Kehidupan pribadi saya terancam berantakan sejak saya jadi blogger.

Lebih berantakan lagi ketika saya mulai intens ikut lomba-lomba yang menyita tenaga, waktu, dan pikiran. Saya sadar bahwa setiap kerja keras akan selalu terbayarkan, tapi saya lupa bahwa saya juga punya tanggung jawab profesi lain. Profesi saya bukan hanya blogger, saya juga desainer dengan tenggat waktu padat merayap. Saya juga cerpenis yang sudah terlalu lama vakum. Saya juga wirausahawan yang bisa saja memiliki omzet besar kalau saya punya lebih banyak waktu.

Pekerjaan utama saya bukan blogger dan semoga saja tidak akan menjadi profesi utama, jadi saya tidak harus repot-repot punya 100 blog untuk menghidupi anak-anak seperti Mas Anonymus yang nyolotan itu. Ikut lomba hanyalah usaha saya untuk memicu adrenalin, untuk mencari sparring partner, sekaligus media agar saya berusaha meningkatkan skill. Menang ya syukur, kalah ya sudah. Memonetisasi blog hanya ikhtiar saya menghargai jerih payah saya sendiri, sama dengan ketika saya menulis cerpen.

Pun, saya lupa bahwa selain memiliki tanggung jawab profesi, saya juga memiliki tanggung jawab sosial. Saya punya anak usia remaja yang sebentar lagi masuk SMP, saya punya anak batita yang sering protes karena tidak diperhatikan, saya juga punya (katakanlah) kekasih yang lebih sering jadi teman diskusi atau tukang bikin kopi karena setiap kali bertemu saya sedang dikejar deadline. Kalau begini terus, kapan cita-cita saya untuk membangun rumah tangga samara akan tercapai? Kapaaannn?

Puncaknya adalah ketika dua minggu yang lalu Aksa harus menginap di rumah pengasuhnya selama beberapa hari berturut-turut. Karena apa? Karena saya sedang mengejar deadline. Hari pertama tidak ada masalah, hari kedua pengasuhnya datang ke kosan karena Aksa terus-menerus rewel sambil berceloteh, “Ndaaa … Ndaaa.” Ibu macam apa saya?

Lomba-lomba blog telah membuat saya kembali bertanya, apa prioritas utama hidup saya?

Untuk apa saya menang hadiah jutaan rupiah kalau pada akhirnya hubungan saya dengan anak-anak menjadi renggang? Untuk apa saya disebut-disebut sebagai pesaing utama Handiko Rahman si pengacau lomba itu kalau pada akhirnya saya dipecat ama si Akang? Nikah sama Diko? Kan, nggak mungkin. (P.S. Saya nggak suka brondong)

“Manajemen waktu atuh, Teh.”

Mas, Mbak, dua tahun ini untuk napas aja saya susah, manajemen waktu macam mana lagi? Intinya, saya harus berhenti sejenak, menetapkan kembali skala prioritas kalau tidak ingin depresi.

RE-CHARGE & RE-THINK

Iya, saya jenuh. Lelah mengejar deadline lomba hanya untuk memicu adrenalin. Saya harus menjaga kembali keseimbangan hidup. Ada beberapa hal yang saya lakukan, ini bukan tip, bisa saja cocok untuk Anda bisa juga tidak.

1. Keluarga Adalah Nomor Satu

Eciyeee … yang sedang mem-branding diri jadi ibu sekaligus calon istri salehah. Oh well, kejadian dengan Aksa adalah tamparan telak bagi saya. Walau bagaimanapun anak-anak adalah nomor satu, saya tidak bisa egois dengan terus-terusan mengejar karier. Ya persetanlah dengan karier dan profesi jika harus menyita waktu yang seharusnya saya pergunakan untuk anak-anak.

Saya jenuh dan lelah terus-menerus didera rasa bersalah. Saya tidak mau karier apa pun yang tengah saya tapaki malah jadi bumerang bagi saya sendiri. Sejak dua minggu lalu saya sudah memutuskan untuk membatasi apa pun kegiatan saya, fokus kepada Aksa dan Salwa. Juga fokus kepada kesehatan diri saya sendiri.  
Jadi saya akan kembali ke jalan yang benar, jalan yang digariskan oleh Tuhan: ibu. 

2. Menyelesaikan SEMUA Outstanding Job

Saya punya beberapa outstanding job yang sempat terbengkalai karena terlalu serius ngeblog. Iya, ini salah saya. Sepenuhnya salah saya.

Selain kehidupan pribadi, kondisi finansial saya juga terancam. Meskipun freelancer, pendapatan rutin saya ya dari desain.Terus terang, sejak aktif ngeblog beberapa bulan lalu, pendapatan saya sama sekali berhenti karena saya tidak menyelesaikan order desain.

Ketahanan ekonomi akan menyeimbangkan antara idelisme dengan realitas. Kalau terus-terusan seperti ini, lama-kelamaan saya akan terjebak “jual diri” seperti Mas-Mas Anonymus itu *dibahas. Jujur, saya juga ingin mendapatkan DOLLAR dari blog, kalau perlu poundsterling yang nilai tukarnya lebih tinggi. Tapi saya tidak bisa, lebih tepatnya saya tidak mau.

Blog adalah media tulisan, dan menulis bagi saya adalah takdir yang harus selalu digenapi. Kalau perlu dikomersialkan, cara saya menyeimbangkan idelisme dengan realitas adalah dengan membuat tulisan berkualitas sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi, tidak dengan cara “jual diri”.

Jadi kalau saya mau tetap berada di jalur takdir yang tepat, saya harus secure secara finansial. 

3. Mengurangi Intensitas Ikut Lomba Blog

Terutama lomba-lomba bertema teknologi yang harus mengeluarkan efforts banyak. Tenaga dan ide untuk membuat grafis lebih baik saya gunakan untuk mengerjakan layout-an yang hasilnya lebih jelas. Tolong jangan senang dulu, sesekali saya masih akan ikut lomba, tapi tidak akan memaksakan diri lagi. Kalau sempat ya ikut, kalau tidak ya sudah. 

4. Menulis untuk Bersenang-Senang

Dalam dua minggu ini saya sedang ikut program One Day One Post (ODOP) yang diadakan oleh Fun Blogging. Setiap hari temanya berbeda-beda, tapi kami bebas menulis dari sudut pandang mana saja. Blogpost saya “Anda dan Saya Blogger, Bukan Event Cheerleader” adalah bagian dari ODOP. Temanya adalah cara hemat ketika datang ke event blogger, entah kenapa saya malah nyasar dan menulis postingan yang kemudian menuai view polemik.

Begitulah cara saya bersenang-senang. Yang baru mengenal saya mungkin akan sedikit shock dan benci tapi rindu. Tapi Anda yang sudah mengenal saya lama pasti paham bahwa karakter tulisan saya memang berasa tomyam: asem, manis, pedas, tapi enak. (Iya deh, Chan, iya)

5. Menulis Cerpen

Dosa besar saya sebagai cerpenis adalah vakum menulis cerpen. Saking vakumnya, sampai-sampai ada cerpenis baru yang nyinyir setiap kali saya posting artikel lomba atau postingan-postingan sponsored post. Bukan salah dia memang, toh dia tidak tahu bahwa ketika dia masih belajar membuat opening lead, saya sudah ke UWRF. (Songong lu, Chan)

Dua tahun saya vakum menulis cerpen. Sudah waktunya saya kembali dan mengulang tahun-tahun kejayaan. *halah 

6. Membaca

Ada ratusan buku yang belum sempat saya baca. Buku yang selama ini hanya jadi penghias rak. Membaca selalu bisa menjadi bunker tempat saya melarikan diri dari kejenuhan macam apa pun. Lagi pula, membaca juga bisa berfungsi mengisi nutrisi.

Saya sadar, semakin sering menulis, apalagi untuk lomba, tulisan saya jadi semakin cair. Seperti kata Pandu Dryad dalam komentarnya, akhir-akhir ini blog saya hanya dibaca para blogger lagi, terutama postingan-postingan lomba. Dulu, meskipun komen dan view sedikit, saya punya pembaca loyal. Para pembaca yang memang suka dengan tulisan saya. Sekarang? Berapa persen sih dari pembaca yang betul-betul ingin tahu fitur gadget? Kebanyakan kan cuma riset kompetitor atau melihat grafisnya.

Iya, kan?

7. Self Healing

Sebetulnya ketujuh poin ini juga berfungsi untuk self healing sih, saya cuma ingin menegaskan. Anda tahu tidak bahwa didera deadline terus-terusan bisa membuat kita stres? Dua minggu lalu saya sampai depresi. Lebay, ya? Da saya mah gini orangnya, di luar aja kelihatan sangar padahal hatinya mah lemah lembut dan gemulai. Nikahable banget lah pokoknya.

Oke, fokus!

Sebelum kejadian Aksa nangis sambil bilang “Ndaaa … ndaaa…” itu, pada suatu sore dia rewel sekali. Ingin main sepeda di luar padahal sedang hujan. Apa yang saya lakukan? Saya marahi dia, tidak tanggung-tanggung, saya sampai bilang begini, “Aku sudah mempertaruhkan hidupku demi mempertahankan kamu. Aku rela dimusuhi seluruh dunia agar kamu ada. Jangan uji aku dengan cara seperti ini!”

Setelah capek menangis, Aksa langsung tidur, tanpa minum susu, tanpa dipuk-pukin.

Setelah itu saya duduk di depan laptop, memandangi layar berisi draft postingan lomba, bertanya-tanya dalam hati mengapa saya sampai tega mengeluarkan kata-kata itu kepada Aksa? Dia bahkan tidak pernah minta dilahirkan dari rahim saya. Itu bukan hal yang bisa dia pilih. Tuhanlah yang mengirimkan Aksa kepada saya untuk menjadi jangkar.

Saya juga bertanya-tanya, apa yang menyebabkan emosi saya serentan itu? Jawabannya ada di depan saya: tenggat waktu membuat emosi saya tidak stabil. Karena saya keras kepala dan pantang berjuang setengah-setengah, besoknya saya meminta agar Aksa menginap di tempat pengasuhnya.

Apakah langkah saya berhasil? Tidak, yang ada adalah kejadian seperti yang saya ceritakan di awal. Saya menyerah. Memenangkan lomba tidak lebih penting daripada anak-anak dan kesehatan mental saya.

Manajemen waktu saja tidak cukup. Saya sudah semakin ahli mereview gadget, tapi semakin tumpul mereview hidup saya sendiri. Saya lelah didera deadline terus-menerus. Cemen? Boleh jadi. Kenyataannya memang kesehatan saya tidak mendukung untuk melulu begadang, lupa makan, lupa pacaran. Kalaupun mau mereview karena saya suka bidang ini, saya akan melakukannya atas inisiatif sendiri, bukan cuma untuk memuaskan dewan juri. Kalaupun ingin ikut lomba, saya akan memilih lomba yang betul-betul ingin saya tulis.

Saya jenuh ngeblog hanya agar traffic bagus, memikat brand, atau hal-hal semacam itu. Saya akan kembali menerapkan prinsip “setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri-sendiri”. Untuk apa saya menulis hal-hal yang tidak saya sukai atau hal-hal yang tidak ingin saya bagi?

Personal branding. Menjaga hubungan baik dengan sesama blogger, agensi, dan brand. Menjaga engagement dengan pembaca. Hal-hal itu tentu masih akan saya jaga karena ini berlaku di setiap profesi.

Tapi, saya tetap ingin menjadi blogger amatir. Yang menulis blog karena suka, karena cinta. Dapat bayaran atau tidak, itu tidak lagi menjadi prioritas saya.

Salam,
~eL

124 Comments

  1. April 4, 2016 at 1:46 pm

    Saya jenuh ngeblog hanya agar traffic bagus, memikat brand, atau hal-hal semacam itu. Saya akan kembali menerapkan prinsip “setiap tulisan memiliki takdirnya sendiri-sendiri”. Untuk apa saya menulis hal-hal yang tidak saya sukai atau hal-hal yang tidak ingin saya bagi? 》》》 suka bagian ini

  2. April 4, 2016 at 1:55 pm

    Can not agree more! Ketika kita sudah merasa keteteran, berarti saatnya untuk memilih kembali mana yg prioritas. Gudluck Mbak! =)

  3. April 4, 2016 at 2:06 pm

    Good luck ya kak eL.Semangaaat! yeyeee go go gooo

  4. April 4, 2016 at 2:09 pm

    Selalu bagus tulisannya….. 🙂 Iya ngeblog mah jangan dibikin cape dibikin seneng aja

  5. April 4, 2016 at 2:11 pm

    gak nyangka, dibalik kesuksesan mbak di event blog competition ternyata terdapat masalah serius, .. pas baca post ini aku jg kerasa di tampar.. sudah jarang kumpul bareng temen” lg, cuma nyusahin temen temen untuk koreksi blog aku yg bahkan mereka gak tahu manfaat blog itu apa.. Smg jalan yg dipilih benar ya mbak..

  6. April 4, 2016 at 2:27 pm

    Saya suka gayamu, Nduk.
    Soal polemik itu biasa, namanya juga orang banyak.
    Saya ngasih informasi katanya saya sotoy, busyeet deh.
    Rapopo
    Salam hangat dari Jombang

  7. April 4, 2016 at 2:39 pm

    mba Langit, saya juga sempet tuh sampe ditegur swami karena keseringan keluar rumah utk urusan blogging, hehehe, makanya balik lagi bikin prioritas…

  8. April 4, 2016 at 2:39 pm

    Duh teteh, baru besok aku mau nulis tentang ini juga 😀 perlu rehat sejenak kayaknya dari per-ilmu-an ttg ngeblog 😀

  9. April 4, 2016 at 3:00 pm

    Aku komen apa ya …. Pokoke apa pun pilihan teteh, kita dukung dah (serius tidak hanya krn kompetitor berkurang kok he he he)

  10. April 4, 2016 at 3:03 pm

    Dari semua tulisan2mu, aq paling suka yang ini, Chan. Andai Aksa bisa baca tulisanmu ini, dia akan jadi anak yg paling happy sejagad, mengetahui bahwa Bunda meletakkannya pada prioritas utama, kini. 🙂
    Suka banget dg 'setiap tulisan punya takdirnya sendiri2.' Ho oh, bener juga yaa?

    Sukses selalu untuk semua keputusan yang Uchan ambil, ya!
    Salam sayang untuk Aksa dan Salwa.

Leave a Reply