Matinya Kata Pulang

:Rumah

Itu derak siapa? Berteriak dari arah pintu menuju atap dan sebentar mampir di jendela-jendela kecil yang kian terasa buram dan muram? Ketika satu per satu ubin-ubin itu saling mencela dan menyiksa para telinga, suara seketika mati dan berubah jadi pepisau caci. Di mana para manusia penghuni? Apakah telah ikut mati? Mengalungkan tali di leher sendiri.

Setapak menujumu sudah berubah sedemikian terjal, nyaris di luar akal. Kau pun berhias dengan seluruh prahara sehingga tubuhmu berkabut, berselimut kemelut. Tak ada yang lebih meyiksa kecuali berada di dalam tubuhmu dan kembali memamah luka-luka; luka yang tak pernah sekalipun rela untuk sirna.

Ketahuilah bahwa aku adalah musafir sejak lahir, dan engkau satu-satunya tempat yang kuanggap pantas untuk merebah, sejenak beristirahat dari dunia, dari banyak suara. Tapi apa yang kudapatkan kecuali -sekali lagi- luka yang lain, kesakitan yang lain. Ijinkan aku menikammu, agar genap kau mati di tanganku. Agar ketika orang-orang bertanya ‘di mana rumahmu?’, aku bisa menjawabnya dengan dagu terangkat dan bibir tercekat: RUMAHKU MATI DITIKAM TANGANKU SENDIRI.

Leave a Reply