[LTERARY] BAKAR BUKUNYA, MINUM ABUNYA

“Aku mau jadi penulis, ajarin dong,” kata seorang teman kepada saya.
“Kapan terakhir kali kamu membaca buku?” tanya saya.
“Hmmm …,” dia mulai ragu-ragu. “Beberapa tahun yang lalu sih, waktu aku masih kuliah,” jawabnya dengan wajah tak berdosa.
“Kalau tidak pernah membaca, jangan pernah mimpi jadi penulis,” tukas saya.
“Hei, tapi kata teman-teman yang lain, aku berbakat. Buktinya status facebook aku banyak yang like,” ia mulai ngotot.
“Persetan dengan bakat. Tidak pernah ada yang berbakat menjadi apa saja. Semua orang menjadi ahli karena latihan, kerja keras, dan kegigihan,” orasi saya. Sadis? Memang.
Jadi begitulah, banyak sekali orang yang pandai bermimpi tapi tidak pernah mau bekerja keras untuk mewujudkannya. Bahkan ketika ada yang menunjukkan jalan pun, mereka tetap bersikukuh untuk bermalas-malasan. 
Setiap manusia memiliki kapasitas otak yang sama, itu sebabnya ada pepatah yang mengatakan bahwa kita tidak pernah terlahir bodoh. Perbedaan antara orang cerdas dan orang tolol hanyalah kalau orang cerdas menggunakan otaknya sementara orang tolol tidak. Itu saja. 

Membaca dan menulis itu kembar siam, tidak bisa dipisah-pisahkan. Bahan bacaan berfungsi sebagai input agar bisa ada output. Jika tidak ada pemasukan, apa yang akan Anda keluarkan? 
Ketika saya menjadi tutor dalam workshop penulisan, ada yang bertanya begini:
“Tapi saya tidak suka membaca, bisa tidak bacaan diganti dengan hal lain?” 
Nah, itu adalah pertanyaan paling kurang ajar. Lalu saya menjawabnya begini:
“Bisa. Kamu bakar saja bukunya lalu minum abunya.”
Mengapa saya cerewet soal pentingnya membaca? Karena untuk seorang penulis, bacaan memiliki banyak fungsi:
1. Nutrisi
Semakin banyak dan berkualitas nutrisi yang masuk ke otak Anda, semakin berkualitas pulalah tulisan Anda. Kalau ada yang mengatakan bahwa menulis itu adalah bakat alam, itu sepenuhnya omong kosong. 
2. Referensi
“Tulislah apa yang tidak kamu tahu.”
Sangat tidak mungkin menuliskan sesuatu yang tidak Anda tahu, bukan? Maka salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan membaca. 

3. Inspirasi
Ide bisa datang dari mana saja, salah satunya dari apa yang kita baca. Koran, majalah, buku, web, dan lain sebagainya. Tugas seorang penulis bukan menunggu inspirasi, tapi mencarinya.
4. Edukasi
Apa Anda tahu bahwa berbagai literatur tentang penulisan bertebaran di dunia nyata dan maya? Baca dan praktikkan! Anda

tidak bisa begitu saja meminta seseorang untuk menjadi tutor sementara Anda sendiri ongkang-ongkang kaki. Memangnya yang mau jadi penulis siapa?

5. Komparasi
Pernahkah Anda membaca tulisan yang begitu sampah sampai Anda ingin menyobek-nyobek buku yang tengah Anda baca? Lalu apa yang terbersit dalam pikiran Anda ketika membaca buku seperti itu? Kalau saya, yang ada dalam pikiran saya adalah:
– Gila aja, yang kayak ginian disebut tulisan? Gue bisa nulis yang lebih bagus dari ini.
– Oh, jadi yang seperti ini ya tulisan sampah? Jangan sampai kualitas tulisan gue seperti ini. 
6. Motivasi
Seorang penulis harus senantiasa meningkatkan kualitas tulisannya. Bahan bacaan yang berkualitas akan menjadi motivasi sekaligus patokan target pencapaian. 
*

Lalu, apakah bahan bacaan terpusat pada buku saja? Tidak. Meski buku adalah nutrisi utama, tapi bacalah apa saja; koran, majalah, web, apa saja. Sampai sekarang saya memiliki hobi membaca semua hal yang ada di jalan; spanduk, plang jalan, reklame, plang toko, apa saja. Selain itu juga saya membaca nyaris semua pembungkus makanan dan minuman. Hey, hobi itu mungkin agak aneh, tapi saya jadi tahu bahwa Aqua yang tersebar di Bandung dengan di Batam berasal dari mata air yang berbeda. 
Saya tahu bahwa tidak setiap orang memiliki kelapangan rezeki agar bisa mendapatkan bahan bacaan. Tapi Anda juga harus tahu bahwa uang bukanlah Tuhan. Sepanjang Anda gigih, apa pun bisa Anda dapatkan. Sayangnya banyak calon penulis yang menjadikan hambatan sebagai dalih untuk bermalas-malasan. Jadi, mari saya bantu memberikan pemecahan:

“Saya tidak punya uang untuk membeli buku.”

Apa Anda pernah mendengar sesuatu bernama “perpustakaan”? Iya, itu adalah tempat meminjam buku tanpa berbayar. Anda cukup mendaftar lalu meminjam buku apa saja. For free!  Perlu Anda tahu juga bahwa di Jawa Barat tersebar taman bacaan yang tidak memungut bayaran.

“Tidak ada toko buku di kota tempat tinggal saya.”

Hellow! Lalu apa kabar dengan toko-toko buku online?

“Tempat tinggal saya jauh dari perpustakaan.”

Kalau Anda bisa facebook-an dan twitter-an setiap saat, mengapa Anda tidak sesekali mampir ke web-web dan membaca sesuatu yang lebih berguna di sana? 

“Saya lebih suka menonton filmnya daripada membaca bukunya.”

Kalau begitu, jadi sutradara saja, tidak usah mau jadi penulis.

“Saya tidak tahu buku apa saja yang harus saya baca.”

Gunakan dua alternatif bantuan:
– Ikuti selera Anda.
– Call a friend.

“Saya suka menulis cerpen, tapi tidak suka membaca cerpen.”

Well, kalau Anda saja tidak mau membaca karya orang lain, lalu bagaimana orang lain akan mau membaca karya Anda?

“Saya suka membaca cerpen-cerpen yang ada di koran, tapi susah mendapatkan koran di tempat saya.”

Woi, ada e-paper, woi!

“Saya tidak terlalu suka membaca.”

Bakar bukunya, minum abunya!
*

Jadi, sebelum Anda memutuskan untuk menjadi seorang penulis, tolong tanyakan dulu pada diri Anda sendiri; sudahkah saya sadar membaca? 
Salam,
~eL

One Comment

  1. September 23, 2015 at 6:27 pm

    Jangan keras,mbak. bisa kurus saya.

Leave a Reply