MATA HUJAN MATA


Matamu yang pasi berjalan

gontai pada arsiran hujan,

rintik yang selalu

bermusuhan dengan detik;

salng membunuh, saling mencaci


Secangkir kopi kini merayap

ke sela-sela retinamu

yang nyaris buta,

karena masa memiliki aksara

yang tak akan sanggup kau eja


Hanya menua digilasi

prasangka


Lamur matamu berjamur kutukan-kutukan cermin,

dengan aku selalu memantul pada pupil

dengan matamu yang selalu berair


(Kamar mandi, 25 Maret 2011)

Leave a Reply