Saya tidak mengenalnya, dan saya yakin dia juga tidak mengenal saya. Hubungan kami hanya sebatas antara bloger dan follower-nya. Maksudnya, saya yang mem-follow blog dia, bukan sebaliknya. Tapi ada yang janggal dan membuat saya gelisah ketika pertama kali membaca postingannya. Sebelum sampai ke situ, saya ingin mengatakan bahwa saya menemukan blog dia tanpa sengaja. Itu karena ada teman yang membagikan link-nya, lalu tanpa berprasangka apa-apa saya membuka dan membaca.

“Sialan, anak filsafat,” gumam saya lalu menutup tab

Beberapa menit kemudian saya kembali membuka blognya, membaca beberapa postingan, lalu kembali bergumam, “Sialan, anak filsafat.”

Teman-teman yang tahu kisah cinta saya yang berdarah-darah pasti tahu kata “filsafat” mengandung beberapa arti jika itu keluar dari mulut saya: 80% jijik, 10% benci, 10% tanpa definisi. Sebisa mungkin saya menghindari lelaki dari spesies ini meski entah kenapa, semakin saya menghindar, mereka justru semakin mendekat. 

Nah, berkenaan dengan lelaki ini, kata “filsasat” justru sama sekali tidak bisa didefinisikan. Saya hanya … limbung. Ada lintasan-lintasan peristiwa di kepala, peristiwa yang bahkan tidak ingat pernah saya alami. Seperti menonton pendar televisi yang gambar dan suaranya rusak. 

“Do I know you?” itu gumam kedua saya. 

Hal seperti ini bukan kali pertama saya alami. Saya pernah beberapa kali bertemu dengan orang lalu ketika kami berjabat tangan atau saling tatap, saya tahu bahwa orang yang saya temui akan terlibat dengan hidup saya entah dengan cara bagaimana. Sialnya, tidak semua dari mereka terlibat dengan cara baik. 

Lelaki ini justru berbeda. Bukan lintasan masa depan, melainkan masa lalu. Saya tidak percaya reinkarnasi, juga tidak lagi menanggapi intuisi. Lalu apa yang terjadi? Tadinya saya pikir mungkin karena saya kesepian. Mungkin karena saya baru saja patah hati. Mungin karena saya tidak jadi menikah dengan lelaki yang saya cintai. Mungkin karena ….

Saya memang patah hati, tapi tidak kesepian. Well, sedikit sih. Tapi itu bukan berarti saya membabi buta dan jatuh cinta kepada siapa saja. Saya tidak seputus asa itu. Entahlah, ketika menutup blognya, satu pertanyaan masih saja terngiang-ngiang di kepala saya, “Do I know you?”

*

Sejak “pertemuan” pertama kami itu, saya tidak lagi mampir ke blognya. Bahkan berusaha lupa, berusaha tidak mencari jawaban, berusaha tidak lagi bertanya, berusaha tidak lagi peka. Namun, semesta kadang suka sekali bercanda. Kami bertemu kembali di toko buku beberapa hari yang lalu.

Ia, lebih tepatnya buku yang dia tulis, menyambut saya di deretan paling depan begitu kaki saya memasuki Gramedia Istana Plaza. Segan tapi penasaran saya mengambil buku itu, membaca namanya, memandang sampul bukunya yang bisa dibilang tidak begitu istimewa. “Halah, paling tulisan-tulisan biasa,” gumam saya sambil membuka halaman pertama. 

“Keparat!” hanya satu kata itulah yang keluar dari mulut saya. Anda tahu mengapa? Karena itu bukan tulisan biasa, karena pendar layar di dalam kepala saya lagi-lagi terbuka, bahkan ketika saya baru membaca kalimat pertama. 

Tidak, saya tidak membeli bukunya. Mungkin nanti. Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan. Mungkin entah kapan. 

Setelah itu, setelah pertemuan kedua kami, lagi-lagi saya bertanya dalam hati.

“Do I know you?”

  
    


5 Comments

  1. November 19, 2015 at 11:08 pm

    Kasih clue donk Teh..

  2. November 20, 2015 at 5:41 am

    Yaelah, emangnya kuis. Hahahah.

  3. December 26, 2015 at 1:49 am

    Dilanjut Mbak. Jadi kisah misteri 😀

  4. January 21, 2016 at 1:28 pm

    Ini teh CLBK meureun hihi

  5. January 21, 2016 at 1:29 pm

    Ini teh CLBK meureun hihi

Leave a Reply