Jika doa dapat diukur dan ditakar, maka kita akan menemukan bahwa doa yang dipanjatkan di setiap helaan nafas akan sedemikian membentang, menyalip kata-kata dan angka-angka, menggulingkan neraca dan skala. Tepat seperti itulah seharusnya kita mengimani segala macam harap yang berkelindan di dalam dada. Suara, saudaraku! Adalah getaran-getaran yang akan diresonansikan setiap saat kepada semesta. Maka berdoalah dalam teriak ataupun gelegak jika desau-desau parau tak lagi mampu terdengar dan tak sampai ke telinga orang-orang bebal. Jika saja telinga orang-orang itu sudah terlalu tuli karena sering dicekoki oleh urusan mereka sendiri, rapalah nama Tuhan karena dalam hal ini Tuhan sudah menasbihkan kita sebagai para pejuang timpang. Dan ganjaran kepada para syuhada adalah surga. Tapi tunggu, semoga kita sedang membicarakan Tuhan dan surga yang sama.

Tak perlu pula kita menghitung berapa banyak tangis dan kesakitan sebab lagi-lagi hal-hal itu tak dapat ditakar atau dibilang. Tangis dan ratapan kita adalah riwayat, sebentar tumbuh kemudian selamanya padam. Tak ada remah tersisa kecuali barangkali pengingkaran dan pembelokan arah tempuhan. Sebab rasa sakit tidak diciptakan untuk didudukkan di atas tahta untuk kemudian kita celotehi dan pandangi bersama. Rasa sakit ada untuk ditikam, untuk kita rajam dan lawan.

Demi tanah dan air yang kini hanya kekal menjadi sejarah, berderaplah! Berteriaklah! Tak ada satu pun tangan yang mampu meredam sekian ribu suara secara bersamaan. Jikapun setan turun tangan untuk membekap, maka berontaklah, menggeliat dan melawanlah! Sebab suara dan doa kelak akan bertemu dengan muaranya, meski entah kapan….

Leave a Reply