Ketika detik detak tanggal dirajahkan di atas almanak, segala macam yang sudah lalu akan menjadi riwayat; sejarah yang hanya bisa diingat. Apa yang datang, akan selalu luruh dalam harap atau terjang. Bagiku, di dalam perputaran waktuku, seluruh dunia berputar dalam ketergesaan yang janggal, nyaris astral. Peristiwa demi peristiwa mendobrak pintu, melesat, mendekat, kemudian melesat lagi. Pada akhirnya, tubuh dan pikiranku hanya jadi semacam tempat persimpangan momentum, tak ada residu yang bisa kusimpan untuk kelak kumasukkan dalam kotak-kotak kenangan. Entah, mungkin itu dikarenakan otakku sendiri sudah begitu enggan dan jengah mengoleksi sampah.
Tanggal hitam, tanggal merah, tanggal biru, bahkan ketika seluruh warna pernah tumpah, toh peristiwa hanya jadi peristiwa. Singgah, kemudian entah. Ada nama dan wajah kekasih, ada nama dan wajah anak, ada nama dan wajah semua orang yang dikenal atau tidak dikenal. Semua bercampur, menciptakan pusaran wajah dan nama-nama. Kadang, aku terjebak dan tak mampu beranjak. Bergelung terus di balik punggung kehangatan sebuah hubungan kekerabatan. Namun yang terjadi kemudian bahwa segala amsal akan kembali kepada asal. Toh, aku kerap dan tetap sendirian.
Lalu, sesakit apa rasanya kesepian?

Leave a Reply