MEA, Tidak Ada Tempat untuk Para Profesional Manja


Ada yang sudah pernah membaca buku Megatrends 2000 karya John Naisbitt? John Naisbitt adalah Nostradamus-nya perekonomian dunia. Saya membacanya tahun 1999 dan satu per satu ramalannya menjadi kenyataan, termasuk Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sedang happening sekarang ini. 

Apa sih MEA ini? MEA adalah sistem perdagangan bebas atau free trade di antara negara-negara ASEAN, Indonesia tentu saja termasuk. Salah satu tujuan MEA adalah untuk mendorong kemajuan ekonomi negara-negara ASEAN. Yang “diperdagangkan” tentu saja bukan hanya barang dan jasa, tapi juga tenaga kerja. 

Ngomong-ngomong soal tenaga kerja, isu perburuhan memang selalu seksi dari tahun ke tahun, sayangnya kita tidak akan membahas itu kali ini karena cakupannya luas sekali. Lagi pula, saya sudah kenyang dengan isu persaingan SDM Vietnam dengan Indonesia sejak beberapa tahun lalu. Kali ini saya hanya akan membahas bagaimana saya pribadi mempersiapkan diri untuk menyambut MEA yang sudah di ambang pintu. 

Saat ini saya memiliki beberapa profesi sekaligus. Cerpenis, blogger, desainer, dan wirausahawan. Apakah keempat profesi ini punya kans untuk go international? Tentu saja. Toh sebelum ada MEA pun penulis, blogger, dan para desainer Indonesia sudah bersaing di kancah dunia, kok. 

Menurut berita yang saya baca di berbagai media, Presiden Jokowi tidak akan “memanjakan” SDM Indonesia dengan mengadakan subsidi atau hal-hal semacam itu. Memang, akan ada deregulasi, tapi tetap saja masyarakat Indonesia harus mandiri. 

Ada beberapa poin yang saya persiapkan:


1. Serve Better

Poin pertama ini adalah poin “sumbangan” dari si Akang. Da aku mah apa atuh, apa-apa teh nanya mulu sama dia. Hahaha. Tapi dia memang benar, yang harus pertama kali ditanamkan oleh berbagai profesi adalah “how to serve public” karena serve better will produce comfort feeling. Kustomer yang merasa nyaman dengan pelayanan kita akan serta-merta menjadi media promosi. Imbasnya adalah keuntungan bagi kita juga, bukan?

Keempat profesi saya ini 70%-nya bergerak di bidang jasa. Yang dijual bukan hanya keahlian, tapi juga rasa nyaman. And then, saya membuat janji terhadap diri sendiri dalam rangka serve better: 

  • Memperbaiki komunikasi 
  • Fokus kepada kebutuhan kustomer, bukan kepada bujet
  • Menjadi teman, bukan hanya konsultan
  • Tidak arogan

2. Ide

Saya jadi ingat diskusi saya dengan (lagi-lagi) si Akang pada suatu malam ketika saya mengatakan akan membuka lini usaha baru. Tadinya saya pikir ide saya itu sangat brilian karena pelaku bisnis tersebut belum banyak di Bandung, tapi apa yang dia katakan? 

“Neng, logika bisnis hanya karena kelangkaan itu berbahaya. Plagiator bisnis itu bejibun, ada kok kajian antropologisnya. Kamu tidak ahli kan di bidang ini? Kalau tidak memiliki ide baru, maka berbisnislah dengan skill yang kamu kuasai.”


Mungkin itu yang membuat saya mencintainya, selain punya jenggot mendebarkan, cerdasnya itu lho setengah mati. Lho kok jadi curhat? Well, yang ingin saya katakan di poin ini adalah bahwa MEA bagi saya tidak lagi tentang barang, jasa, atau tenaga kerja, melainkan tentang ide. Contoh konkretnya banyak, kan? Go-Jek salah satunya. 

Jadi, saya sih menabung ide saja dulu sebelum memutuskan untuk membuka usaha baru yang bertaraf internasional.

3. Bahasa

Hambatan paling besar yang sering dialami kita orang Indonesia adalah bahasa. Bertahun-tahun saya bekerja di perusahaan multinasional dan memiliki atasan yang native berbahasa Inggris dan Mandarin. Iya, selama bertahun-tahun itu pula saya “terpaksa” berbahasa Inggris. Sayangngnya karena sering tidak dipakai, kemampuan berbahasa saya hilang dengan sendirinya. 

Ada juga pengalaman menarik. Ketika menjadi salah satu penulis yang diundang ke Ubud Writers and Readers Festival tahun 2013 silam, seingat saya hanya 2 orang penulis yang bisa berbahasa Inggris, yang lainnya harus menggunakan enterpreteur ketika berbicara di panel. Bagaimana para penulis Indonesia bisa go international kalau gagap bahasa begini?

Nah, sejak beberapa bulan lalu saya mulai lagi belajar bahasa Inggris. Mungkin nanti harus meningkat ke Mandarin, karena seperti kata John Naisbitt, bahasa Mandarin akan menjadi bahasa internasional. Dia terbukti benar. 

4. Digitalisasi

Internet adalah harga pasti. Dunia digital bukan lagi cerita di film-film, tapi di depan mata kita. Hingga saat ini, jumlah pengguna Internet di Indonesia menduduki peringkat keempat di Asia. Ada 78 juta pengguna, 78 juta pasar potensial. Itu baru di Indonesia, belum ASEAN. Mau jadi apa kalau saya masih berkutat di media konvensional? Demo dan menuntut economy sharing? #Eh

5. Knowledge

Kenapa MEA masih dianggap sebagai ancaman? Bukan karena keahlian SDM kita tidak memadai, tapi karena ketidakpahaman. Jadinya seperti berjalan di kamar gelap, kita hanya menakuti hal-hal yang ada di kepala kita. Sama seperti ketika Free Trade Zone (FTZ) mulai diberlakukan di Batam dulu, rempong-nya minta ampun dari mulai para pengusaha sampai pemerintah. Regulasi ekspor impor aja diganti 3 bulan sekali. Apa nggak gila? 

Jadi ya saya mah santai aja, ngapain takut? Toh, rezeki sudah diatur oleh Tuhan. (Ngomong apa sih lu, Chan?) Oke, begini. Terus terang, bagi saya MEA adalah hal baru. Banyak hal yang tidak saya tahu. Karena tidak tahu itulah, saya jadi banyak membaca kembali juga banyak berdiskusi, mencari tahu agar punya bekal cukup untuk menghadapi MEA. 

6. Skill

Ini poin yang sering dibahas. Konon, SDM Indonesia kalah oleh Vietnam. Di sana SDM lebih murah tapi lebih berkualitas. SDM di sini kualitas segitu-gitunya karena keseringan demo buruh. #Eh

Tapi sebetulnya nggak, kok. Mau contoh? Mr. Habibie adalah contoh riil SDM Indonesia. Insinyur-insinyur lulusan ITB banyak kok yang jadi ekspatriat di luar negeri. Yang harus saya, Anda, kita, tekankan adalah bagaimana cara meningkatkan skill, income itu urusan belakangan. 

Dalam masalah ini saya berkaca kepada kisah saya sendiri ketika menjadi shipping officer di Batam dulu. Saya satu-satunya shipping officer lulusan SMK di dalam tim, gaji tiga bulan pertama saya hanya UMK. Selama tiga bulan itu saya mempelajari seluk-beluk ekspor-impor dari mulai dokumen, bagaimana berurusan dengan bea cukai, bagaimana komunikasi bisnis dengan klien, bagaimana cara berurusan dengan BP Batam, dan lain-lain. 

Hasilnya? Setelah tiga bulan, atasan sekaligus owner perusahaan mengatakan kalimat yang mungkin ingin didengar semua pegawai, “Susan, kamu mau gaji berapa?”

Jadi meningkatkan skill adalah sebuah keharusan, bukan lagi pilihan. Ada beberapa poin yang menjadi goal saya tahun ini:
  • Cerpenis: mempelajari karya sastra pemenang nobel dan membuat cerpen-cerpen rasa lokal kualitas internasional.
  • Blogger: teknik dan nonteknik. 
  • Desainer: mempelajari software baru (Adobe Dreamveaver, Adobe Muse), keahlian baru (desain produk, website, coding) 
  • Wirausahawan: mengikuti berbagai pelatihan yang diadakan oleh pemerintah dan menabung ide.

IMHO, dengan iklim persaingan seperti ini, tidak tersedia tempat untuk mereka para profesional manja. Tidak ada tempat untuk para cerpenis yang hanya karena dikritisi tentang ejaan lalu ngambekan. Tidak ada tempat untuk para blogger yang hanya karena yang lain bisa infografis sedangkan dia tidak lalu nyinyir di medsos, bukannya belajar. Tidak ada tempat untuk para desainer yang lebih suka banting-banting tarif desain daripada mengedukasi klien. 

Well, saya kira hanya 6 poin itulah yang saya persiapkan saat ini, mungkin besok-besok bisa bertambah. Yang penting, saya siap bersaing di kancah MEA. Anda? 

Salam,
~eL

40 Comments

  1. March 28, 2016 at 4:40 pm

    Tips na ku sayah di-bookmark ah. Meni mantep kieu 😀

  2. March 28, 2016 at 4:54 pm

    Memangnya jenggot si akang kayak gimana sih ? Poto, mana poto ? Eh ini bahas MEA ya ?

  3. March 28, 2016 at 5:09 pm

    Sebentar, aku juga harus baca dulu tip-tip dari bloher internasional. 😀

  4. March 28, 2016 at 5:10 pm

    Teh, fokus, Teeehhhh. Hahaha.

  5. March 28, 2016 at 11:05 pm

    Sepaka Mbak
    kita musti petarung
    kalau manja akan kalah
    salam sukses

  6. March 29, 2016 at 12:27 am

    Seperti biasa ini keren teh. Setuju juga sama si akang. Wirausaha karena kelangkaan tanpa bisnis plan tetep aja g akan maju. Hidup Akang….#eh

  7. March 29, 2016 at 2:21 am

    Sayang banget ya, misal uda diundang ke acara bertaraf internasional gitu kendala bahasa masih menjadi hambatan. Padahal kan kesempatan emas.

    Ulasannya menarik mba ^^

  8. March 29, 2016 at 2:53 am

    Bernas!
    Tapi ada poin yg bikin ngikik jg. 😀

  9. March 29, 2016 at 4:26 am

    Aku save yaa Teh… manfaat banget ini…

  10. March 29, 2016 at 4:58 am

    goal yg dicanangkan tahun ini keren mbak 🙂
    semoga bisa terwujud ya

Leave a Reply