Bagi anak yang lahir dan besar di kota besar yang dikelilingi pohon beton dan kebun aspal, laut adalah sesuatu yang teramat menggetarkan bagiku. Maka tak heran jika motivasi terbesarku ketika hijrah ke Lobam dulu bukanlah untuk bekerja seperti yang seharusnya, melainkan untuk melihat laut. Jadilah sore pertama aku di Lobam, tempat pertama yang kudatangi adalah pantai. Hanya sepuluh menit berjalan kaki dari dormitory, terhamparlah pasir dan laut yang airnya biru. Sampai malam aku main kejaran ombak (meski ombaknya kecil), berlari-lari merasakan rengkuhan pasir di kaki telanjangku, memunguti cangkang kerang dan membawa se-keresek besar cangkang kerang itu pulang ke dormitory, mengais-ngais pasir, berteriak-teriak, meski tidak mau berenang karena emang nggak bisa. Norak banget ya? Hehe… ya namanya juga orang yang baru ketemu laut.




Hingga aku pindah ke Batam, getaran dan kebiasaan main ke pantai itu tak jua hilang. Setiap pergi dan pulang kerja aku bisa melihat laut dari atas Bukit Senyum. Hanya beberapa detik di atas sadel motor ojekku yang sedang melaju. Tapi pemandangan laut biru sanggup mendongkrak adrenalinku, sehingga selalu merasa good mood ketika sampai di kantor. Ini terapi bagus untuk mereka yang bekerja di bidang yang under pressure.


Batam punya banyak pantai yang bisa diakses secara gratis atau dengan dana yang ramah di kantong. Di Batu Ampar, Turi, Tanjung Pinggir, Batam Center, Sekupang, Marina, Nongsa and so on. Beberapa pantai menghadap langsung ke kota Singapura. Kalau mau, malem-malem main ke sana dan melihat pemandangan kerlap-kerlip kota Singapura dari kejauhan, berlatarkan laut biru, plus deburan ombak, ditambah segelas kopi atau teh O (teh manis hangat). Mmmhh…ngiler kan? Emang apa enaknya lihat lampu dari kejauhan? Di Batam juga banyak, iya nggak? Itu karena cahaya selalu terlihat lebih indah jika dilihat dari kejauhan. Romantic, isn’t it?




Tanggal muda atau tanggal tua, tetap bisa liburan. Karena kebanyakan pantai bisa diakses dengan dana yang murah meriah. Pantai Tanjung Pinggir misalnya, cuma bayar 5 ribu rupiah untuk parkir. Di Marina cuma 14 ribu per motor, kalau nggak bawa kendaraan cuma bayar 5 ribu per orang. Di sana, bisa mancing, main air, olah raga air, santai-santai, dan lain-lain. Aku sih biasanya bawa note book. Nulis puisi di atas batu, sembari menikmati jilatan ombak di kakiku. Asal hati-hati aja, takut note book-nya kecemplung. Yeah, ngiler lagi ya?




Memang sih, kadang aku kangen dengan Ciwidey dan pemandian air panasnya. Tapi tetap saja, tak ada yang bisa menyamai sensasi main kejaran ombak dan lari-lari kesetanan di pantai.




Bagi kalian para penulis, Batam berserta laut biru dan pantainya sanggup mendatangkan berton-ton inspirasi. Pernah merasakan asyiknya menulis di atas jembatan tinggi, ditemani pemandangan laut dan gerumbulan pulau-pulau kecil di bawahnya? Aku pernah, nongkrong di jembatan satu barelang, niat hati mau riset, eh malah bikin puisi. Hehe…




Hhhh…laut! Bau asin dan deburan ombakmu akan selalu mendatangkan rindu.
lokasi : Nongsa

Leave a Reply