Lelaki dari Masa Lalu #2

Saya masih tidak mengenalnya, dan saya yakin ia juga tidak ingin mengenal saya. Hubungan kami sebatas follower dengan orang yang di-follow-nya. Maksudnya, saya yang meng-follow blog dan Twitter dia, bukan sebaliknya. 

Bukan sifat saya mengambil kesimpulan sebelum benar-benar mengenal seseorang, namun dari beberapa kali interaksi di Twitter, saya membuat kesimpulan sementara: ia adalah saya dalam versi laki-laki. Sengaknya persis, sibuknya persis, pura-pura membenci cintanya juga persis. Yang agak berbeda mungkin cuma di isi kepala dan popularitas. 

Tapi saya masih merasa bahwa saya pernah mengenalnya. Ini alarm tanda bahaya bagi saya. 

Bahaya karena setiap kali firasat seperti itu datang, biasanya hal-hal menjemukan semacam jatuh cinta akan mengekor di belakang. Sedangkan saat ini saya bosan jatuh cinta, kepada siapa pun, dengan alasan apa pun. 

Mungkin itu sebabnya setelah ia tidak membalas mention terakhir saya, saya memutuskan untuk berhenti membangun interaksi dalam bentuk apa pun. Oh, tentu saja saya masih membaca blognya, menikmati isi kepalanya. Itu adalah hal berbeda dengan degup di dada. 

Tapi saya masih merasa bahwa saya pernah mengenalnya. Entah di kehidupan yang mana. 

Ini menyiksa, tentu saja. Di satu sisi, keparat sekali sampai harus mengejar-ngejar lelaki yang bahkan tidak sadar bahwa saya ada. Di sisi lain, saya pun butuh diyakinkan bahwa firasat-firasat keparat yang kerap datang itu hanya dejavu, lintasan peristiwa yang semoga saja tidak nyata.

Pernah, suatu kali di malam yang begitu sunyi, saya sempat berpikir bahwa ialah lelaki yang tengah saya cari, lelaki yang sering saya kirimi surat cinta. Sayangnya sosok ia sama sekali berbeda dari yang saya bayangkan. Lagi pula, saya sudah menemukan “akang” yang saya cari beberapa bulan silam. Well, lebih tepatnya 3 tahun silam. Kami, saya dan Akang, memang dipertemukan. Sempat bersama selama beberapa bulan. Tapi, ia sama bangsatnya dengan lelaki yang sudah-sudah. Hanya menganggap saya sebagai perempuan murah, sekadar sampah.

Itu sebabnya saya malas menikah. 

Menikah bagi saya hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Waktu dan tenaga yang lebih baik saya gunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat bagi kemaslahatan umat. Saya malas menikah karena … tidak ada satu pun lelaki yang cukup waras untuk memperlakukan perempuan dengan baik. 

Mungkin termasuk lelaki yang sedang saya bicarakan ini. Entahlah. 

Tapi saya masih merasa bahwa saya pernah mengenalnya. Saya masih merasa bahwa saya pernah jatuh cinta kepadanya. Entah di kehidupan yang mana. 

Firasat-firasat yang menyiksa itu harus saya abaikan dengan segera sebelum saya benar-benar jatuh cinta kepadanya. Lebih baik saya mulai meniti jalan kesunyian, menjadi pertapa, meninggalkan segala hal keduniawian, membaktikan hidup untuk kemanusiaan dengan 3 macam bekal: laptop, smartphone, dan sinyal 4G.  

~eL


2 Comments

  1. May 5, 2016 at 3:45 pm

    Dejavu!
    Dulu. Dulu sekali. Saya pernah jatuh cinta pada seorang lelaki yang saya lihat dpm mimpi. Berbulan-bulan digempur rasa penasaran. Sampai akhirnya suatu pagi saya bertemu dengannya. Saya terkejut. Surprise karena mimpi saya seakan jd nyata. Mungkin ini hanya dejavu. Mungkin sebelumnya saya memang pernahbertemu dengannya tapi tidak merasa ada yg istimewa saat itu. Hingga mimpi itu datang dan membuat saya jatuh cinta padanya. Gila rasanya.

    Dan tulisan ini membuat saya terkenang pada kisah yang satu iti 🙂

  2. May 6, 2016 at 3:07 pm

    Postingan seperti ini membuka memori, pernah sih mengalami layaknya dejavu seperti ini, haha.

    tetapi tidak menyangkal juga, mayoritas lelaki sih seperti itu. Saya nulis komentar ini sambil terkekeh. 😀

Leave a Reply