Mari Merayakan Desember

Untuk segala bangkai perayaan dan cacat riwayat, mari menari dan tertawa. Mabuklah beserta mereka yang mabuk. Teguklah arak-arak yang terberai dari tanggal-tanggal di dalam kalender. Tanggal dan jam yang di dalamnya kau menjadi bebal dan bual. Tanggal dan jam yang di dalamnya kau menyimpan segala amsal sesal.
Tidak ada yang patut dirayakan dari sebuah ketololan sebetulnya, terlebih jika itu adalah kematian kepala-kepala yang di dalamnya tak memiliki jiwa, bahkan hanya untuk mencari dan mengubur diri mereka sendiri. Namun entah kenapa, engkau selalu menolak untuk mengubur atau mentongsampahkan karena persis seperti katamu; yang kekal hanyalah penggal senggal.
Masih ada sisa tuak di dalam botol, tepat di meja samping jendela. Minumlah! Mabuk –lagi- lah! Biar aku lihat bagaimana kau kembali liar sempoyongan mencari pegangan, atau roboh ke ranah tempuhan. Biar mulutmu kembali berbuih, berbusa-busa merapal satu nama, satu wajah, satu siksa; angkara. NERAKA!

“Kenapa ada tuak di kamarku?” hardikmu. Mungkin pura-pura. Memang cuma pura-pura.

“Masih ada sisa setengah botol, sudah bertahun kau simpan,” kataku.
“Tidak mungkin, mana mungkin aku menyimpan benda terkutuk semacam itu?” kau semakin berpura-pura.
Ha ha ha! Iya, iya. Mari tertawa, mari menari. Mari menikam imaji di kepala sendiri. Kepalaku yang berduri, atau kau yang rajin menyimpan nyeri?
Maka demi abadinya genang kenang, demi ketakrelaanmu kembali sadar dari mabuk menahunmu, ayo kita rayakan. Mari bersulang untuk waktu-waktu yang tak pernah terkekang dari uar memoar. Mari bersulang untuk apapun yang masih kau simpan.
Simpanlah botol-botol itu agar kau bisa tetap mabuk dari tahun ke tahun, dari tahun ke tahun lagi, dari tahun lagi ke tahun lagi. Begitu seterusnya sampai otakmu tercerahkan. Atau sampai dadamu terpecahkan; apapun teka-teki yang dirajahkan waktu di punggungku.
(Persetan dengan riwayat lebam yang kau tuhankan!)

Leave a Reply