Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) adalah kemampuan teknis yang harus dimiliki oleh setiap penulis. Kenapa aku bilang harus? Karena dalam menulis, kita akan berhubungan dengan pihak-pihak lain semacam editor, layouter, penerbit, media massa, kritikus sastra, dan lain-lain. EYD menjadi semacam etika ketika kita bermasyarakat, maka patuhilah etika setempat.
Ada penulis yang menganggap bahwa esensi dan konten tulisan lebih penting daripada ejaan sehingga ia tidak mengindahkan semua aturan. Menulis serampangan, tabrak sana, tabrak sini. Ini perilaku penulis arogan dan aku jamin tidak akan survive. Memang, esensi itu penting, tetapi kemasan juga penting. Analoginya begini, jika kamu diberi coklat berbentuk hati tapi dibungkus dengan daun pisang atau kertas koran, apakah kamu akan tergiur untuk memakan coklat itu meskipun aromanya begitu enak? Tulisan juga seperti itu, sebagus apapun cerita kamu tapi jika ejaanmu mengenaskan dan nyaris membuat editormu bunuh diri. Believe me, tulisanmu akan segera ditongsampahkan.
Selain penulis arogan, ada juga tipe penulis yang (sok) unyu-nyu dan memasang dalih penulis pemula hanya untuk mengelak dari tanggung jawab moral (halah!), tapi ketika dilihat lagi di tulisan berikutnya, tulisannya tidak mengalami peningkatan. Ini tipe penulis yang tidak mau belajar dan bekerja keras.
EYD, seperti halnya semua regulasi di Indonesia selalu saja mengalami perkembangan. Pantau perkembangan EYD dengan cara sering-sering browsing dan mencari info. Buku panduan EYD itu semacam primbon wajib bagi penulis. Belilah satu, harganya paling mahal hanya 35ribu rupiah, kok. Tidak akan membuat kamu miskin seketika. Malas beli buku? Oh come,on. Sudah banyak panduan ejaan bertebaran di dunia maya, dari yang situs resmi EYD sampai yang abal-abal.
Kemampuan teknis yang baik akan menguntungkan semua pihak baik itu penulis maupun editor. Tidak ada salahnya menjadi profesional dalam segala bidang, maka jadilah penulis yang profesional.

Leave a Reply