Saya peminum kopi brutal. Dalam satu hari bisa menghabiskan 6-10 mug kopi. Kopi instan sachet atas alasan kepraktisan. Semakin banyak deadline yang harus diselesaikan, maka semakin tinggilah intensitas saya meminum kopi. Itu yang menyebabkan lambung dan ginjal saya bermasalah. Saya tahu suatu saat harus berhenti menyiksa tubuh dengan cara seperti itu, tapi memisahkan seorang pekerja kreatif dengan kopi sesulit memindahkan gunung. Orang lain mungkin bisa, tapi saya tidak.

Masalah di lambung dan kopi telah membawa saya kepada petualangan baru: wisata kopi nonpabrikan. Bagi saya ini semacam jalan tengah, di satu sisi kegemaran saya terhadap kopi bisa diakomodasi, di sisi lain lambung saya terselamatkan. Anda mungkin sudah tahu bahwa kopi murni yang diolah dengan cara tradisional justru baik bagi kesehatan. Kata “ngopi” pun telah membawa saya bertualang ke banyak tempat, ke banyak orang. Kopi membawa saya ke Kopi Congress, kopi hitam jenis arabika dan robusta “handmade” yang diolah oleh teman-teman para petani kopi di Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Namun, berbicara tentang kopi berarti berbicara soal budaya, bukan hanya secangkir cairan hitam pekat yang tersaji di meja kita setiap pagi. Berbicara tentang kopi juga berbicara tentang mata rantai produksi yang panjang dari mulai pemilihan bibit sampai pemasaran. Berbicara tentang kopi berarti berbicara mengenai kategori para petani di Indonesia umumnya dan Jawa Barat khususnya: petani sebagai peasant yang subsisten atau farmer yang lebih cepat merespons terhadap inovasi. Kategori petani itu baru dari sudut pandang Wolf, seorang antropolog yang melakukan pendekatan evolutif. Belum lagi kategori petani berdasarkan teori yang dikemukakan oleh antropolog lainnya, Samuel Popkin dan James Scott. Belum lagi … tapi ya sudahlah, ini blogpost, bukan handout kuliah, jadi saya tidak akan membahas lebih jauh tentang itu.

Yang jelas, para petani kopi Taraju sedang dalam masa transisi atau revolusi dari peasant yang “sekadar” pengolah lahan menjadi farmer yang berorientasi kepada keuntungan dengan cara ikut ambil bagian dalam agrobisnis, bahkan agroindustri. Ini menarik untuk dikaji.

Kopi Congress sebagai UMKM hanya memiliki satu tujuan: mengangkat harkat martabat para petani. Kedengarannya mungkin cukup sederhana, tapi karena saya selalu senang memperumit masalah, saya akan mengatakan kepada Anda bahwa sektor pertanian memiliki spektrum yang kaya. Untuk mengangkat harkat dan martabat para petani kopi sama sekali tidak sesederhana itu.

PRODUK

Kopi Congress memproduksi dua jenis kopi: arabika dan robusta Taraju. Kedua jenis kopi tersebut diolah secara tradisional untuk menjaga kualitas aroma dan rasa. Bukan itu saja, mereka juga menyediakan kopi yang diolah dengan 3 metode roasting (pemanggangan): light, medium, dan dark.
(Harga dapat berubah sewaktu-waktu)
Jika Anda senang bertualang dengan cita rasa kopi, Anda bisa mengeksplorasi dari mulai metode roasting sampai brewing. Sebagai contoh, robusta Taraju yang diseduh biasa rasanya akan berbeda dengan yang diseduh dengan metode moka pot atau manual dripping. And you know what? Dari kopi yang sama, akan didapat aroma dan rasa berbeda jika di-roasting dengan suhu dan atau alat berbeda.
Itu baru satu jenis kopi dari satu kecamatan di satu kabupaten. Belum lagi dari kebun-kebun lain yang tersebar di seluruh Jawa Barat. Kaya, bukan?

KISAH PANJANG DI BELAKANG

Seperti yang saya katakan di awal, kopi adalah sebuah kisah yang panjang. Kita tidak bisa membicarakan UMKM pengolahan kopi hanya dari sisi bisnis sebab ada hal-hal yang lebih krusial di balik itu semua. Reforma agraria sudah lama menjadi isu seksi yang terus-menerus digodok di berbagai lapisan, kesejahteraan para petani adalah salah satu cakupannya. Tapi isu kesejahteraan hanyalah satu dari sekian banyak alasan yang melatarbelakangi lahirnya Kopi Congress. Latar belakang lainnya adalah:
1. Tengkulak
Keberadaan tengkulak menjadikan harga kopi teramat rendah sehingga para petani sendiri sering kali menganggap bahwa hasil kebun mereka tidak memiliki nilai ekonomi. Sebagai gambaran, 1Kg cerry (biji kopi yang baru dipetik dan belum dikupas) robusta dihargai Rp2.500-Rp3.500. Padahal tanpa tengkulak, 1Kg cerry robusta bisa dihargai Rp4.500-Rp8.500. Lain lagi dengan arabika, kopi jenis ini berkisar Rp7.000-7.500, di pasaran arabika berkisar Rp19.000-Rp21.000 per kilogram.
Kopi Congress memotong jalur distribusi ini, bersinergi dengan koperasi petani, membeli kopi dengan harga wajar, mengolahnya sendiri, dan memasarkannya sendiri.
2.  Rasa Memiliki dan Nilai Ekonomi
Para petani kopi di Jawa Barat, khususnya di Taraju masih menganggap kopi sebagai tanaman pagar, bukan tanaman utama. Ya karena itu tadi, harga jual yang rendah menjadikan kopi tidak memiliki nilai ekonomi.
3. Skill
Para petani kopi sendiri belum semua yang memiliki keahlian untuk mengolah kopi sampai menjadi produk yang lebih memiliki nilai ekonomi tinggi. Di sinilah para petani kopi Taraju didampingi Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI) mengambil peranan: mengedukasi para petani kopi.
4. Pemahaman Masyarakat
Selain budaya, saat ini kopi sudah menjadi semacam gaya hidup. Masyarakat umum mulai aware dan bisa membedakan mana kopi yang berkualitas dan mana kopi yang “asal hitam”. Animo seperti ini menjadi angin segar karena itu artinya pasar sudah siap menyerap produk.

Sayangnya, awereness ini baru di tahap konsumsi, belum sampai kepada kepedulian nasib para petani kopi itu sendiri. 

TRANSISI PETANI & PROSES PRODUKSI

Para peasant di Taraju yang tadinya hanya menanam mulai bertransisi menjadi farmer, bergerak maju ke dunia agrobisnis dan agroindustri. Meski memang, tujuan mereka bukan hanya berorientasi kepada keuntungan. Tapi dengan mengolah dan memasarkan kopi mereka sendiri, itu artinya berpengaruh kepada percepatan ekonomi. Bayangkan, jika sebelumnya mereka menjual green bean arabika dengan harga kisaran Rp19.000-Rp21.000 per kilogram. Uniknya, kisaran harga itu dipengaruhi oleh fluktuasi dollar, tapi petani sendiri tidak paham mengenai itu sehingga harga masih ditetapkan oleh para tengkulak.

Dalam masa transisi dari peasant ke farmer, juga sebagai upaya meningkatan kualitas dan kuantitas produksi, maka mereka mulai mengolah kopi sendiri. Dengan melakukan pengolahan sendiri mereka bisa menjual ground (kopi bubuk siap seduh) dengan harga Rp77.500 per 250 gram.

Jadi, bisa Anda bayangkan bagaimana jika jalur distribusi dan proses produksi yang panjang itu ditangani oleh para petani sendiri melalui unit-unit usahanya? Berapa juta orang petani yang bisa “diselamatkan”?  Ya memang, untuk menghasilkan 1Kg ground diperlukan 6-8Kg cerry karena terjadi rasio penyusutan, juga ada biaya operasional yang harus diperhitungkan.

EDUKASI KOPI

Iya, Kopi Congress memang membeli biji kopi dari para petani dan koperasi. Tapi bukan, UMKM yang satu ini bukan penadah karena selain memotong jalur distribusi dan produksi, Kopi Congress dengan pendampingan dari KPRI juga memberikan edukasi dan pembekalan keterampilan kepada para petani kopi. Output-nya sudah jelas: para petani yang mandiri secara ekonomi.
Edukasi dan bekal keterampilan apa saja yang diberikan oleh Kopi Congress? Ada beberapa poin penting yang saya sarikan dari hasil obrolan dengan Kang Yayan, putra daerah Taraju sekaligus koordinator KPRI Jabar:
  • Kopi Congress membeli bahan baku berupa cerry dari koperasi dan petani dengan harga wajar sehingga para petani semakin sadar bahwa kopi milik mereka memiliki nilai ekonomi.
  • Memberikan edukasi tentang cara panen yang baik, yaitu petik pilih. Para petani diedukasi agar hanya memetik biji kopi merah yang sudah matang dan membiarkan biji kopi hijau agar terus tumbuh untuk dipanen kemudian. Dengan begini, kopi yang dihasilkan akan semakin berkualitas.
  • Memberikan bekal keterampilan tentang cara pengolahan biji kopi dari mulai bahan baku sampai kopi siap saji: penyortiran, pengupasan, roasting, grinding, sampai pengemasan.
  • Memupuk rasa percaya diri dan kebanggaan. Ground atau kopi bubuk yang sudah diolah akan disajikan kembali kepada para petani. Mereka, para petani, diajak untuk mencicipi rasa kopi dari hasil kebun mereka. Dari sinilah kebanggaan itu lahir. Mungkin inilah sebenar-benarnya “ngopi-ngopi asyik”.
Memang, banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Hambatan-hambatan baik internal maupun eksternal akan selalu ada. Namun, saya optimis bahwa UMKM berbasis kesejahteraan bersama seperti ini akan selalu menemukan jalan untuk ada dan berlipat ganda.

PASAR KOPI INDONESIA

DAN HAMBATAN-HAMBATANNYA

Hingga hari ini, pemasaran Kopi Congress baru sebatas di jaringan dan beberapa kafe di Jawa Barat. Eits, tapi jangan salah, arabika dan robusta Taraju sudah “coming out” dan diperkenalkan kepada publik di West Java Coffee Festival bulan November 2015 lalu.

Ngobrol-ngobrol soal pasar, yang menjadi kekhawatiran saya sebagai penikmat kopi adalah penurunan kualitas dan penurunan harga pasar yang diakibatkan oleh banjirnya penawaran. As we know, seperti yang terjadi dengan komoditas lainnya, harga pasar cenderung turun jika penawaran lebih banyak daripada permintaan.
Kekhawatiran saya ini dijawab santai oleh Kang Yayan, “Kopi adalah komoditas yang unik karena diseleksi oleh tangan manusia dan alam. Dengan sendirinya, alam akan melakukan peranan dalam menentukan kualitas kopi itu sendiri.”
Lebih jelasnya sih begini, pohon kopi memang bisa tumbuh di ketinggian 1.000-1.200 mdpl. Tapi kualitas kopi yang dihasilkan sangat tergantung kepada lingkungan sekitarnya. Pohon kopi yang tumbuh di tengah-tengah dataran gersang memiliki kualitas yang jauh di bawah pohon kopi yang tumbuh di tengah-tengah hutan, misalnya. Bukan itu saja, pohon kopi sangat adaptif, ia menyerap aroma di sekitarnya. Kalau Anda ingin melakukan uji coba, tanam saja pohon kopi di tengah-tengah rumpun mawar. Maka yang akan Anda dapatkan adalah biji kopi beraroma mawar. Meski saya tidak menyarankan kopi beraroma mawar diproduksi secara massal. 😀
Nah, karena percepatan pembangunan terutama di Jawa Barat kerap mendesak perkebunan, bukan tidak mungkin kelak akan ada kopi rasa mall atau taman beton. #eh
Jadi meskipun misalnya permintaan di pasar semakin tinggi, sepertinya kita tidak usah khawatir mengenai banjirnya penawaran karena jika mengacu kepada standar kualitas, alam akan menjaga keseimbangan.
Lalu apa saja hambatan yang dihadapi oleh Kopi Congress sebagai UMKM? Supaya lebih objektif, saya membaginya ke dalam dua kelompok: internal dan eksternal.

HAMBATAN EKSTERNAL

1. Middleman atau Tengkulak
Kita semua tahu bahwa tengkulak adalah akar tunggang yang sukar sekali dirobohkan. Para tengkulak inilah yang menyetir harga jual komoditas. Di satu sisi, tengkulak adalah jalur cepat untuk “balik modal”, tapi di sisi lain harga jual ditekan sampai serendah-rendahnya sehingga komoditas tidak memiliki nilai ekonomi tinggi.
Sayangnya, meski Kopi Congress bergerilya dari petani ke petani dan dari koperasi ke koperasi, mereka belum bisa mengkover seluruhnya. Memotong jalur distribusi yang sudah purba memang tidak mudah.
 
2. Harga Pasar
Banyak orang yang masih berpikir bahwa kopi lokal harganya mahal, padahal jika dihitung secara matematis, harga kopi lokal tradisional yang notabene lebih unggul secara kualitas justru bisa dibilang murah.

3. Kesadaran Masyarakat
Begini, I don’t blame you karena lebih suka mengonsumsi kopi instan daripada kopi betulan. It’s not your false, seriously. Ada begitu banyak faktor yang menjadikan mass market di Indonesia agak sulit untuk berkembang, salah satunya adalah kesadaran masyarakat.
Dari sisi kopi sebagai komoditas yang diproduksi oleh UMKM, berapa banyak sih dari kita yang sadar bahwa kopi lokal ini ada? Mungkin karena strategi marketing yang kurang memiliki gema, bisa jadi karena produk UMKM jenis ini sulit diakses, atau karena produk yang ditawarkan tidak sesuai dengan selera masyarakat. Banyak sekali faktor.
Namun, yang paling utama dari poin ini adalah bahwa selama ini masyarakat selalu menempatkan diri sebagai konsumen yang merasa berhak “dimanjakan” oleh para produsen, bukan sebagai bagian dari siklus ekonomi itu sendiri. Ini tantangan besar bagi para pelaku UMKM.

Hal ini agak kontradiktif dengan pertumbuhan konsumsi kopi di Indonesia. Berdasarkan data dari International Coffee Organization (ICO), konsumsi kopi di Indonesia justru mengalami kenaikan yang signifikan dari tahun ke tahun. 


Meski konon, kopi lokal sudah mulai masuk ke tataran komersial massal seperti kafe-kafe, sayangnya saya tidak menemukan data valid sehingga tidak bisa menyebutkan angka. Pertanyaan besarnya adalah, jika bukan kopi lokal berkualitas, kopi jenis apa yang dikonsumsi oleh orang Indonesia selama ini? 

4. Alam
Dengan kondisi geografis, perubahan cuaca yang ekstrem, dan perubahan lingkungan di sekitar perkebunan, sulit mendapatkan kualitas kopi dengan standar tertentu. Dalam satu kali panen setiap tahunnya, kualitas kopi yang dihasilkan sangat fluktuatif. Ini hambatan yang agak sulit ditangani.

INTERNAL

Hambatan internal ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi Kopi Congress sebagai badan usaha. Beberapa poin sudah saya bahas sekilas di subbab latar belakang.
1. Modal Usaha
Membeli kopi dari petani dengan harga di atas tengkulak jelas bukan perkara mudah. Dibutuhkan modal awal besar karena bahan baku yang mesti dibeli bukan hanya satu atau dua kilo.
 
2. Sumber Daya Manusia

Untuk mencapai tujuan para petani kopi yang mandiri secara ekonomi sekaligus menjalankan usaha juga bukan perkara mudah. Banyak SDM dari berbagai bidang yang dibutuhkan. Contoh kecil saja, Kopi Congress belum memiliki tim promosi khusus. Yang ada saat ini adalah para agen ganda, eh, SDM dengan jobdesc rangkap.

Jadi ketika saya bertanya tentang web dan akun medsos, saya hanya mendapatkan cengiran sebagai jawaban. Well, okay. Mungkin sudah saatnya para blogger ambil bagian dalam tugas mulia ini. *eheum
 
3. Internal Petani
Seperti yang saya singgung sebelumnya, para petani di Jawa Barat sendiri belum sepenuhnya sadar tentang nilai ekonomi biji kopi yang mereka tanam. Akhirnya kopi menjadi sekadar tanaman pagar atau berakhir di kulakan para tengkulak. Tentu saja dengan harga rendah.
Karena kesadaran yang kurang ini pulalah, panen dilakukan tanpa disortir terlebih dahulu. Biji kopi yang sudah matang bercampur dengan biji kopi yang belum matang betul. Ini memengaruhi kualitas cerry dan green bean yang dihasilkan.
Belum lagi masalah skill. “Menyeret” para petani dari zona nyaman penanam ke pengolah tidak bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan edukasi dan pelatihan yang masif dan kontinyu. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan Kang Wisnu, antropolog lulusan UNPAD, para petani sudah kehabisan tenaga ketika proses tanam sampai panen sehingga tidak memiliki cukup tenaga untuk melakukan pengolahan.
 
4. Kapasitas Produksi
Poin ini sebetulnya gelindingan bola salju dari hambatan-hambatan sebelumnya dan sinergis dengan edukasi pasar dan promosi. Jika promosi semakin gencar dan masyarakat semakin teredukasi, teorinya permintaan akan semakin tinggi. Otomatis, kapasitas produksi juga harus ditingkatkan, tho? Masalahnya, sumber daya yang tersedia saat ini belum memadai untuk menyambut itu. Kalau pesanan dalam jumlah kecil sih, mereka masih sanggup, tapi kalau bulk order sepertinya masih diperlukan effort lebih.

PERAN SERTA MASYARAKAT

DALAM PERTUMBUHAN EKONOMI

Saya pribadi antusias dengan UMKM kopi seperti ini. Ingin sekali ikut berperan serta aktif dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia. Anda pun pasti demikian. Banyak cara yang bisa kita lakukan:

1. Menjadi Konsumen Loyal

Cara paling mudah untuk mendukung UMKM adalah dengan cara membeli produk mereka dan bangga ketika menggunakannya. Tapi kita tidak serta-merta menutup mata terhadap kualitas. Jangan karena itu UMKM maka kita merasa harus membeli tanpa mempedulikan kualitas, ini justru tidak mendidik.

2. Mengubah Mindset
Meskipun saya dan Anda adalah konsumen, bukan berarti peran kita berhenti sampai di situ. Tolong ubah pola pikir end user minded. Kita bukan objek di ujung mata rantai produksi, melainkan subjek yang ikut ambil bagian dalam siklus ekonomi.

Dalam hal kopi, kita bukan hanya penikmat, tapi tolong diingat bahwa kita berperan terhadap kesejahteraan para petani. Lebih jauh lagi, para penikmat kopi lokal ikut berperan serta aktif dalam pencapaian reforma agraria.

3. Menjadi Media Promosi

As we know, strategi marketing testimoni dari mulut ke mulut sangatlah efektif, terutama di era digital. Mudah saja mendukung UMKM, yang perlu Anda lakukan hanyalah mengunggah testimoni ke media sosial. Satu foto dan beberapa kalimat. Mudah, kan?

4. Kritisi
Penyakit kita hari ini adalah kita selalu menganggap bahwa UMKM adalah masyarakat “kelas bawah” yang patut dikasihani dan selalu benar sehingga anti-kritik. Padahal tidak demikian. Terlepas dari skalanya, UMKM adalah para pengusaha. Sudah menjadi sebuah keharusan bahwa sebuah perusahaan harus terus-menerus meningkatkan kualitas produk dan atau pelayanannya.

Salah satu tugas kita adalah memberikan masukan dan kritikan yang konstruktif. 

5. Apresiasi
Yang paling nyata dari apresiasi adalah tidak menawar harga jika harga yang ditawarkan masih masuk akal.

Selain 5 poin di atas, kita juga bisa berkontribusi dengan cara menabung. Di mana? Bagaimana caranya? Bank Tabungan Pensiunan Nasional atau BTPN sebagai bank yang concern terhadap pemberdayaan UMK menyediakan berbagai program untuk mengakomodasi pertumbuhan ekonomi. Tahun 2009 BTPN meluncurkan bisnis UMK dengan nama BTPN Mitra Usaha Rakyat. Tidak hanya sampai di situ, pada tahun 2011 BTPN meluncurkan program Daya, yaitu program pemberdayaan mass market atau UMKM.

Melalui subprogram Tumbuh Usaha, BTPN tidak hanya menyediakan pinjaman tapi juga memberikan fasilitas berupa informasi usaha, pelatihan wirausaha, dan memberikan peluang usaha baru. Salah satu produk BTPN adalah Paketmu, dengan fitur ini kita bisa mengajukan pinjaman untuk modal usaha dengan persayaratan yang cukup mudah. Untuk lebih lengkapnya, Anda bisa membaca di sini.

Dalam usaha mengajak masyarakat umum untuk ikut berperan serta aktif dalam pemberdayaan UMKM ini, dibuatlah Program Sahabat Daya. Selain menjadi deposan, kita juga bisa melakukan pendampingan dan pembinaan kepada para penggiat UMKM. Jangan khawatir tentang akses, karena sudah ada BTPN Sinaya yang bisa digunakan untuk transaksi perbankan maupun nonperbankan secara online dan mobile.

Salah satu produk perbankan yang bisa kita gunakan untuk menabung adalah Taseto. Dana yang kita setorkan sepenuhnya dipergunakan untuk pemberdayaan UMKM. Bunganya juga cukup bersaing dan setara dengan deposito. Untuk lebih jelasnya, kita akan melakukan simulasi Taseto Mapan. Di dalam simulasi ini saya akan menabung 1 juta per bulan dalam jangka waktu 5 tahun.

Jadi, dana yang saya titipkan bisa membantu pembuat roti manis dengan jumlah karyawan 26 orang. Hebat, bukan? Bukan tidak mungkin jika dana yang saya titipkan juga bisa ikut membantu teman-teman di Kopi Congress dan puluhan petani kopi di dalamnya.

SECANGKIR PENGETAHUAN

Have I told you about the taste? Ah, maafkan saya kalau belum sempat cerita. Favorit saya adalah Taraju jenis robusta, mungkin karena lidah saya terbiasa dengan itu. Yang saya minum adalah kopi roasting light, jadi aromanya lebihsegar. Jika dibandingkan dengan kopi lain yang tumbuh di Jawa Barat, body (kepeka tan) kopi Taraju berada di level 8.3 dari skala 1-10. Cenderung lebih pekat.

Untuk lebih jelasnya, rasa kopi Taraju bisa dilihat dalam diagram cupping di bawah ini:

Bagi saya, Kopi Congress bukan sekadar kopi hitam yang berasal dari Tasik sana, artinya jauh lebih besar dari itu. Secangkir kopi Taraju adalah juga sumber pengetahuan, cangkir tempat saya belajar kisah panjang spektrum pertanian. Kisah panjang perjuangan kesejahteraan. 

Bahkan setelah wawancara saya dengan Kopi Congress selesai, keteguhan mereka tentang mengangkat harkat dan martabat para petani kopi masih bergaung-gaung di kepala. UMKM hanyalah satu dan lain cara untuk sampai kepada misi besar itu. Dan tulisan ini pun menemukan muara dengan sendirinya, satu kalimat yang selam ini diredam dan dipendam: majulah, para petani kopi Indonesia!

Salam,
~eL

Sumber referensi:

  1. www.btpn.com
  2. www.btpnsinaya.com
  3. www.menabunguntukmemberdayakan.com
  4. Kopi Congress
  5. www.gaeik.or.id
  6. www.ico.org
  7. www.kemenperin.go.id
  8. www.bps.go.id
  9. Naskah Akademik Baperda Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, Kajian Yuridis (Prof. Dr. Koerniatmanto Soetoprawiro S.H., M.H.)

29 Comments

  1. February 17, 2016 at 4:11 pm

    Serius jadi fans beneran sekarang. Dulu selalu mau mikir kalo bikin tulisan rada berat di blog, jangan2 ga ada yang mau mampir karena sarat akan metodologi dsb. Tapi mempelajari tulisan mba Langit akhir-akhir ini, jadi percaya diri bahwa tulisan blog boleh juga loh berbobot.

    Yang terakhir tetap, tolong ajarin infografis. Next batch ke Jakarta aku beneran mau. insyaallah.

  2. February 17, 2016 at 5:05 pm

    Waahhh tulisannya panjang. Terus terang saya gak sempat baca dari awal sampai akhir. Tapi intinya saya sebagai peminum kopi “beneran” (not really into kopi sachetan yang kebanyakan gula, pake susu skim dan perasa buatan itu) setuju kita harus mendukung petani2 kopi Indonesia. Gak macam2 sih cara saya, hanya selalu beli kopi lokal di daerah2 yang saya kunjungi. Alhamdulillah, teman2 saya banyak yg aware akan kecintaan saya pada kopi Indonesia dan mereka dgn senang hati mencari dan memberi kopi khas daerah2 di Indonesia. Gara2 itu juga saya jdi tahu ada banyak daerah penghasil kopi di Indonesia meski yang terkenal hanya dari Gayo, Mandailing, Toraja, Bali, Papua atau Jawa Barat. Postingan ini juga menambah 1 lagi 'pe-er' buat saya : Harus nyoba kopi dari Tasikmalaya. Thanks..

    PS : 6-7 cangkir kopi sachetan? 2 shot espresso masih lebih sehat. Seriously. Buy grinder, french press and coffee bean, or else beli aja bubuk kopi beneran. Lebih enak.

  3. February 17, 2016 at 7:53 pm

    Aaaahhh. Brneran ngefans banget dengan gaya mbak ngeblog ini. Aku baca dari awal sampai tuntassss. Kalo buka kelas, colek-colek ya, Mbak. 😊

    Anyway, di Salatiga ada kopi khas jg, kopi Kacamata. Mau nyoba? 😁

  4. February 17, 2016 at 7:53 pm

    Aaaahhh. Brneran ngefans banget dengan gaya mbak ngeblog ini. Aku baca dari awal sampai tuntassss. Kalo buka kelas, colek-colek ya, Mbak. 😊

    Anyway, di Salatiga ada kopi khas jg, kopi Kacamata. Mau nyoba? 😁

  5. February 17, 2016 at 11:06 pm

    inget temen rumahnya juga di taraju, tapi ga cerita ttg kopi..

  6. February 17, 2016 at 11:40 pm

    Dan akupun makin ngefans padamu Teh, ayo dong buka kelas virtual, hahaha…gudlak Teteh 🙂

  7. February 18, 2016 at 12:34 am

    wah keren ini mbak, mudah2han petaninya pada baca

  8. February 18, 2016 at 12:47 am

    Untuk apa capek-capek nulis kalau tulisannya nggak berbobot? Hahahah. Aku juga lagi belajar cara mengemas tulisan bertema “berat” menjadi lebih light.

  9. February 18, 2016 at 12:50 am

    Itu dulu, sekarang lebih sering mengonsumsi kopi betulan. 😀
    Kamu harus coba kopi-kopi khas Jabar. Bukan cuma ada Java Preanger itu lho, tapi masih buanyak jenis kopi lainnya.

  10. February 18, 2016 at 12:51 am

    Tulisannya puanjang, yak? Hahahaha. Makasih lho udah baca sampai tuntas.
    Kopi Salatiga? Nah, boleh banget tuh dicoba.

Leave a Reply