidak langsung menjadikan saya seorang cerpenis. Untuk kali kedua, saya berjodoh dengan Mrs. Pandora, ASUS X201E yang saya miliki sejak akhir tahun 2015 silam. Mrs. Pandora inilah yang menghantarkan saya ke gerbang dunia blogging sekaligus membantu saya memenangkan lomba-lomba blog dan mengawal karier saya sebagai desainer. 

    SPESIFIKASI ASUS e202

    microchip

    Prosesor

    Intel® Celeron® Dual-Core N3050 Processor, 2.16 GHz

    OS_2

    OS

    DOS, Windows 10

    RAM

    RAM

    OnBoard Memory 2 GB
    DDR3L 1600 MHz SDRAM

    DISPLAY

    Display

    11.6" 16:10 HD (1366x768)

    GRAFIS

    Grafis

    Integrated Intel® HD Graphics (Pentium & Celeron)

    hard-disk

    Storage

    7mm SATA3
    500GB HDD

    CARD READER

    Card Reader

    card reader (Micro SD )

    webcam

    Kamera

    HD Web Camera

    plug-2

    Networking

    Terintegrasi 802.11 ac Built-in Bluetooth™ V4.0

    pendrive

    Interface

    1 x Headphone-out jack (Audio-in Combo) 1 x USB 3.0 port(s) 1 x USB 2.0 port(s) 1 x USB-C Gen 1 (up to 5 Gbps) 1 x micro HDMI

    speaker

    Audio

    Built-in Speakers And Digital Array Microphone

    empty-battery

    Baterai

    3Cells 48 Whrs Polymer Battery

    plug

    Adaptor Daya

    Output : 19 V DC, A, 33 W Input : 100 -240 V AC, 50/60 Hz universal

    Semakin kreatif & Produktif
    dengan asus E202

    Kalau boleh jujur, sebetulnya saya lebih tegar ketika putus dari Akang daripada kehilangan notebook karena walau bagaimanapun, notebook adalah "nyawa" seorang pekerja kreatif seperti saya. Tapi, hidup memang perkara melepaskan dan merelakan. Saya tak bisa terus-menerus bergelut dengan rasa sakit akibat kehilangan, saya harus move on dan mulai cari pacar baru merencanakan kreativitas baru. 

    Ukuran & Berat

    Bahu kiri saya pernah patah akibat kecelakaan motor 10 tahun silam. Itu sebabnya mengapa punggung saya tidak bisa menanggung beban kehidupan yang terlalu berat. Karena E202 sangat compact (ukuran 193 x 297 mm dan berat 1.21 kg), sepertinya saya tak akan kesulitan membawanya kemana-mana. Mudah bagi saya untuk bekerja di mana saja saya suka.

    Pilihan warna

    Notebook yang hadir dalam versi Windows 10 dan juga DOS ini tersedia dalam pilihan warna Silk White, Dark Blue, Lightning Blue, dan Red Rouge. Sebagai perempuan impulsif yang lebih sering membeli sesuatu KARENA WARNANYA, sejak melihatnya di blog Mbak Uniek, saya sih sudah ngeceng yang merah atau biru atau putih atau ... oke, jujur, sulit bagi saya memilih warna. Boleh beli empat-empatnya, enggak? 

    Daya Tahan baterai

    Notebook berukuran A4 ini menggunakan prosesor Intel hemat daya yang menawarkan masa aktif baterai hingga 8 jam, dan memiliki port USB 3.1 Type-C yang sangat menghemat waktu, karena USB dapat dicolok dengan berbagai arah dengan colokan reversible setiap saatnya dan kecepatan transfer USB 3.1 ini lebih cepat 11x dibandingkan USB 2.0.

    Rencananya tahun depan saya akan mulai kuliah, mengambil kelas karyawan yang waktu kuliahnya hari Sabtu, dari pagi sampai sore. Karena akan kuliah di jurusan desain komunikasi visual, notebook adalah benda pertama yang wajib dibawa. Tentu tak asyik, kan, kalau di tengah-tengah pelajaran notebook saya mati? So, daya tahan baterainya yang sampai 8 jam (persis jam kantor, ya?) akan sangat membantu aktivitas. 

    Harga

    Rp3.249.000, Saudara-Saudara! Dengan spek dan fitur yang ditawarkan, harga segini menurut saya cukup sepadan. Terjangkau oleh mamah-mamah single parent yang tidak terlalu rajin menabung seperti saya. Ya, syukur-syukur kalau ada yang ngasih for free. (Please like, share, and aamiin)

    Keyboard

    Meskipun mahir blind typing, namun kecepatan dan kenyamanan keyboard akan memberi pengaruh banyak pada produktivitas.  

    Jemari saya sudah terbiasa dengan keyboard-nya Mrs. Pandora dan saya kira tidak ada perbedaan signifikan antara keyboard X201E dengan E202. 

    MENJADI MATA AIR

    Tapi, di atas semua pertimbangan ketika memilih notebook, di atas segala macam rencana tentang kreativitas dan produktivitas, ada satu hal yang selalu saya rajamkan di kedalaman dada. Tuhan pernah mengambil orang-orang dan benda yang saya cintai. Tuhan memang menorehkan kisah yang begitu terjal di garis tangan saya. Namun, bersamaan dengan itu, Ia juga menghadiahkan bekal yang membuat saya bukan sekadar bertahan, melainkan juga sanggup berdiri tegak dan tegap mengarungi perjalanan. 

    Saya sudah diberi-Nya banyak kesempatan untuk belajar, untuk mereguk ilmu. Satu-satunya cara yang saya tahu untuk berterima kasih kepada-Nya hanyalah dengan menjadi mata air. Berbagi ilmu, berbagi keahlian.

    Jadi, bagi Anda yang barangkali saja masih bertanya mengapa di tengah kesibukan saya masih menyempatkan diri untuk membuka kelas pelatihan tanpa dibayar, mengapa meski di tengah pagi buta saya masih membalas inbox dari orang-orang yang bertanya tentang hambatan yang mereka alami, sekarang Anda tahu jawabannya. 

    Ilmu, pengetahuan, bagi saya adalah mata air yang hanya akan bermanfaat jika dibiarkan mengalir. Kelas-kelas pelatihan blogging yang saya adakan memang hanya setetes kecil di tengah keluasan samudera dunia blogger. Namun, semoga dengan kontribusi renik itu, saya tak menjadi manusia yang lahir, hidup, lalu mati sia-sia. 

     

    DISCLAIMER

    Artikel ini diikutsertakan dalam Blog Competition ASUS E202 by uniekkaswarganti.com.

    SUMBER REFERENSI

    Sumber referensi
    1. asus.com
    2. asus.com/id
    3. uniekkaswarganti.com
    Foto dan Ilustrasi
    1. langitamaravati.com
    2. asus.com
    3. asus.com/id
    4. uniekkaswarganti.com
    Please feel free to share
    3
    Jun

    Mengatasi Low Disk Space di WordPress

    Bagi Anda pengguna WordPress dan menggunakan domain serta self hosting, “surat cinta” berisi peringatan low disk space dari provider hosting pasti kerap kali Anda terima. Memang apa, sih, artinya? Ya, itu artinya kapasitas penyimpanan data yang Anda sewa sudah tidak cukup lagi untuk menampung kenangan data. Akibatnya akan menghambat loading blog Anda dan well, pada kasus-kasus yang berat, akan membuat blog sama sekali tidak bisa diakses.

    Meskipun disk space blog saya cukup memadai untuk ukuran blog (2 GB), tapi sayangnya surat cinta itu pun nyaris setiap bulan datang. Jadi kudu dikumahakeun atuh? Upgrade paket? Itu solusi terakhir, sih, kalau menurut saya mah. Ada beberapa solusi lain yang bisa kita lakukan. Read more

    Please feel free to share