Lelaki yang Terluka*


“Kenapa kita harus berpisah dengan cara seperti ini?” itu adalah kalimat pertamamu sejak kita duduk di kafe ini.            
            Tatapanmu dingin, sedingin gelas porselen yang kamu genggam sejak satu jam lalu. Gelas berisi macchiato caramel yang kamu isap pelan-pelan bukan karena uar panasnya melainkan karena hanya hal itulah yang bisa kamu lakukan untuk mengisi jeda yang terasa amat panjang. Aku tahu, satu pertanyaanmu itu mengandung bereon-eon rasa sakit. Namun kamu pun harus tahu bahwa aku tak memiliki jawaban yang kamu inginkan.
            Setiap manusia harus bertemu dengan musuh yang paling ditakuti; kehilangan. Mestinya kamu mau bertemu dengannya, cepat atau lambat, siap tak siap. Bukan cara perpisahan ini yang sebetulnya kamu takuti, melainkan kekosongan setelahnya. Bukankah begitu?
            “Kenapa kita harus berpisah dengan cara seperti ini?” kamu mengulang pertanyaan yang sama, kesakitan dan kegetiran yang sama.
            Barangkali, kamu belum mengerti bahwa selama tiga tahun kebersamaan, aku adalah perempuan yang hidupnya tak pernah bisa kamu pegang. Aku selalu bergerak dari satu kasus ke kasus lain, dari satu demonstrasi ke demonstrasi yang lain.
            Kamu tak pernah merasa sendiri karena setiap kali kamu membuka mata aku selalu ada. Kamu sadari atau tidak. Sedangkan aku kerap merasa sendirian karena duniaku jauh tertinggal di belakang. Mungkin itu sebabnya aku kerap mencari-cari pegangan di luar, mencari keramaian meski tetap berada di kesunyian.
            “Tapi kamu mencintai aku,” bisikmu sumbang. Menyaingi deru mesin pendingin udara di latar belakang.
            Akhirnya kamu sadar, bukan? Bahwa perempuan di depanmu ini adalah ia yang mencintaimu setengah mampus. Yang memujamu seperti Ikarus memuja matahari. Namun kamu tidak pernah sadar bahwa cinta tak pernah selamanya berlayar di laut yang kamu inginkan. Kadang ia menepi untuk menggenapkan takdirnya sendiri.
            “Tapi aku mencintaimu, Ayya,” bibirmu bergetar, matamu kini menatap nanar.
            Andaikan kata-kata cinta yang kamu ucapkan barusan aku dengar  tiga tahun, dua tahun, satu tahun, atau empat hari yang lalu, mungkin aku akan segera tenggelam dalam pelukanmu beserta tangisan dan rengekan permintaan maaf seperti biasa. Tapi tidak hari ini, Am. Aku lelah menanggung cinta yang sedemikan besar, cintaku, juga cintamu.
            “Aku tidak ingin kamu pergi,” tanganmu berusaha meraih tanganku.
            Tanganmu bertemu dengan kekosongan. Aku tak ingin sedikit pun kulit kita bersentuhan sebab bermilyar-milyar ingatan akan ikut membuncah seperti air bah. Sebab sentuhanmu akan seketika mengingatkanku pada malam-malam yang janggal ketika tubuhku merengek meminta pemenuhan dan kamu dengan muka masam memasang dalih layaknya panglima perang. “Hidup bukan hanya tentang kelamin,”katamu nyaris berulang.
            Maka bertahun-tahun aku belajar untuk memendam, untuk menahan. Hingga tubuhku nyaris seperti pekuburan yang kamu singgahi kapan-kapan, bila kamu ingat, bila kamu sempat. Aku harus bersaing dengan dokumen-dokumen kantormu, dengan pertemuan-pertemuanmu, dengan semua rasa lelahmu. Ya, hidup bukan hanya tentang kelamin, Am. Hidup, seperti katamu, hanyalah menunggu kematian.
            “Minggu depan ulang tahun yang ketiga pernikahan kita,” suaramu sesak, ditelan gelegak tangis yang mendesak-desak.
             Entahlah, Am. Bagiku kalender hanyalah deretan angka-angka tanpa makna. Beratus-ratus hari aku mencoreti angka-angka yang tertera dengan tanda cakra, menghitung berapa hari yang terlewat, berharap-harap cemas kapan kamu akan merasa pantas untuk menziarahi tubuhku. Penantian seperti itu mendatangkan rasa sakit yang berlebih-lebih, Am. Rasa sakit yang lebih besar daripada kehilanganmu kali ini. Mungkin kamu harus tahu, bagaiamana pedihnya menjadi istri yang tidak diinginkan suaminya.

         Di dalam kalender itu pulalah aku menandai tanggal demi tanggal, tanggal ulang tahunku, tanggal ulang tahunmu, tanggal pernikahan kita, setiap tanggal yang menurutku berarti, tapi kamu selalu berkata bahwa tidak ada tanggal yang harus dirayakan, tidak ada tanggal yang sakral. Jadi mengapa kamu menyebut-nyebut hari ulang tahun pernikahan? Itu hanya sederet angka, hanya memoar dari sebuah peristiwa.

            Ah, Am. Mestinya kamu lihat bagaimana sanggahan-sanggahanmu bahkan telah mencuci kepalaku. Dulu, mungkin aku akan memertahankan pendapat mati-matian, walau semua pendapatku akan kamu gilas dan kamu mentahkan. Pada akhirnya, akulah perempuan yang selalu menanggung kesalahan, bahkan untuk sesuatu yang tidak aku lakukan.
            “Aku tidak ingin kamu pergi, dengan cara seperti ini, atau dengan cara apa pun,” kamu menatap bebayang di sudut ruangan. Separit sungai mengalir di pipimu.
            Sudah pernah kubilang bahwa selama tiga tahun ini kamu tak pernah merasa memilikiku, aku hanyalah arca penghias sudut rumahmu. Jadi mengapa kamu baru menderita sekarang? Setelah segala sesuatunya tak bisa kita kembalikan?
            “Aku menyesal telah berkata-kata kasar padamu, aku menyesal tak pernah mempedulikanmu,” katamu.
            Waktu tidak bisa diputar ulang, begitu juga cinta. Kita hanya sepasang pemain sandiwara di panggung bernama kehidupan. Kamu boleh saja meraung-raung meneriakkan penyesalan, tapi itu tak akan berarti banyak, aku tak akan kembali, tak akan pernah. Nikmati saja setiap sayat luka, Am. Sebab itulah yang aku lakukan setiap kali makian keluar dari mulutmu, atau setiap kali kau berubah menjadi patung yang bisu.
            Aku tahu, kau menikahiku dengan cinta yang  meniada, hanya ingin menenggelamkan jejak-jejak masa lalu. Bagimu, pernikahan hanyalah menggenapkan jalan nasib, sekadar mengikuti arus sungai, berlayar untuk sampai kepada muara dan lautan. Sedangkan bagiku, menikah denganmu adalah sebuah kesempurnaan hidup. Belum pernah aku mencintai laki-laki sebesar aku mencintaimu.
            Aku sudah tuli terhadap makianmu, Am. Kata-kata tak lagi menjadi pedang yang menikam. Ketika kamu boleh mengatakan apa saja karena telingaku sudah tidak bekerja, mengapa kamu justru mengatakan penyesalan? Tidakkah itu sia-sia?
            “Aku menemui Lara hanya agar ia menjauh dan tidak lagi merongrong kehidupan kita, Ayya. Tak lebih dari itu,” tanganmu yang menggenggam cangkir bergetar-getar.
            Apa? Mestinya kamu mencerna kata-katamu barusan. Menemuinya? Bukankah ia yang menemuimu? Di rumah kita. Di kamar kita. Dan mataku nyaris buta sebab aku menemukan kalian di atas ranjang sambil telanjang. Itu yang kamu sebut sebuah pertemuan? Am, aku bukan anak umur lima tahun yang bisa kamu bohongi tentang apa itu fungsi vagina dan payudara. Kamu selalu bilang bahwa perempuan itu telah menjadi hantu masa lalu, tapi suratnya masih kamu simpan, fotonya masih menghiasi folder-folder di dalam komputer, semua tulisanmu tentangnya tak pernah kamu buang. Persetan tentang hidup bukan hanya tentang kelamin, toh pada akhirnya kamu menyerah pada setan-setan yang kamu ingkari tapi kamu puja sampai ke seluk sanubari.
            “Aku tidak mengerti, apa sebetulnya yang tengah kamu perjuangkan?” kamu menggeleng-gelengkan kepala.

            Ya, kamu memang tidak pernah mengerti. Di dunia kita yang kecil, pemikiran selalunya saling berbenturan untuk kemudian menghambur keluar. Bagiku, pekerjaan kantormu telah menyita banyak sekali waktu. Bagimu, perjuanganku menuntut keadilan bagi perempuan-perempuan korban kekerasan hanyalah omong kosong semu. Kamu hanya ingin istri yang diam di rumah, tidak memiliki keahlian apa-apa selain memasak, menyapu, mencuci, dan berdandan cantik, tepat seperti Lara.
            Pernahkah kamu sadar bahwa selama ini aku hanya menjadi bayang-bayang?
            “Ayya, aku tidak ingin kamu pergi. Seharusnya aku mencegahmu ikut demonstrasi,” kamu resmi menangis. Matamu bergerimis. Berpasang-pasang mata menoleh ke arahmu, lelaki yang tengah duduk sendirian dengan dua gelas macchiato caramel di hadapan.
            Menangislah, Am. Meraung-raung dan merasa menyesalah, tapi aku tak akan pernah kembali kepadamu. Tidak akan pernah. Waktumu untuk bersamaku telah habis sejak orang-orang menemukan tubuhku tergolek tak bernyawa di gorong-gorong dengan dua peluru bersarang di kepalaku, tiga hari lalu.


            Janji yang pernah kubuat telah kutepati; bahwa aku akan meninggalkanmu dengan cara yang teramat menyakitkan. 
___
*lirik lagu Ferry Curtis; Lelaki di Persimpangan

8 Comments

  1. Langit Amaravati-Reply
    October 31, 2013 at 3:57 am

    Yuk nangis bareng-bareng 😀

  2. Langit Amaravati-Reply
    October 31, 2013 at 4:07 am

    Menyesal tidak pernah ada di awal.

  3. Langit Amaravati-Reply
    October 31, 2013 at 5:39 am

    Cinta dan memiliki, cinta dan kehilangan, meskipun masing-masing adalah entitas yang berbeda, tapi jarang sekali bisa dipisahkan.

  4. October 31, 2013 at 3:50 am

    Hmmmm..nyesek

  5. October 31, 2013 at 3:58 am

    Ya Tuhan.
    Am, harusnya kau sadar lebih awal. Harusnya.

  6. October 31, 2013 at 4:28 am

    Kita tidak akan pernah merasa kehilangan kalau dari awal kita tidak pernah merasa memiliki..

    *kutipan sok bijak*

  7. November 10, 2013 at 2:35 pm

    hidup bukan hanya tentang kelamin..tapi tetap saja,kelamin itu penting.. XD

  8. January 14, 2014 at 3:22 pm

    cinta itu memang aneh, walaupun sudah tidak sendiri, tetapi perasaan cinta terus membara, walaupun tidak saling memiliki, biarlah cinta itu tetap hidup

Leave a Reply