Lelaki yang Kembali


Tadi malam, seseorang mengetuk kaca jendela kamar kos saya. Tentu saja saya terkejut karena merasa tidak sedang menunggu tamu, lagi pula orang yang ingin bertemu haruslah membuat janji terlebih dahulu. Mereka yang datang tiba-tiba biasanya akan disuguhi raut wajah berperisa cuka. 
Saya melangkah ke ambang pintu dengan raut wajah cuka tadi, tapi ketika seseorang itu menoleh dan tersenyum, raut wajah saya berganti seketika. Ia, lelaki yang namanya dilafalkan dalam setiap doa, lelaki yang wajah dan sosoknya bercokol di dalam kepala. Selama berbulan-bulan, selama satu setengah tahun yang tikam. 
Beberapa bulan ini saya kerap berkhayal, mereka-reka sebuah pertemuan. Merencanakan reaksi seperti apa yang akan saya berikan. Pilihan-pilihan yang ada adalah berpura-pura tidak kenal, menyalaminya dengan jabat erat seolah-olah kami teman biasa, menampar pipinya berkali-kali, dan pilihan-pilihan lain yang tak jauh dari ekspresi sakit hati sekaligus memertahankan harga diri. 
Tapi yang saya lakukan tadi malam sama sekali berlainan.

Saya justru berlari ke dalam tangannya yang terentang. Kami justru berdiri di ambang pintu, saling memandang, berpelukan, tertawa gugup seperti dua orang remaja. Tak ada kata cacian, tak ada uar kebencian, tak ada rasa marah yang sanggup saya kobarkan. 
Saya yang dua tahun lalu barangkali akan mengusirnya keluar. Saya yang dua tahun lalu mungkin melontarkan cacian paling kasar, menampar, mencakar, atau entah apa lagi. Tapi saya berubah, menjadi perempuan yang lebih pandai menjaga mulut dan tangan. Merasa lega sekaligus lemah. Ke mana larinya Maryam si perempuan bermulut pedang? Ke mana hilangnya Langit Amaravati yang sinis dan bengis?
Rasa nyeri akibat menunggu selama enam bulan menguap oleh dua jam pertemuan. Ia menghampiri Aksa yang sedang tidur, saya memandanginya seolah-olah sosok itu bahkan tidak nyata. 
“Tak banyak yang berubah di sini,” katanya. 
Saya mengangguk. “Kamu pergi lama sekali,” bisik saya. 
Ia mengalihkan pandangan, memeriksa setiap sudut ruangan. “Tak ada yang berubah,” gumamnya lagi. 
Ketika Aksa terbangun, dengan sigap ia memangkunya, menimang-nimang seperti yang biasa ia lakukan berbulan silam. “Sudah besar ya,” katanya dengan senyum dikulum.
“Matanya mirip matamu,” kata saya. Suara saya bergetar, menahan beban isak yang sebentar lagi keluar. 
“Sudah bisa apa?” bisiknya seraya menidurkan Aksa kembali.
“Belajar merangkak,” cekat dalam suara saya belum lagi hilang. “Kamu pergi lama sekali.”
Telunjuknya menjawil hidung saya, seperti dulu, seperti berbulan lalu. “Aku mau pinjam buku, di Sukabumi tidak banyak bahan bacaan,” ia beranjak ke rak sementara mata saya lekat kepada punggungnya. Tak ada yang berubah dari dia kecuali kulitnya yang agak legam. Senyumnya masih sama, aroma tubuhnya masih serupa. Persis seperti yang saya ingat. 
“Mau kopi?” pertanyaan favorit. Usaha saya agar menahannya lebih lama. 
Ia mengangguk. Satu cangkir kopi untuk berdua, seperti biasa. 
“Aku tak bisa lama, sebentar lagi harus segera berangkat. Subuh ada acara,” katanya seraya duduk di teras. Mengeluarkan sebatang rokok. 
Saya hanya mengangguk. 
“Sebelum puasa aku ke sini lagi,” ia mengucapkan janji. Janji yang entah akan ditepati. 
Percakapan dengan durasi secabik itu hanya berpusar di perkara kegiatan masing-masing. Sekali dua kali dia menyinggung soal keheranan lingkungan barunya kenapa di usia 33 dia belum lagi menikah. Lalu saya dengan bergumam mengatakan akan terus menunggunya, gumaman yang dijawab dengan anggukan dan senyuman. Anggukan dan senyuman yang entah kenapa menjantera harapan.
Ketika secangkir kopi sudah tandas, kami harus bersiap kembali saling melepas. Bahkan cara berpamitannya tetap sama: sekerat pelukan, beberapa tepukan di punggung, satu ciuman di kening, satu jawilan di hidung. Tak lupa mantra “berkabar ya” yang selalu keluar dari mulutnya.
Dengan dada bergemuruh, saya memandangi punggungnya. Merapal doa, semoga ia selamat di tujuan agar suatu saat bisa kembali. Masih dengan dada bergemuruh, saya menutup pintu setelah memastikan suara deru motornya hilang ditelan lengang. 
“Tuhan, persatukan kami melalui jalan yang Engkau restui. Ingatkan ia jalan kembali. Tolong jangan biarkan ia pergi lagi.”
Doa itu saya gumamkan sepanjang malam. Hingga saat ini. 

Leave a Reply