Banyak malam usai dengan tubuh kita berhenti saling merapal. Ada detak yang perlahan renggas lalu kandas. Seperti lampu kamar yang kian temaram untuk kemudian padam. Barangkali juga seperti getas deras hujan yang perlahan menitis ke dalam gerimis. Meskipun begitu, tak ada satu pun metafora atau umpama yang bisa genap melukiskan apa yang sebetulnya berdebur-debur menuju hancur.

Perahu yang retak ini tetap berada di dermagamu.

Ia bersedia karam, bersedia tenggelam, dibebat dan dicegat segala macam rajam yang berasal dari buritannya. Namun engkaulah suar, cabik larik renjana ketika malam begitu gelap dalam tikam. Namun engkaulah laut itu sendiri, ketika pagi kerap disekap gelenyar nyeri.

Kunang-kunang ini akan selalu mengepak ke arahmu.

Ia berkali tumbang hingga sayapnya hengkang. Seperti Medusa yang menatap pantulan matanya sendiri. Namun engkaulah matahari, dan aku Ikarus yang senantiasa terpesona oleh bara lidah api. Namun engkaulah kerlip, sehingga pendarku tak akan memiliki nama tanpa kau eja.

Aku pernah bercerita bahwa riwayatku sedemikian jengat. Aku juga pernah berkisah bahwa sejarahku sepenuhnya berisi sampah serapah. Dan engkau, dengan retih yang sama merangkul tubuhku yang ringkih letih.

2 Comments

  1. July 31, 2012 at 6:32 am

    nice post 🙂

  2. Skylashtar-Reply
    August 7, 2012 at 3:19 am

    Terima kasih ^^

Leave a Reply