Lelaki Hujan

Ini hujan yang kita sebut-sebut kemarin. Hujan berbau tembakau dan talu-talu risau,
di dada, di mata, di tubuh-tubuh angin kita. Kita sedang mencari-cari carikan pesan di antara deras sementara banyak wajah berlari cepat, bersiap meninggalkan, bersiap ditinggalkan.
Barangkali aku, hanya sepotong sajak di jendela dadamu yang sudah sesak sebab berisi banyak daftar nama dan peristiwa. Tapi engkau tidak pernah tahu, bahwa bau hujan senantiasa menghantarkan pula bau tubuhmu ke sini, ke ranjang-ranjang ingatan, hangat yang hanya menyisakan kenangan.

Bunyi rintik adalah suaramu yang mendekap dan menyekap, satu per satu lindap ke dalam pelimbahan, tapi di telingaku, ia kekal sebagai nada yang meski sumbang namun kerap kali mendatangkan rasa tenang. Maka tidurkan aku di atas partitur-partitur gerimis hingga hilang getir dan giris. Hingga badai kelak usai masai.
Ini masih hujan yang kita sebut-sebut kemarin. Hujan yang mendatangkan jarak dan jerjak. Hujan yang di dalamnya kita ingin membunuh waktu hingga tak bergerak.
Hujan yang di dalam rinainya, tertulis nama kita.
Engkau dan aku.
(Sukabumi, 16 Januari 2013)

2 Comments

  1. May 18, 2016 at 12:50 pm

    aku baru dan sekali singgah disini,tapi aku sudah merasa betah dan nyaman bersama larikan larikan kata disini, melebur sunyi.. ahhh tempat nongkrong baru, permisi boleh kah saya sesekali menikmati beranda ini ? salam ☺

  2. May 18, 2016 at 12:51 pm

    aku baru dan sekali singgah disini,tapi aku sudah merasa betah dan nyaman bersama larikan larikan kata disini, melebur sunyi.. ahhh tempat nongkrong baru, permisi boleh kah saya sesekali menikmati beranda ini ? salam ☺

Leave a Reply